Katanya Itu Puisi

Aksara manis, bait indah dan guratan tinta, katanya itu puisi.

Advertisement

Yang berlagu sebab setitik rasa yang dihempas kemana-mana.

Jika aku dapat mengukir nama tercinta, katanya itu puisi.

Yang merombak hari biru menjadi hangat jingga tanpa kelabu.

Advertisement

Yang selalu percaya bahwa uraian air mata tak dapat menegaskan sedihnya, dan lengkung senyum tak dapat menceritakan bahagianya.
Katanya memang puisi.

Di mana sorot mata membutuhkan kata agar terucap cinta.

Degup jantung membutuhkan irama untuk meredam gundahnya.

Dan rasa yang tak biasa mencari pena untuk menyusun rahasia.

Bila benar katanya itu puisi, aku adalah yang paling lambat untuk mengerti.

Paling lama untuk mencari dan paling sibuk di antara sejuta hati yang sendiri.

Sebab tak ada bahasa cinta yang mampu kupahami, penyampaian kasih yang amat sejati dan ketulusan yang menembus sanubari.

Bila bukan lantaran dirimu, karena yang kumau . . .

Puisi adalah kamu.

Puisi Adalah Kamu

Biar kamu dan betul kamu puisiku.

Sebab kertas meninggalkanku dengan menjadi usang dan terbang.

Memori turut menua dan menghilang.

Sementara barisan kata tercecer di antara masa lalu binasa.

Aku tak mau puisi itu, karena ia menipu dengan lagak yang manis lalu habis dan aku menangis.

Sedang kamu adalah bagian utuh yang tetapkan hatiku dalam tenang.

Yang senantiasa berkata meski sepanjang waktu merentang.

Aku akan tiada atau merasa fakir karena kita tak bersama.

Namun sejak kupastikan kamu puisiku biarkan anak cucu menjadi sajak yang baru.

Yang tertawa pada siang yang riang lalu berdo’a di tengah petang yang rindang.

By : Rizza Azizah

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya