#PuisiHipwee; Temu, Lika-Liku, dan Kisah Sebelum Pulang

Mengisahkan pertemuan, perjalanan, dan pulang


Air Mata di Jalan Pulang 


Advertisement

Sebuah jawaban yang tidak sepenuhnya benar

Mengatasi kerinduan dengan bertemu 

Aku kecewa dengan pertemuan yang tidak mengatasnamakan kita padahal ada banyak cerita yang ingin kubagi atas nama "kita" 

Advertisement

Di atas bus yang membawa langkah beratku setelah beri salam pisah lagi denganmu itu 

Tentu saja aku menangis! 

Advertisement

 

Di matamu, aku perempuan kuat – masih seperti itu; iya? 

Air mata cuma hiasan?

Menggenang tanpa bisa diteteskan cuma di hadapmu

Kamu berpikir aku akan cepat baik-baik saja, bukan? 

Tapi memang iya, aku menelan terima dengan lugas – mengikhlas 

 

Aku menyesal dengan temu yang kamu ingin tapi aku yang perbuat 

Merusuh pikirku, ternyata katamu merusuh lebih padamu

Lagi aku yang mengalah

Padahal pada temu itu aku tak sama sekali membuat percakapan denganmu, bukan? 

Bagaimana bisa kupingku yang sedang sakit menyaksikan kamu pergi padahal tanpa mendengar? 

Oh, nyatanya bisa 

Air mata membuat aliran yang deras dan membuatku mengantuk di atas bus yang bawaku pulang

Sampai rumah 

Kupastikan jari-jariku memberitahumu 

Aku pun mengharap kamu jadi 'baik' 

Meski di antara temu dan pulang ada air mata lagi yang kuhapus kenang atas peristiwa

 

(Bus Ekonomi Jaya – Seperempat Jalan Menuju Pulang: Hanya Melihat Kekhawatiran di Ujung Temu Denganmu)

 


Burung yang Kembali ke Sarang


 

Burung-burung kembali ke sarangnya

Mereka telah penuh mengisi perut kosong bayi-bayi burung yang baru saja menetas 

Meski demikian, pada tiap detik kepakan kecil sayapnya 

Mereka tak henti mengucap syukur atas segala hal yang diatur Tuhannya 

 

Langit yang cerah ialah keberuntungan yang mereka harap tiap sempat 

Supaya pekerjaan saling menolong dapat terlaksana dengan baik dan selalu siap 

Sehingga hanya terungkap bahagia saat kembali ke sarang yang sengaja bebas mereka buat

 


Kita tanpa "Kita"


Ada dinding-dinding pembatas tak kasat mata bernama kita

Berebut tanpa ada perlu diperebutkan

Aku yang disebut aku berhenti

Lalu menjulangkan jari tengah sebagai perlakuan yang paling gampang dilakukan

Ngeri, kita sama begidik 

 

Tapi kamu yang sangat kamu maju-mundur tak henti 

 

Kita lari-lari

Menerjang yang katanya segala hal padahal, baru diberi tahu Tuhan itu sama dengan setitik embun pada daun 

Kita maki-memaki 

Seolah lihai dalam hal ini – alam yang sekarat menyerapahi lebih 

Katanya: kita tak tahu diri  

-memang kalau tentang ini

 

Sedikit aku, sedikit kamu 

Bumbu tanpa kita di antara kita ialah sadar keterbukaan dan keterbentukan tembok-tembok yang sedang terbangun mulai dari awal sebelum kita jadi jarang terlihat

Aku jadi menemukan ilhamku tanpa kita 

Mungkin kamu yang sangat kamu pun demikian tanpa kita 

 

: batu telah terlempar dan tak akan bisa kembali

Pasir pantai telah bersih di ujung-ujung kaki yang jua sedikit luka diantaranya terkena air asin

Begitu binar renjana kita redup 

Aku dan kamu memastikan kita tak sempat lagi menanggung keberlanjutan – meski kala – kala – la : hilang bak tiupan geli angin

 

Upaya jadi sedih, meski ia menyimpan baik atas dirinya

Cinta jadi sedih juga, meski ia selalu menyertai, tak pergi hanya ikut waktu kita masih lari-lari 

Apa mungkin dinding bernama kita yang tak kasat mata itu roboh sehingga membiarkan aku dan kamu menanggung keberlanjutan? – tanya tanpa kita di ujung lorong keajaiban kita

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Suka menulis, membaca, berkebun, dan beres-beres.

CLOSE