Tanya Bandung

Ada banyak tanya yang hanya diam di dalam kepalaku dan kusembunyikan di balik dada.
Sesak kemudian yang menyiksa akan lekas hilang saat hela nafas pelan-pelan kembali ku atur.
Meski kadang penglihatanku ikut kabur karena sesuatu berdiri di pelupuk mata, semua tanya selalu berhasil kukubur sampai aku kembali di pukul.
Sebenarnya mungkin tak banyak, tapi ribuan kali ku ulang di kepala, ribuan kali juga ku tenggelamkan, aku tak lagi tau beda tanya yang satu dengan lainnya.
Bandung,
Kau adalah mula dari semua kisah yang kemudian membawa aku ke dalamnya.
Foto-foto lama penuh tawa pernah diabadikan di jantung kotamu, hangatnya peluk, hiruk yang di gemari, bau hujan dan tangan yang saling genggam mengkristal dalam ingatanku.
Tapi Bandung,
Kau juga akhir, dari semua cerita yang aku syukuri. Akhir yang membawa pilu dan mencuri semua warna. Tubuhku pernah menggigil karena perih di ujung malam heningmu, hingga kuputuskan untuk lari dengan kaki penuh luka. Kutinggalkan kau dengan segala yang kucintai darimu.
Yang kini tak pernah berhenti ku banggakan, juga kusesali.
Bandung…
Andai saat itu aku menangis kencang dan tak berpura-pura tabah, akankah aku di dengar?

Advertisement

Mungkin kini tak satu suaraku pun yang kan terabai.
Bandung…
Andai saat itu aku meminta dan tak bertingkah pasrah, akankah diiyakan? Mungkin kini aku tak kan bingung harus meminta pertolongan pada siapa.
Bandung…
Andai aku bertingkah seperti anak kecil kebanyakan dan tak sok dewasa, akankah mereka luluh? Mungkin kini aku tak kan separah ini merindukan masa kecil.

Bandung…
Itu baru tiga, dari ribuan tanya yang tak henti muncul dan hilang di dalam sini (kepalaku)

Bandung Bagiku

Advertisement

Arti Bandung bagiku tidak pernah berubah.
Hiruk pikuk dan segala hal yang kau keluhkan, tak membuatnya menjadi asing di mataku.
Bandung masih menjadi pengingat…
Pada lampu-lampu yang terang dan redup, pada harapan-harapan yang juga begitu.
Pada jalan-jalan panjang yang mendekatkan dan menjauhkan.
Pada kepulangan yang selalu aku rindukan, juga kerinduan yang katanya selalu punya jalan pulang.
Bandung adalah rumah yang jauh kutinggalkan, tapi juga yang tak dapat tak kukunjungi.
Bahkan penolakannya justru membawaku kembali.
Bandung adalah luka, juga serpihan kenangan manis yang rasanya kadang berubah pahit.
Tak ada yang dapat mengubahnya.
Yang dapat kulakukan adalah menambah catatan baik untuk diingat,
Seperti gula-gula,
Segarnya strawberry,
Hangatnya bandrek,
Coklat panas,
Juga banyak rangkaian senyum.
Untuk memperbaiki rasa Bandung saat kelak kucicipi kembali.

Tsuraya Khoirunnisa, @tsurayatsuraya

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya