Pujian Berlebihan Pada Anak Dapat Sebabkan Golden Child Syndrom

Hati-hati! Nyatanya memberi pujian pada anak juga harus ada aturannya.

Anak adalah tabula rasa, dan orang tua merupakan kunci utama yang membentuk kepribadian anak. Anak tumbuh menjadi pribadi yang baik atau tidak, semua bergantung pada pola asuh orang tua mereka. Bagaimana orang tua memberi stimulus untuk  tugas-tugas perkembangannya, bagaimana orangtua memperkenalkan segala hal tentang dunia, dan bagaimana orangtua menyeimbangkan antara pemberian reward dan punishment. 

Advertisement

Saat ini banyak orang tua yang paham betul bahwa memberi punishment (hukuman) pada anak bukanlah hal yang efektif dalam pengasuhan.  Memberi reward atau hadiah justru dianggap lebih efektif agar anak tahu, bahwa mereka dicintai oleh orangtua mereka dan akan berlaku sesuai kehendak orang tua. Reward tidak selamanya menyangkut materi, tak jarang orang tua mengapresiasi anak dengan memberi pujian. Namun, ternyata memuji anak secara berlebihan, juga bukan tindakan yang tepat.

Sekilas mungkin tidak ada yang salah dengan pujian-pujian seperti "kamu anak yang cerdas, ibu yakin kamu bisa melakukan yang lebih dari ini" atau pujian sejenis "kamu anak yang baik, jadi kenapa kamu melakukan hal itu?" Dan pujian-pujian sejenisnya. Sekilas mungkin terdengar sebagai bentuk apresiasi, namun lain halnya apabila sering diucapkan bahkan ketika anak melakukan kesalahan. Pada dasarnya isi dari pujian itu mengisyaratkan agar anak melakukan hal yang lebih baik lagi, hal yang sesuai dengan ekspektasi orang tuanya. Secara tidak langsung orang tua dapat memanipulasi anaknya, memaksa agar anak melakukan sesuatu sesuai kehendak orang tua, namun dengan cara tersirat. 

Mendapat banyak pujian tidak menjamin anak merasa bahagia. Justru psikis anak dapat terguncang. Dicekoki dengan ekspektasi yang diluar kemampuan sang anak dapat menyebabkan anak terus mencari cara agar lebih unggul daripada yang lainnya, misal lebih unggul dari saudara atau teman sebaya. Entah itu di bidang akademik, non akademik bahkan pada hal-hal sepele lainnya. Kemudian anak bisa saja menjadi kesulitan dalam membedakan yang benar dengan yang salah, merasa paling benar dan paling unggul, serta selalu ingin menjadi pusat perhatian. Seakan-akan jika tidak melakukan hal tersebut, ia tidak akan memperoleh cinta dari orangtua dan lingkungannya. Fenomena ini disebut dengan istilah "Golden Child Syndrom"

Advertisement

Hingga saat ini tidak banyak orang tua yang memahami fenomena ini. Kebanyakan orang tua tidak menyadari akibat dari pola asuh mereka. Mereka tidak sadar bahwa psikis anak bisa terguncang bukan karena diabaikan atau diperlakukan tidak baik saja, namun juga karena wujud cinta yang berlebihan. Orang tua harus kembali memperhatikan pola asuh mereka, cintailah anak sewajarnya.

Hadiah dan pujian dapat diberi sebagai wujud cinta kasih, namun harus memperhatikan waktu dan tempat, serta alasan dari pemberian reward tersebut. Bersikap tegas pada anak juga terkadang diperlukan apabila mereka melakukan kesalahan. Selain itu, orang tua juga harus menerima dan menyadari kelebihan serta kekurangan sang anak. Pola asuh yang salah ini, apabila terus berlanjut, bukan anak saja, orang tua juga akan menerima dampak buruknya

Advertisement

Sumber Referensi: Barnes, Stephanie.(2021,1 September). Golden ChildSyndrom: The Physcology Behind It and Its Effects In Adulthood. mbgmindfulness Fatih, Afifah Nuralayda. (2022,26 April). Golden Child Syndrom: Benarkah Pujian Berlebihan pada Anak Dapat Menumbuhkan Tekanan dan Pribadi Narsistik?. Psikologi UNNES.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswa aktif Universitas Syah Kuala.