Memaknai keluarga sebagai tempat kembali dari penatnya mengejar ambisi. Seiring manusia tumbuh dewasa, keluarga bukan lagi agen sosial utama. Kita tumbuh dengan melihat tempat-tempat menakjubkan, mengenal orang-orang dengan pemikiran baru dan mimpi-mimpi yang menyilaukan mata. Tanpa disadari, seringkali kita lupa tentang keberadaan keluarga sebagai tempat pertama kita mengenal dunia.

Kapan terakhir kalinya memberi kabar pada keluarga, tanpa ditanya terlebih dulu? Setidaknya bagi perantau, entah yang menuntut ilmu ataupun bekerja, keluarga menjadi tempat pulang ketika hari besar keagamaan datang. Hari raya adalah anugerah yang menyatukan mata-mata yang jarang sekali menatap.

Advertisement

Hari raya adalah karunia yang menghubungkan mulut dan telinga untuk saling bercerita dan mendengar. Serta hari raya sebenar-benarnya hari yang tepat untuk beristirahat dari hingar bingarnya dunia orang-orang dewasa. Saya salah satu dari sebagian mereka yang suka luput memberi kabar. Merantau ke kota istimewa, Jogja, membuat saya terlampau nyaman dan enggan pulang meskipun ada hari libur.

Jarak kota asal ke Yogyakarta tidaklah terlampau jauh yang menghabiskan uang dalam perjalanannya. Hanya sekitaran tiga jam ditempuh dengan sepeda motor. Namun saya tidak memiliki iktikad pulang untuk menemui keluarga saya di rumah. Seperti halnya lainnya, saya nyaman dengan kesibukan mengejar ambisi-ambisi di kota ini, melupakan sejenak rumah saya yang disebut keluarga.

Sejujurnya bukan hanya perkara lupa, manusia dewasa kerap terlibat konflik dengan orang-orang yang disayanginya. Tak jarang kita menghindar pulang hanya karena tidak ingin ditegur cara berpakaiannya, sopan santunnya dan sebagainya.

Advertisement

Anak dan orang tua terjebak pada generasi berbeda. Pergeseran pemikiran berdasar nilai dan norma mengakibatkan banyak perdebatan diantara mereka. Sebagai anak, kita tidak terbiasa melakukan hal yang disebut kuno. Kita bertemu banyak orang baru dan memiliki pikiran terbuka. Sebaliknya, kebanyakan orang tua kita yang berbeda generasi menganggap pikiran terbuka awal dari hancurnya negeri ini. Terlalu liberal saja, sudah bisa membuat mereka menasehati kita dengan diselingi sejarah negeri ini.

Padahal sejatinya kita sebagai anak, bisa berteman baik dengan orang tua. Kita bisa berdamai dengan tetap menganggapnya sebagai tempat berbagi. Tak jarang, sebenarnya kita hanya malas menjelaskan dan keukeuh dengan pendapat tanpa argumen yang jelas.

Tanpa momentum hari raya, seharusnya kita tidak melupakan keluarga sebagai rumah kita. Satu yang membuat saya rindu dengan keluarga adalah Malioboro. Entah kenapa, melihat orang lain menyambangi ikon kota Jogja itu bersama keluarganya membuat rindu ini muncul ke permukaan. Ada anak kecil bersama orang tuanya, membuat saya melankolis mengenang masa-masa kecil saya.

Rasanya hanya ingatan dan kenangan masa kecil yang mampu melahirkan kedekatan meski jarak membentang. Abaikan dulu tentang egoisme mengejar ambisi dunia yang sementara, kalahkan dulu perdebatan mengenai modernitas dan liberal yang didapatkan di perantauan.

Pulanglah dan peluklah keluarga, kembalilah ke rumah. Mengenang hari di masa lalu, sembari pelan menceritakan rencana di masa depan. Duduk bersama di sore hari dengan teh dan biskuit kelapa, selamat merayakan hari keluarga!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya