Rasa Bosan Selama Pandemic Berpengaruh Baik Bagi Hubungan dan Psikologi Individual

Masa pandemi terdapat banyak hal yang terkadang menjadi masalah tersendiri bagi masyarakat

Selama masa pandemic covid-19 terdapat banyak hal yang terkadang menjadi masalah tersendiri bagi masyrakat Indonesia, lingkup permasalahan berkisar antara penurunan aktivitas pendidikan, pekerjaan, hingga pembatasan ruang gerak bagi masyarakat. Hal tersebut  merupakan inisiatif pemerintah Indonesia  yang  mulai memberlakukan kebijakan pembelajaran/pendidikan di rumah  baik pada tingakatan sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pekerjaan kantoran pun mulai dilakukan dari rumah atau yang sering disebut dengan istilah WFH (work from home). Berbagai aktivitas yang bersifat perkumpulan ditiadakan serta diberlakukannya kebijikan lockdown atau pembatasan pergerakan penduduk dalam suatu wilayah ( termasuk menutup akses masuk dan keluar wilayah) dengan maksud menjaga masyarakat dari penularan wabah covid-19.

Hal yang ingin saya kemukakan dalam hal ini adalah kita lebih berfokus pada pembahasan salah satu sisi positif dari diberlakukannya Lockdown dan pengaruh baiknya terhadap hubungan  antar sesama dan diri sendiri. Perlu kita ketahui bersama bahwa pembatasan ini dapat menimbulkan rasa bosan  dan  rasa rindu  yang bercampur aduk pada seseorang, yang biasanya dapat dengan mudah mengunjungi  keluarga dikampung kini hanya dapat melihat didalam layar kaca ukuran persegi. Handphone. Ditambahkan bahwa niat dan tujuan mereka dalam mengunjungi kampung halaman ialah untuk melepas segala unek-unek dan kelelahan karena telah berusah keras untuk  belajar dan bekerja di paruh waktu. Namun hal ini tentunya sangatlah berbeda dengan sekarang ini yang semua serba terbatas.

Rasa bosan sendiri memiliki arti sikap yang tidak menyukai suatu hal karena terlalu sering dilakukan atau terlalu banyak pekerjaan yang dibebankan. Kebosanan sendiri bisa timbul karena “situasi lingkungan (state) yang tidak menarik, cenderung monoton, dan tidak termotivasi, atau juga karena pembawaan (trait) dari individu itu sendiri yang mudah bosan terhadap suatu situasi, meskipun situasi tersebut bagi orang lain menyenangkan atau biasa saja” (Hawkins, Heffernan, & Baker). 

Sedangkan rindu sendiri memiliki arti  ungkapan perasaan dimana kita menginginkan sesuatu atau menginginkan seseorang dengan bentuk sebuah harapan. Bisa jadi rindu dilakukan pada benda yang ada atau tidak ada dan bisa jadi rindu dirasakan pada orang yang masih ada atau tidak ada, sebagai efek dari memori yang pernah anda buat dengan objek rindu tersebut. Kedua hal tersebut sangatlah berhubungan, mengapa? Dikarenakan rasa bosan biasanya akan terjadi apabila suatu hal yang sudah biasa  dilakukan atau sudah menjadi general bagi diri seseorang maka, orang tersebut cendurung akan meninggalkannya.

Misalnya kedua pasangan laki-laki dan perempuan yang telah saling menikah pada awalnya mereka sangatlah antusias terhadap sesama. Namun lambat laun diantara kedua pasangan tersebut tentunya akan mengalami titik jenuh atau kebosaan satu sama lain, dan berusaha sejenak untuk menenangkan diri. Di sinilah rasa rindu akan pengalaman-pengalaman yang telah ditinggalkan atau berkesan selama proses hubungan  akan muncul kembali yang ditandai dengan mengingat kembali kejadian melalui perantara foto atau sesuatu benda yang menjadi ciri khas.

Hal ini bisa dilihat pada sebuah penelitian yang melakukan pengamatan pada tiga kelompok, pasangan yang baru menjalani hubungan selama enam bulan, pasangan yang sudah berjalan selama setahun atau lebih, dan mereka yang single. Hasilnya, mereka yang berada di fase awal penuh gairah itu memiliki level protein bernama Nerve Growth Factor (NFG) melonjak drastis. Namun pada pasangan yang sudah menjalin hubungan dalam jangka waktu lama, level NFG justru kembali seperti semula, seperti yang dimiliki orang-orang berstatus singleDari hal ini maka, kita dapati sebuah kaidah Psikologi yaitu ”Seringya beriteraksi dapat mematikan sensitivitas diri”. Oleh karenanya seorang induvidu disini sangat ditekankan agar dapat mengontrol dirinya dari rasa kebosaan tersebut atau yang sering disebut self control

Self control adalah sebagai upaya menyesuaikan diri dengan cara mengendalikan, mengatur, dan mengarahkan perilaku baik secara fisik maupun psikologis sesuai usia dalam merespon situasi. Namun, untuk mengontrol kebosanan tidak hanya membutuhkan self control (internal) saja, tetapi juga butuh dukungan dari lingkungan (eksternal) dalam bentuk dukungan social. Bila kita melihat sejanak hal ini sama kejadiannya dengan keadaan saat ini. Baik yang dirasakan oleh para pelajar, pasangan suami istri, dan pekerja yang terpisah akibat pemberlakuan lockdown. Yang mana mereka sama-sama menginginkan hal ini kembali kepada keadaan semulanya. Keadaan tersebutlah yang membuktikan bahwa kebosaan selama masa pandemic covid-19 memiliki beberapa dampak positif di tengah kalangan masyarakat berikut diantaranya:


Pertama, Kebosanan dapat mempererat hubungan selama masa lockdown


Kebosanan yang biasanya terjadi ialah kebosanan akan situasi lingkungan (state) yang tidak menarik, cenderung monoton, dan tidak termotivasi serta kejenuhan yang disebabkan terlalu sering berinteraksi.

Namun dalam masa pandemic ini, akibat terpisahnya ia dari sesuatu yang menjadi kebiasaannya yang menjadi sumber kebosanan, baik dalam hal pendidikannya, pasangannya, maupun keluarganya sendiri. Maka dengan hal ini ia akan berusaha untuk sebaik mungkin memperbaiki keadaan dan menghargai waktu bersamanya di kemudian hari.


Kedua, Kebosanan dapat membantu Anda memproses emosi yang rumit


"Kebosanan adalah cara Anda untuk membiarkan perasaan atau keinginan untuk melakukan sesuatu hal," ujar Katie Leikam, LCSW, LISW-CP, seorang terapis dan pemilik True You Southeast. Ia juga mengatakan bahwa itu juga tentang mengambil kendali, dalam arti bahwa terserah Anda untuk menemukan solusi dan ide untuk apa yang harus dilakukan dengan waktu Anda tersebut.


Ketiga, Kebosanan mengajarkan Anda banyak hal


Merasa bosan tidak hanya memberi Anda kesempatan untuk melamun dan menghayal sejenak.Menurut Doreen Dodgen-Magee, Psy.D., seorang psikolog dari Amerika Serikat, "Rasa bosan memiliki kekuatan untuk mengurangi rasa cemas terutama mengenai kehilangan, dan juga memberikan kekuatan untuk mengembangkan kapasitas untuk lebih menghargai diri sendiri apa adanya." `Kemudian ia  juga menambahkan bahwa” kebosanan itu penting karena menawarkan ruang untuk lebih menjelajahi pikiran Anda dan mendorong Anda untuk benar-benar terkoneksi dengan diri Anda sendiri.”

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini