Meski Terkesan Negatif, tapi Sesekali Rasa Cuek Tetap Dibutuhkan. Biar Terbiasa Bersikap Tegas dan Nggak Plin-plan

rasa cuek tetap dibutuhkan

Kita yang merasa dicueki oleh orang lain, bukan selalu salah mereka. Mungkin memang diri kita sendiri yang mengambil jarak dan kurang mau berbaur. Padahal tentu ada alasan tersendiri kenapa hal tersebut terjadi. Jika orang lain tidak mau mendengarkan, tidak apa-apa karena perlahan akan terbuka jawabannya. 

Advertisement

Berhentilah untuk terus menerus mengatakan bahwa perbuatannya menyakiti hati kita. Kalau kata yang cocok untuk kondisi ini adalah baperan (bawa perasaan). Ya, kita perlu untuk berhenti merasakan baper dan coba telisik ke dalam diri “Mengapa ini bisa terjadi?”

Proses yang kita lalui ini menjadi alarm untuk diri sendiri dan orang lain. Bisa saja ada yang perlu kita perbaiki dari diri sendiri agar bisa diterima dengan orang lain. Namun, tetap untuk fokus menjadi diri sendiri. 

Janganlah karena ingin selalu diperhatikan, maka kita cenderung menjadi pribadi orang lain. Wah, itu sih sudah kelewat batas! Orang lain pun yang melihat diri kita, sebaiknya tetap bisa bersikap objektif. Bukan karena ada apanya dengan diri kita, tetapi semoga berdasarkan apa adanya diri kita.

Rasa cuek memang identik dengan kondisi negatif. Ada kalanya hal itu perlu untuk dilakukan, semata-mata untuk bisa bersikap tegas dengan diri sendiri dan orang lain. Karena jika terlalu terbawa arus “tidak enak”, maka bisa membuat susah diri sendiri. 

Adanya rasa cuek yang mungkin dialami bisa menunjukkan siapakah orang yang ada di sekitar kita. Apakah memang betul dirinya bersikap demikian atau ini hanya sekedar perasaan kita saja.

Advertisement

Jika memang orang lain betul bersikap demikian, maka setelah merefleksikan diri sebaiknya langsung memperbaiki apa yang kurang baik. Sikap kita terhadap orang lain juga mencerminkan bagaimana dia bersikap terhadap kita. Bukan cuma diinginkan ketika saat-saat bahagia, tetapi saat sedih juga perlu demikian. 

Ada kalanya berbagai faktor bisa mempengaruhi, seperti status ekonomi, latar belakang pendidikan, jenis kelamin, budaya, dll. Namun, di situlah letak petunjuk untuk bersikap dan berperilaku. Petunjuk mengenai siapa yang lebih pantas dan tepat untuk berdiri di samping kita. 

Semakin terlihat bahwa tiap orang bisa mengeluarkan jati dirinya jika memang itu yang terjadi. Menjadi petunjuk juga agar kita mampu untuk memberikan hal yang positif. Sebab kita sudah merasakah hal tidak enak dengan dicueki oleh orang lain. Maka, jika tidak terlalu perlu, bersikaplah dengan ramah tanpa harus membalas dengan cuek kepada orang lain.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Psychology. Management. Yellow. Novel.

Editor

une femme libre

CLOSE