Sudah beberapa hari berlalu, sudah beberapa minggu berlalu, bahkan sudah beberapa detik berlalu. tanpa apa-apa yang bersangkutan denganmu. Aku menjadi diriku sendiri, tanpa kamu. Aku berdiri sendiri, tanpa kamu.

Perasaan itu tidak mudah hilang begitu saja, tapi asal kamu tau, aku sudah menikmati proses segalanya tanpa kamu. bulan telah berganti, apakah kamu masih ingat? Setiap waktu menunjukkan pukul 3 petang, kamu selalu terjaga untuk membangunkan aku. Setiap malam yang selalu dihabiskan dengan sticker lucu yang memenuhi chat room kita. Iya, telah memasuki bulan Ramadan.

Advertisement


Entahlah, ada sesuatu yang hilang yang masih kurasa tidak percaya begitu saja. Aku yang terlalu perasa, atau memang ini nyatanya


Terlihat baik saja, belum tentu hati dan nuraniku berdiam. Setiap kali aku mengingatmu, hati dan pikiranku selalu berperang, bergeming, menimbulkan berbagai tanya. apakah kamu masih mengingatku?

Aku rasa, Ramadan kali ini aku harus lebih tabah dengan sebuah ketiadaan. Hal-hal yang terbiasa denganmu harus aku buat alpa dalam hidupku. Atau bahkan, setelah Ramadan juga tidak akan ada keterangan dari dirimu.

Advertisement


Entahlah. Aku akan terus berproses.


Puasaku menjadi bergairah dengan ingatan tentangmu, lagi-lagi aku katakan, hati dan pikiranku terus berusaha dengan sebuah pertemuan. disaat aku sedang bersama mereka, hati dan pikiranku lagi meronta menegaskan dengan sebuah pertemuan.


Terkadang aku tidak percaya, mengapa aku selalu berusaha dan mendamba akan sebuah perjumpaan. Seolah ingin terus beramanah, untuk berkelana mencari penggantimu pun, aku tak bisa.


Apa yang sebenarnya salah dengan sebuah rasa? Apa yang sebenarnya salah dengan sebuah amarah?

Aku masih saja berproses tanpa menghilangkan apa-apa tentangmu, sekalipun aku selalu berusaha. Di sana, masih tergambar jelas, kau yang selalu ingin kujumpa.

Seolah tak kenal dengan luka, aku hanya ingin berdua dengan berjumpa. Jika kau tak membawa bunga, itu bukan sebuah masalah, karena sejatinya aku hanya ingin berdua. tidak ada kata pisah, bahkan terserah.

Ah rasanya cuitanku itu hanya ilusi semata, yang jelas faktanya adalah kau sudah tiada bersama. entah kau memang sudah bahagia, atau menyengaja untuk lupa, yang jelas, hati dan pikiranku kini sudah mulai tertata, bahwa kau yang kucinta sudah hilang.

Aku yang terus berusaha, tidak akan mengatakan sepatah kata, biarlah hati dan pikiranku meronta didalam tubuhku. tak usah ada makna yang harus dicerna oleh siapapun. Cukup menjadi rahasia dan air mata aku jika menginginkannya.


Untukmu yang entah bagaimana perasaannya terhadapku:

aku tidak akan menguraikan segalanya pada sebuah naskah yang sebelumnya pernah kau baca, namun, akan ku tulis semuanya dalam doa. Semoga bulan, musim, dan waktu yang berbeda aku akan terus berusaha. Mencinta tanpa harus meminta kau membalasnya


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya