Yakin hari itu aku bisa jatuh kembali bukan berarti jatuh karena luka itu lagi tapi kau meninggalkan pergi, kau mencoba memperjelas semua nya terutama takdirmu yang mungkin sekarang alasanmu meninggalkan tepat waktu. Aku tak apa sudah terbiasa, mungkin dengan sebelumnya kau penuh dengan rasa tapi untuk singkat waktu denganku hanya mungkin perantara. Jika kau belum paham maka sedikit lagi ku jelaskan. Dalam hidup ada masanya kau menjadi seseorang yang seolah berada pada takdir yang tidak adil, semua berjalan dil uar ekspetasimu keadaan dan waktu menjadi sulit kau mengerti. Hidup menjadi berat tiba-tiba, kau kalah telak dan tidak tahu harus berbuat apa.

Ada perubahan yang memang menunjukan sesuatu kemudian seperti diammu waktu itu yang menjadi lebih jelas dengan jauhnya kita sekarang, kini semua jadi mudah untuk dipahami bahwa kala itu dalam diam kau rancang kepergian dan dalam diam kau menunggu waktu yang tepat untuk menanggalkan segala ikatan. Kau sudah menentukan arahmu lebih dulu kau sudah memastikan akan membawa jauh dirimu, dan sebagai yang tahu belakangan, untukku kepergianmu adalah kepasrahan, kepergianmu adalah tiba-tiba yang mau tak mau harus dianggap nyata.

Advertisement

Mencoba membuka lagi rasanya berat sungguh di hati, semua bukan karena yang sudah pergi tapi kesekian kali aku sudah manaruh hati. Tuhan mungkin ingin dekat dengan diri agar dijauhkan alasan dari langkah kepergian. Proses yang sangat luar biasa ,itu yang harus dipahami, kebahagiaan selalu dicari oleh seluruh anak manusia, terutama wanita. Tidak mau lagi rasanya air mata menjadi perantara ketika semua jatuh karena biang dari ciptaan Tuhan. Bukan tak ingin lagi rasanya, tapi tak ingin merasa yang bukan hak kita. Sudah dijelaskan dan tidak ada dalam kamusnya wanita dijadikan perantara atau singgahan ciptaan Tuhan yang datang lalu ditinggalkan. Sekian waktu berlalu hanya karena singkat itu wanita tersedu? Sedangkan yang lalu pergi begitu?

Wanita terlalu baik, mengijinkan segala hal masuk hanya karena terbata-bata mencari yang sempurna. Wanita terlalu salah, saat semua kalah dia sendiri yang kaprah, dan di saat semua sudah lalu mereka hanya pasrah. Perihal cinta yang dipasrahkan sebenarnya memang benar dia harus merelakan. Sudah dikatakan bahwa dalam kamusnya tak ada wanita yang punya hati rela dan belalang sembah betina yang tak selalu penggal pasanganya ketika belalang jantan melarikan diri.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya