[CERPEN] Saat Cinta Tumbuh dari Hati

Bagi sebagian orang, mencintai adalah suatu hal yang menyenangkan. Bahkan rela menunggu sampai bertahun-tahun lamanya. Begitu juga Ira, ia rela menunggu Andra selama Andra pergi.

Sunyi, hanya ada mereka berdua di bukit. Andra tengah menikmati indahnya gemerlap bintang, sedangkan Ira tengah termenung. Embusan angin malam menerpa wajah mereka. Suara jangkrik yang didengar oleh Ira seolah menjadi melody yang senantiasa menemani kesunyian di antara mereka.

Advertisement

Andra memutuskan untuk memulai pembicaraan, “Ra, aku mau ngomong jujur sama kamu. Andai kamu bisa melihat ribuan bintang yang ada di langit, aku tak perlu susah payah menjelaskannya kepadamu. Kau tahu? Bintang itu sangat indah, sama sepertimu.”

“Aku cantik, ya?” tanya Ira sambil melakukan isyarat dengan tangannya.

“Iya, kamu cantik. Aku suka.”

Advertisement

“Jangan gombal.” Ira memalingkan wajahnya, pipinya mulai terasa panas.

“Apa? Kalo ngomong tatap mukaku, isyaratnya juga jangan lupa. Biar aku paham.”

Advertisement

Ira berusaha menetralkan rasa gugupnya. “Tumben kamu gombal,” kata Ira, tak lupa juga isyarat yang selalu ia gunakan. Andra tak bisa mendengar dengan jelas apa yang ia katakan.

“Aku mau jujur, sebenarnya aku sayang sama kamu. Emm, sayang dalam artian cinta, bukan hanya sayang sebagai sahabat.”

“Kamu serius?”

“Iya. Kamu gak suka, ya? Aku gak seganteng orang-orang di luar sana.”

“Kan, aku gak tahu muka kamu kaya gimana. Lagi pula cinta itu tumbuh dari hati.”

“Jadi?”

“Apanya?”

“Terus perasaanmu ke aku itu gimana, Ira sayang?”

“Andra!” pekik Ira. Ia hendak memukul Andra, namun Andra lebih dulu mengelak.

“Curang. Aku ‘kan gak bisa lihat kamu ada di mana.”

“Apa?”

“Aku gak bisa lihat kamu ada di mana, Ndra.” Ira berucap sambil memasang muka pura-pura kesal. Andra yang melihatnya pun berinisiatif melakukan suatu hal.

“Sini" Andra memegang tangan Ira, lalu mengajaknya berdiri. Andra mengikis jarak di antara keduanya, lalu memeluk Ira dengan lembut. “Aku di sini, Sayang,” bisik Andra sambil mengelus puncak kepala Ira. Ira merasakan pipinya yang mulai terasa panas, jantungnya pun bertambah cepat detakannya. Oh, inikah yang dinamakan jatuh cinta?

Andra melepaskan pelukannya. Kedua tangannya menangkup wajah Ira, sesekali menyingkiran anak rambut yang menutupi wajah manis gadis itu. Andra melihat pipi Ira yang memerah. “Cie, blushing,” goda Andra.

Ira meraba tangan Andra, lalu ia mencubit punggung tangan Andra. Andra pun memekik, berpura-pura merasakan kesakitan. Ira tahu jika sahabat yang baru saja mengutarakan perasaannya itu tengah bersandiwara, “Mau aku cubit lagi, hmm?”

“Pulang, yuk. Udah malam. Gak baik anak gadis pulang larut malam.”

“Kan, kamu yang ngajak.”

“Iya, makanya ayo pulang.” Andra memegang erat tangan Ira. Dengan sabar ia menuntun Ira untuk pulang ke rumah. Tiba-tiba Andra berhenti, Ira pun mau tak mau ikut berhenti.

“Ada apa, Ndra?” tanya Ira dengan raut muka keheranan, lalu ia pun menguap.

“Yang tadi gak usah dijawab.”

“Apanya?”

“Perasaanmu ke aku. Dari sikapmu tadi aku udah bisa nyimpulin kalo kamu juga sayang aku.”

“PD amat anda, Bung.” Ira menguap lagi.

“Udah, ayo pulang. Kamu udah nguap-nguap terus dari tadi.”

“Kan, tadi kamu yang berhenti duluan,” ucap Ira. Andra yang sedang tak memperhatikannya pun tak tahu apa yang dikatakan Ira.

Setelah selesai mengantarkan Ira sampai ke rumah dengan selamat, Andra pun pulang ke rumahnya. Ia juga mulai merasakan ngantuk. Sesampainya di rumah, ada Ibunya yang tengah duduk di teras. Lalu mereka pun berbincang dengan serius.

****

Setelah selesai bersiap-siap untuk sekolah, Ira menunggu Andra di teras rumahnya. Adiknya pun turut duduk di sana. Aktivitas seperti ini sudah menjadi kebiasaan setiap pagi. Jam sudah menunjukan pukul 06.40 WIB, namun Andra tak kunjung datang. Adik Ira pun mengajak sang kakak untuk berangkat, tetapi Ira menolaknya.

Ayah Ira baru saja sampai di rumah, beliau baru saja selesai jogging. Melihat kedua putrinya sedang berdebat, ia tahu apa yang mereka perdebatkan. “Ira, berangkat saja dengan Ara. Nanti kalian terlambat. Hari ini Andra tidak masuk.”

“Andra kenapa, Yah?”

“Nanti ayah jelaskan sepulang sekolah. Sekarang kalian berangkat saja dulu.” Ayah Ira duduk di atas kursi yang ada di teras, di samping Ira. “Hati-hati di jalan,” ucapnya sambil menyalami anak-anaknya.

****

Sejak pulang dari sekolah, Ira tampak murung di kamarnya. Tadi Ayahnya sempat menjelaskan tentang kepergian Andra dengan keluarganya. Sungguh, ia kecewa. Mengapa Andra tak berpamitan dengannya. Padahal semalam Andra telah mengutarakan isi hatinya. Ia pun tak tahu sampai kapan Andra akan pergi, akan pulang ke sini lagi atau tidak, atau bahkan tak akan pernah kembali. Sedari tadi air matanya hendak tumpah, namun ia masih menahannya.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, “Makan dulu, Kak. Jangan gara-gara doi pergi sampe gak makan,” ujar Ara.

“Iya, nanti kakak makan,” jawab Ira dengan lesu.

“Percaya aja sama Bang Andra, dia pasti balik lagi. Toh, kalian udah tahu perasaannya masing-masing, ‘kan?”

“Kok kamu tahu?”

“Tahu dong. Udah tungguin aja sampe doi balik ke sini. Itu kalo kakak beneran sayang sama Bang Andra. Kalo nggak sayang tinggal cari lagi.”

“Apaan sih kamu,” ucap Ira, wajahnya tersipu malu. Ara yang melihatnya pun tertawa, lalu beranjak ke luar kamar sang kakak.

Sesuai dengan nasehat sang adik, Ira pun rela menunggu Andra sampai ia kembali. Setiap malam Ira selalu termenung, mengharapkan semesta menyampaikan rindunya untuk Andra. Terlalu sulit bagi mereka untuk berkomunikasi melalui telepon. Ira tak memiliki ponsel, begitu juga dengan Andra.

Hingga suatu saat Ara mendapatkan pesan dari nomor yang tak dikenal. Dalam pesan tersebut tertulis jika Andra akan kembali. Ia sudah bisa mendengar. Terhitung sudah 1.5 tahun sejak Andra pergi, baru kali ini ia memberi kabar. Minggu depan ia akan sampai di sini. Ara pun langsung memberitahu kakaknya tentang kabar bahagia ini.

Hingga saat waktunya tiba, “Bang Andra, Kak Ira tuh udah nunggu Abang dari awal pergi sampe sekarang. Tiap malem merenung, bengong kayak orang abis kena hipnotis,” adu Ara.

“Oya? Sabarnya calon kekasihku. Makasih udah rela nungguin aku.”

“Tapi kamu udah sembuh. Aku masih buta, lebih baik kamu cari yang lain aja.”

“Terus gunanya kamu nungguin aku apa? Dulu kamu pernah bilang kalo cinta itu tumbuh dari hati. Aku sembuh demi kamu. Jadi biarin aku melengkapi hari-hari kamu layaknya kamu dulu yang melengkapi hari-hari aku.”

“Tapi, Ndra—“

“Husstt. Jangan biarin waktu kamu buat nungguin aku sia-sia.” Andra meraih tubuh Ira lalu memeluknya dengan lembut. Sungguh ia tak menyangka jika Ira akan menunggunya. Dan ia sangat bahagia saat ini.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE