SALAH SATU CERITA PERIHNYA KARNA ORANG KETIGA

Aku adalah perempuan 22 tahun. Bisa dikatakan aku sudah cukup mengalami asam garam di dunia percintaan. Pada waktu usiaku 19 tahun, aku beranikan diri untuk menikah dengan kekasihku saat itu. Namun, karna usia yang masih terlalu muda dan persiapan mental yang belum matang, pada saat pernikahanku beranjak di tahun ke dua, segalanya berakhir.

Iya, aku adalah salah satu diantara banyak orang yang mengalamai perceraian. Jangan ditanya bagaiamana dengan perasaanku, tentu hancur. Meskipun pada saat itu aku tidak seluruhnya siap, aku tidak yakin dengannya, tapi kami pernah bermimpi membangun masa depan yang indah bersama.

Advertisement


Ini tentang aku si egois yang mempunyai pemikiran visioner, atau mungkin terlalu jauh kedepan, dan tentang dia si penikmat alur kehidupan.


Aku akui, aku lupa bagaimana kodratku seharusnya sebagai wanita. Aku terus menerus mendominasi dirinya, mengaturnya, membentuknya menjadi seperti apa yang aku mau. Aku lupa, kalau sejatinya cinta merupakan memberi dan menerima. Aku bukan tipikal perempuan yang terlalu banyak menuntut, aku tidak meminta ini dan itu darinya, toh aku juga bekerja, aku mempunyai penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhanku sendiri.

Aku selalu suka dengan belajar, sehingga di tahun ke dua pernikahan kami, aku memutuskan untuk meneruskan pendidikan ku ke jenjang yang lebih tinggi. Ya, aku kuliah atas izinnya. Setelah kami mengalami berdebatan yang cukup panjang, bertele-tele dan melelahkan. Aku ingin dia yang kuliah, dengan alasan dia adalah seorang guru, yang akan diguguh dan ditiru oleh murid-muridnya, tentu dia tidak boleh stuck dan harus terus meng-upgrade pengetahuannya.

Advertisement

Dia lebih membutuhkan ijazah strata satu ketimbang aku. Sudah ku rayu dengan segala cara. Dari mulai biar aku yang membiayai, hingga tugasnya nanti aku yang kerjakan. Tapi dia tetap enggan. Dia bilang, dia suka dengan hidupnya yang seperti ini, tidak perlu kuliah, tidak perlu kerja jauh-jauh toh masih bisa makan. Dia bilang hidup itu adalah perihal bersyukur dan nikmati.

Ya itu adalah contoh kasus perdebatan-perdebatan kami. Dari mulai menginjak di usia dua tahun, aku merasa pemikiranku dengan dia semakin bersebrangan, aku jadi malas untuk bercerita, berkomunikasi seperti biasanya, karena aku merasa jawaban yang dipaparkan sangat kurang memuaskan, aku merasa tidak ada gunanya bercerita tentang masalah-masalahku dikantor dengan dia, karna dia tidak bisa memberikan solusi, tidak serius mendengarkan, dari situ komunikasi kami menjadi semakin renggang.

Aku mengambil kelas malam, karena pagi aku harus bekerja. Aku sangat menyukai sekali kehidupan kampus, belajar, berdiskusi, presentasi. Benar-benar menantang dan mengasah kemampuanku. Ya, aku lalai. Pagi aku bekerja, malam aku kuliah, dan weekend aku isi dengan mengerjakan tugas-tugas kuliah ku yang banyak itu. Aku lupa akan kewajibanku, mengurus rumah, mengurus suami, aku terlalu asik dengan dunia baruku. Ditambah lagi, setelah aku kuliah hubunganku dengan suami semakin merenggang. Ya, pemikiran kita semakin jauh bertolak belakang.

Dikampus, aku bertemu dengan salah satu seniorku yang membuatku terkagum-kagum dengan pemikirannya, bagaimana cara dia memandang dunia, menghargai wanita, wawasanya yang begitu luas. Ya, ku akui aku jatuh hati padanya. Jatuh hati pada keintelektualitasannya, dan keimanannya. Aku bertanya apapun, dia mampu menjawab. Jawaban demi jawaban yang diberikannya mampu menembus logikaku, tentu hal ini sangat jauh berbeda sekali dengan suamiku dirumah, yang bila ku tanya jawabannya hanya sekedar yasudah dan terserah.

Selain itu, mantan suamiku juga pecemburu. Dia cemburu begitu besar, ketika tau aku dekat dengan seniorku. Aku akui aku salah, dan meminta maaf padanya. Dia bilang lupakan. Hingga memasuki Oktober ada yang lain dengan dirinya. Dia lebih sering fokus ke ponsel, bahkan ponselnya tidak boleh tertinggal. Aku sedikit mulai curiga apa dia ada yang lain atau tidak dan ketika aku membuka ponselnya, benar saja banyak chat manis yang penuh mesra.

Iya suamiku bermain api dengan siswi SMA kelas dua, dengan alasan ingin balas dendam akan perbuatanku kemarin (dekat dengan senior) aku sempat tertegun kala itu. Dan tidak menyangka suamiku sepecemburu ini, bahkan sampai mempunyai dendam. Yang aku kira sudah lupakan, ternyata tidak dilupakan olehnya. Aku bilang padanya kalau untuk balas dendam, dia berhasil. Sekarang mari tinggalkan gadis itu, atau aku yang meninggalkannya (karena aku sudah tidak berhubungan dengan seniorku lagi).

Dia memilih aku untuk yang tetap tinggal, tapi ternyata dia juga tidak bisa meninggalkan gadis itu. Hingga suatu hari aku menemukan tiket masuk wisata di daerah Jawa Barat untuk dua orang di kantong jaketnya, dan ternyata dia masih terus berkomunikasi dengan perempuan itu. Dia semakin parah seperti orang yang terkena candu, setiap aku marah dia berhubungan dengan perempuan itu, aku ambil handphone-nya, matanya merah seperti orang kesurupan, seluruh wajahnya merah marah.

Aku ingat betul saat itu. Saat itu, bukan hanya permasalahan ini saja yang sedang aku hadapi, aku ada permasalahan dikantor, terjadi kesalahpahaman aku dengan bosku, dan juga aku sedang menjalani pekan akhir semester atau UAS dikampus. Sungguh rasanya aku ingin bunuh diri saat itu.

Akhirnya aku memutuskan untuk fokus satu persatu. Pertama kuliahku, aku harus bisa fokus satu minggu kedepan, kedua pekerjaan, dan yang terakhir rumah tangga. UAS ku berjalan cukup lancar dan setelah uas selesai aku memilih resign dari kantor. Dengan alasan aku tidak boleh lanjut bekerja, dikarenakan selama dua tahun pernikahan kami aku belum hamil, dan suami mulai menuntut keturunan, akhirnya dengan berat hati bosku mengizinkan.

Baru saja hari itu keluar dari kantor, dan aku masih diliputi perasaan sedih karna harus berpisah dengan teman-teman, dia menanyakan mengenai tanggungan yang kita cicil berdua, seperti rumah yang kami sewa, listrik, dan biaya sehari-hari. Dia merasa tidak terima kalau perbulan depan harus dia semua yang menanggungnya. Dan dia pun bertanya bagaimana dengan hubungan kita? Di sela-sela tangisku (menangis karna resign dari kantor dan karena berpikir dia setega ini) aku hanya mampu bilang padanya, kalau dia tetap memilih perempuan itu biar aku yang pergi, sebab perempuan itu lebih membutuhkannya ketimbang aku. Aku juga bilang, kalau aku masih memiliki ayah untuk aku bersandar, sementara dia sudah tidak memiliki ayah untuk dia mengadu.


Maaf, aku memang perempuan yang egois dan tidak untuk dimadu adalah prinsipku.


Malam harinya aku pulang ke rumah orangtua ku, seakan-akan alam mengerti kondisi hatiku, alam pun ikut menangis. Ya, malam itu gerimis. Aku merasa begitu kacau, aku tidak langsung menuju rumah orang tuaku, aku menuju rumah sahabatku. Cukup lama aku menenangkan diri disana, dan sampai aku disuruh menginap saja dirumahnya, karena malam sudah semakin larut, tapi aku memutuskan untuk pulang kerumah orangtua ku.


Aku butuh ayah. Aku butuh pundak ayah karena selama ini aku belum menceritakan permasalahan rumah tanggaku dengan ayah.


Sesampai dirumah, aku langsung memeluk ayah, aku menangis sejadi-jadinya dan menceritakan semuanya. Tidak ada yang kurasakan saat itu selain perasaan sakit, terluka, dan kecewa. Melihat putrinya yang begitu rapuh, ayah hanya mampu berucap dan meminta maaf, dan berkata, kalau saja posisiku saat ini bisa digantikan olehnya, tentu pasti akan dia gantikan sekarang.

Tiga hari aku berada dirumah orang tuaku, dan ayah memintaku untuk pulang kerumah. Akhirnya aku pun pulang. Tak ada sambutan istimewa atau rasa senang, dia masih sama sibuk dengan handphone-nya dan perempuan itu. Aku selalu terus mengingat pesan ayah "Jika memang dia tidak baik untukmu, Tuhan pasti menunjukan." dan benar.

Sehabis aku membaca beberapa surah dari Al-Qur’an yang sekiranya dapat menenangkan, aku membuka handphone-nya. Disana aku melihat video yang tidak pantas, serta foto-foto yang agak seronok, yang berlokasi di daerah wisata di Jawa Barat. Juga chat mesra yang bilang kalau aku bukanlah istri yang layak, lebih layak dia ketimbang aku, saat aku pulang malam-malam kerumah orangtua ku sendiri, selingkuhannya bilang aku sudah besar, bisa urus diri sendiri, tidak perlu diantar. Kalian tau bagaimana perasaan aku saat itu? Air mataku seperti air terjun, jatuh tidak beraturan.

A k u h a n c u r .

Malam itu sudah larut sekali, aku mencoba menelpon ayah tidak diangkat, mencoba menelpon seisi rumah tidak ada yang menjawab. Sungguh rasanya aku ingin pulang dan memeluk ayah. Sementara dia terus emosi dan menyuruhku untuk menamparnya. Tapi aku enggan, aku hanya diam dan menangis sembari menggenggam ponselnya. Malam itu juga aku langsung ke rumah ibu mertuaku. Ya, jarak rumah kami tidak terlalu jauh. Aku tunjukan semua kelakuan anaknya, tapi ibunya terus membela sang anak, dengan alasan dulu waktu bapaknya seperti itupun dia maafkan. Aku harus seperti dia yang pandai memaafkan.

Aku cukup cerdas, disela tangisku, aku masih sempat share video itu ke ayah, dan aku sempat mengabari ayah untuk jemput aku. Karena aku sudah sangat tidak tahan disini. Siangnya ayah datang ketempat mertua ku, dan kami melakukan mediasi. Ada ayah ku, ibu dan bapaknya juga dia. Ayah bertanya apa mau ku sekarang? Aku bilang kepada bapak bahwa anaknya sudah tidak mencintai ku dihati dan pikirannya sudah perempuan itu, tidak ada aku didalamnya, dan aku bilang kepada ibu mungkin, kalau aku punya anak, aku akan seperti dia yang memaafkan dan bertahan untuk anak, tetapi ini anak aku belum punya, jadi apa yang harus aku pertahankan?


Dan aku bilang juga kepada ayah ku, apa artinya sebuah komitmen kalau hanya tinggal kata-kata. Aku berbicara seperti itu sembari menangis. Ibunya terus menyudutkanku. Ibunya bilang, anaknya tidak akan sepert ini jika bukan aku yang memulai. Padahal aku hanya berdiskusi di kampus dan itu tidak berdua.


Dia diam tidak bergeming saat itu dan argumentasinya cenderung melepaskanku, ayah akhirnya mengambil keputusan untuk membawa ku pulang, kami diberi waktu berpikir untuk satu bulan. Dia dan keluarganya pun mengiyakan. Tidak ada argumentasi untuk melawan, apalagi kata yang berupa larangan yakni "jangan".

Sebelum ayah datang, aku sempat mendengar pembicaraan dia dengan pamannya dan orangtuanya, pamannya bilang untuk lepaskan. Perempuan seperti aku tidak berguna, toh nantinya aku yang rugi karena menyandang status sebagai janda. Aku yang rugi karena aku perempuan dan jika aku berpisah dengannya aku akan di cap "bekas". Sungguh itu adalah perkataan yang paling menyakitkan yang pernah ku dengar. Dari balik pintu, aku hanya bisa menangis sembari berharap ayahku datang. Seisi orang di rumah itu terus menyudutkanku.


Aku akui aku salah, tapi bukankah lebih parah dia? Seisi rumah itu benar-benar tidak ada yang melihat bagaimana jika diposisiku? Bagaimana jika menjadi aku.


Beberapa hari aku dirumah, tepatnya dihari sabtu, aku sengaja datang ketempat sekolahnya mengajar, dan sudah ku duga pasti ada perempuan itu. Ya, selama ini kami belum bicara bertiga, jadi aku merasa layak, dan merasa harus berbicara dengan mereka. Kita masuk ke sebuah kelas yang kosong dan aku memulainya dengan menunjukan video itu. Perempuan itu hanya tertunduk dan bilang dia tau kalau dia salah. Dia bercerita banyak, dan pada intinya adalah dia bilang kalau suami ku adalah jawaban dari segala do’a-do’a yang dipanjatkannya selama ini.

Siswi SMA kelas dua itu juga bilang, kalau sudah hakikatnya perempuan untuk dimadu. Aku yang egois ini kembali bilang menerapkan prinsipku, aku bilang kalau aku merupakan perempuan yang berprinsip, aku lebih baik diceraikan ketimbang harus dimadu, tentu aku berani bericara seperti ini karena aku tidak punya anak dengan dia. Sulit memang kalau harus berbicara dengan dua insan yang sedang mabuk dicinta. Pada saat itu, mereka juga bilang dihadapanku kalau mereka saling mencintai dan sanggup untuk saling membahagiakan.

Pada saat mereka bilang seperti itu, statusku masih menjadi istrinya. Tentu aku hancur. Aku merasa tidak dihargai sebagai istrinya. Terlebih ketika aku bertanya dengannya, apa selama ini dia sudah bisa membahagiakanku? Dia bilang tidak. Dan aku tanya lagi, apa dia bisa membahagiakan perempuan itu? Dia bilang tentu saja iya.

Satu minggu aku berada di rumah orangtuaku, ayah menyuruhku untuk pulang. Ayah bilang, seharusnya dari hari pertama aku ada dirumah orangtuaku, dia sudah ke rumah ku dan meminta ku kembali, tapi ini ternyata tidak. Sesampainya aku dirumah, dia langsung mengajak ku berbicara. Dia bilang aku bukanlah jawaban dari solat istikhorohnya, dia bilang sudah tidak sanggup untuk hidup denganku. Dan lebih memilih untuk mengakhirinya.


Aku tidak bisa berusaha tegar saat itu. Air mataku jatuh, hatiku bergetar. Rasanya seperti mimpi buruk. Aku mencoba menyadarkannya, aku bilang lebih dari tiga kali untuk kita mulai lagi bersama-sama, karena ini adalah sebuah pernikahan, merupakan suatu yang sakral. Tapi dia menolak.


Aku langsung merapikan bajuku yang sekiranya bisa ku pakai untuk mencari pekerjaan dan rasanya aku ingin segera pagi, dan pulang kerumah orangtua ku. Dia hanya duduk diam dengan muka yang merah, sembari memainkan ponselnya.

Selang beberapa hari sejak kejadian itu, dia baru datang kerumah seorang diri, berbicara dengan kedua orangtua ku. Dengan gaya yang seperti preman jalanan dia datang menemui ayah dan bunda, kalau dia sudah tidak bisa melanjutkan rumah tangga kami lagi. Ayah yang aku kenal merupakan sosok yang begitu temperamental, berusaha mencoba untuk bijaksana. Sementara bunda, bunda tak kuasa menahan tangis, memelukku yang sudah tidak bisa menangis lagi. Tatapanku hanya kosong.

Ketika dia pamit, ayah masih memeluknya sebagai laki-laki, sementara bunda memeluknya sembari terisak. Aku hanya diam seperti patung. Aku pamit untuk ke kamar, aku segera solat isya, dan disitu air mataku tumpah lagi untuk kesekian kalinya. Ayah langsung masuk ke kamar ku, ayah memeluk ku begitu erat, sementara aku lagi-lagi menangis didalam pelukannya, aku bilang ayah, rasanya diriku seperti tembok yang dipukul hancur. Aku hancur ayah, begitu hancur.


Ayahku bilang, untuk hari ini aku boleh saja menangis, tetapi besok aku tidak boleh menangis lagi. Hidupku masih begitu panjang, dan jadikan ini semua proses pembelajaran.


Ya inilah kisahku, ada banyak hal yang ku pelajari dari kisah pahit ini, diantaranya adalah, semua orang pada awalnya inginnya menikah satu kali saja seumur hidup, tapi sekali lagi kita hanya manusia, sementara takdir orang tidak ada yang tahu kecuali Tuhan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya