Awalnya aku berfikir akar dari permasalah ini adalah tentang sebuah pandangan yang salah, tentang presepsiku dan cara menilai ku yang salah. Aku belajar untuk memahami kamu. Aku belajar untuk menjadi dewasa. Aku pun belajar untuk menjadi seseorang yang berguna. Tapi usaha yang kulakukan selama ini tak pernah berguna

Aku mengganggapmu lebih dari apa yang kamu pikirkan, setiap rencanamu seolah-olah kamu melibatkan aku didalamnya. Setiap langkahmu ada aku dibelakangmu untuk mendukungmu. Perdebatan kecil yang selama ini terjadi aku pikir itu sebagai ukiran dari perjalanan cerita ini. Menganggapmu adalah bagian dari sebuah perjuangan yang aku lalui untuk mencapai mimpiku ternyata salah.

Advertisement


Aku bukan siapa-siapa untukmu

Aku tak mengerti

Kamu membiarkan orang lain untuk memandang

Advertisement

Kita begitu dekat.


Hai kamu, sudah selasaikah sandirawamu didepan ku selama ini, didepan semua orang. Peran yang kamu mainkan sungguh indah bagai pelakon-pelakon dilayar kaca. Dulu aku menganggap itu sebuah topeng. Tapi tunggu, tanpa topeng kini kamu sudah bermain dengan cukup menakjubkan. Permainanmu dan aktingmu sunguh sangat membanggakan, manipulasi dan tertipu itu yang aku rasakan saat ini.

Kamu yang hadir saat aku merasa orang lain telah menipuku tapi kamu saat ini hadir untuk melakukan hal yang sama. Kamu tau apa yang aku butuhkan saat ini sebuah penjelasaan dari semuanya. Kamu mengatakan jika sebuah penjelasan itu sangat penting untuk menyelesaikan sebuah permasalahan, dan lagi aku tertipu oleh perkataanmu. Apa kamu akan menjelaskan semua ini? tidak, kamu pergi dengan meninggalkan kata dan meninggalkan kesan jika aku yang salah. Dan kembali untuk kesekian kalinya aku tertipu. Mereka bilang aku yang tidak mengerti caramu menyampaikan sesuatu kepadaku, luar biasa bukan kamu membuat mereka menganggap bahwa aku yang salah.Terimakasih untuk membuat aku seperti orang bodoh dengan terus sedih dan berfikir bahwa diriku yang salah. Sedangkan pada kenyataannya kamu yang memang tidak pernah menganggap aku bagian dari cerita hidupmu. Semakin aku mengetahui kamu dan semakin aku mengetahui bagaimana aku bagimu


Maafkan itu kata yang terlontar dari bibir kelu ini tentang kekecewaan ku. Maafkan untuk aku yang tidak berjuang semampuku. Maafkan aku yang lelah melihat sandiwaramu. Maafkan kali ini aku mundur dari segala hal tentangmu. Terimakasih karena sampai saat ini aku masih berharap kamu tidak melakukan hal ini. Terimakasih telah menorehkan trauma itu kembali. Jika kamu tidak dapat menyembuhkan trauma jangan membuat seseorang itu semakin trauma


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya