Satu Bulan untuk Meraih #MimpiMasaMuda Bukan Hal yang Mustahil

Kisah meraih impian

Perkenalkan, aku adalah manusia bumi yang pernah menjelma sebagai seorang santri. Yang jelas, aku melakukan itu bukan karena paksaan, sebutan 'anak nakal', atau menghindari permasalahan. Itu adalah sesuatu yang murni dari hati.

Advertisement

‌Saat duduk di kelas 9, lebih tepatnya kelas 3 SMP, aku memang sudah memiliki rencana untuk melanjutkan studi di salah satu SMA favorit. Aku juga sudah memutuskan untuk melanjutkan studi sambil nyantri. Benar saja, masa putih abu-abu kuhabiskan di pondok pesantren. Tiga tahun. Lama jika dirasakan, tapi terasa cepat jika tau ujungnya.

‌Menjalani masa SMA ditambah kegiatan pesantren itu cukup melelahkan. Bagiku, untuk bisa menjalani keduanya, harus ada yang dikorbankan. Kalau aku sendiri, lebih memprioritaskan kegiatan pesantren. Buktinya, saat di sekolah aku lebih banyak memejamkan mata di atas meja. Tapi, kalau sudah memasuki wilayah pesantren, sepertinya semangatku menggebu-gebu karena tak mau terlewatkan satu hal seru pun. Alhasil, sangat mustahil untuk mendapatkan ranking satu di sekolah.

Karena itu, saat kelas 12 aku merasa sangat tertinggal dengan teman-temanku. Mereka sangat gigih dalam memperjuangkan impiannya untuk bisa masuk perguruan tinggi yang mereka inginkan. Hampir semua teman-temanku di sekolah mengikuti les atau bimbel. Sedangkan aku, tidak mengikuti les atau bimbel sama sekali.

Advertisement

Sebenarnya aku mau, tapi aku memilih untuk tidak mengikuti. Aku tetap konsisten dengan apa yang sudah menjadi prioritasku sejak awal. Aku memilih fokus di pesantren karena aku yakin dengan ilmu yang sudah kudapatkan, “Barang siapa yang mau menolong agama Allah, maka Allah juga akan menolongnya.” Jadi, saat kelas 12 aku justru memperbanyak ibadahku. Aku juga berusaha membantu teman untuk mengejar materinya yang masih tertinggal.

Sesekali aku memiliki semangat untuk mendapatkan nilai yang bagus di sekolah. Tapi, kegiatan di pesantren yang sungguh melelahkan tidak mendukungku untuk mengejar ketertinggalan. Kalaupun di pesantren aku sempat belajar untuk ujian, yang masuk di kepala mungkin hanya sepuluh persen saja. Itu salah satu alasanku juga mengapa aku lebih memprioritaskan urusan pesantren.

Advertisement

Meskipun semangatku di sekolah tidak begitu besar, aku tetap berusaha agar kedua orang tuaku tidak kecewa. Tidak bolos saat pelajaran menurutku sudah cukup sebagai hal yang pantas dibanggakan. Untuk itu, aku dan tentu saja teman-temanku berusaha agar bisa selalu #SehatSamaSama dengan memakan makanan bergizi seimbang. Karena gizi yang cukup akan membuat daya tahan tubuh menjadi lebih kuat.

Di samping itu, guru olahragaku juga memberi tablet penambah darah kepada siswi-siswinya setiap seminggu sekali untuk mencegah terjadinya kekurangan darah atau anemia. Beliau tahu, kalau muridnya harus memiliki daya tahan tubuh yang kuat karena akan menghadapi ujian. 

Tapi, siapa yang tahu kehendak Allah? Menjelang Ujian Nasional, virus Covid-19 mulai mewabah di Indonesia. Pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan baru, di rumah saja. Mau tidak mau, kegiatan sekolah juga harus dilakukan di rumah. Ujian Nasional akhirnya dibatalkan. Ujian untuk masuk perguruan tinggi atau SBMPTN pun diundur. Sebulan setelahnya, kejadian yang paling menyedihkan menurutku. Santri-santri angkatanku dipulangkan.

Meskipun begitu, aku tetap yakin kejadian apapun itu pasti akan ada hikmahnya. Dan benar, satu bulan sebelum UTBK (ujian untuk bisa mengikuti SBMPTN) aku masih diberi kesempatan untuk fokus belajar. Tentu saja aku manfatkan satu bulan itu dengan sebaik-baiknya. Karena sebelumnya aku tidak mengikuti bimbel apapun, maka saat inilah aku memperbaikinya. Setiap pagi, siang, bahkan sampai larut malam, soal latihan sudah menjadi makanan sehari-hari. Meskipun cara seperti ini tidak efektif, tapi sungguh, aku sangat bersyukur atas kesempatan ini.

Setelah melewati masa-masa perbaikan, tibalah waktu ujian. Karena persiapan ujianku yang hanya satu bulan, sedangkan yang lain sudah mempersiapkannya berbulan-bulan, deg-degan itu pasti. Di sisi lain, saat itu kami harus melaksanakan ujian dengan menerapkan protokol kesehatan, rasanya sangat kaku.

Setelah ujian selesai, para peserta dipersilahkan keluar dari ruangan. Tanganku langsung terasa dingin. Aku hanya bisa menjawab beberapa soal sembari membaca doa, sisanya aku jawab asal-asalan. Parahnya, ada juga beberapa soal yang belum sempat aku jawab karena kekurangan waktu. “Sudahlah, ujian sudah selesai, hasilnya tinggal berdoa dan pasrahkan kepada Yang Kuasa,” batinku.

Benar saja, saat waktu pengumuman tiba, lagi-lagi aku hanya bisa berdoa dan pasrah. Aku hampir tidak berani membuka hasil pengumuman sendiri. Kakak perempuanku yang berhasil membuka hasil pengumuman itu. Hasilnya, aku diterima di perguruan tinggi impianku, meskipun di pilihan kedua. Tapi sungguh, satu bulan untuk meraih #MimpiMasaMuda memang bukan hal yang mustahil jika ada usaha dan campur tangan Yang Kuasa. Yuk raih #MimpiMasaMuda mu bersama #HipweexNI

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE