Membuka basa-basi tidak penting adalah sesuatu yang penting di depan teman-teman adalah kesempatan yang dimanfaatkan oleh Amang untuk berbagi pola pikir. Tentunya tentang kebaikan. Sambil menikmati kopi bersama-sama dalam kelap malam minggu. Setiap mereka adalah jomblo yang tak diinginkan, haha.

Siapa itu preman? (1)

“Preman itu adalah orang-orang hebat yang merdeka bahkan mereka juga ditakuti oleh orang lain. Hidup menjadi preman merupakan kebebasan yang baik. Jika itu dimanfaatkan untuk kebaikan.” Amang mencoba mengeksplorasi setiap sudut temannya untuk membantu dia berpikir lebih dalam.

“Preman itu setahuku adalah orang yang suka malak, suka berantem, dan berbuat yang tidak baik.” Eying nyelonong membungkam Amang.

“Preman itu adalah orang yang banyak tatonya. Nggak pernah mandi. Ih pokoknya tidak baik jadi preman.” Finung berkerjasama tanpa jalinan dengan Eying.

Advertisement

Keadaan terus-menerus menelan keadaan yang menunjukkan keseriusan mereka dalam membahas siapa atau apau itu preman.

Preman, satu sudut dari 360 derajat kehidupan.

Amang mencoba menggali dalam pemikiran temannya dengan menyatakan.


Preman itu kan manusia biasa yang dianggap orang-orang tidak baik. Anggapan tidak baik itu pun kita nilai secara subyektif dan menggunakan sudut pandang satu derajat. Masih tersisa 259 derajat yang memungkinkan itu adalah kebaikan.


“Ya. Benar juga Amang apa katamu. Mungkin kelalaian kita untuk memperhatikan satu sama lain, kelalaian kita untuk saling memahami, dan kelalaian kita terhadap berpikir kebaikan terhadap apapun dan siapapun.” Emang menyetujui dengan bijak. Dia adalah calon sarjana teknik informasi.


“Yang hilang dari kita saat ini adalah keengganan untuk mencari informasi kebaikan orang lain, keenganan kita untuk membicarakan kebaikan orang lain. Kita lebih suka untuk mencari-cari kejelekan orang lain.” Emang menambahkan.


Preman adalah kemerdekaan

“Kalau kita lihat dari sudut yang lain juga. Satu kata preman ini terbentuk dari dua kata bahasa Inggris.” Amang memandang dari sudut kebahasaan, tentu untuk memberikan pandangan positif.

“Wah aku tahu maksudmu Mang. Pasti kamu mau memberikan definisi untuk kata preman.” Finung menggoda. Amang dingin menghadapi pertanyaan Finung. “Preman itu dari dua kata, free dan man. Free seperti yang kita tahu maknanya gratis, bebas. Sedangkan man itu manusia. Jadi kalau kita memaknakan preman bisa kita maknakan dengan manusia merdeka, tanpa ada tekanan.”

“Tapi mereka sering menekan orang lain.” Eying mengambil kopinya yang sudah mulai dingin.

“Itukan hasil dari kesimpulan subyek kita. Tanpa kita tanya ke premannya langsung.” Amang bertahan.

Preman meniadakan kekuatan dirinya dan bahkan makhluk lain.

“Bukankah menekan itu merupakan tindakan menunjukan dirinya, kekuatan dirinya, kemampuan dirinya?” Finung mencoba melalukan terobosan kepada Amang.


Kalau diberikan bahasan tentang itu aku akan mengembalikannya dulu ke asal kata yang saya ungkapkan tadi. Bahwa saya memaknai, preman adalah orang yang merdeka. Kalau kita menarik dari segi rohaniah, maka saya memaknai preman adalah manusia yang meniadakan kekuatan dirinya dan meniadakan kekuatan orang lain, kecuali kekuatan yang menciptakan dirinya.


Amang menarik nafas mencoba menjaga fokus kebaikan yang akan diberikan kepada teman-temannya. Finung, Eying, dan Emang yang dari tadi serius mendengarkan Amang secara bersamaan menarik kopinya masing-masing. Finung mengambil rokok kreteknya dan membakarnya.

“Nung kamu ngerokok terus. Kasihan Amang tidak bisa ngerokok dan dia sensitif terhadap asap rokok.” Emang mengingatkan Finung. “Sudah ya. Sekarang waktunya menikmati kopi dan kalian boleh menikmati bakaran rokokmu. Sekalian kalau bisa kalian nikmati bakaran pabrik yang lebih banyak asapnya.”[