Siapa sih yang tidak suka uang? Tapi, apakah anda tahu sejarah yang ada dibalik mata uang Indonesia saat ini? Rupiah adalah nama mata uang resmi Negara Republik Indonesia. Walaupun hampir setiap hari memegang dan menggunakannya, banyak diantara kita yang masih belum tahu asal muasal sejarah Rupiah. Hal ini terlintas di dalam benak saya, sehingga saya penasaran ingin mencari tahu sejarah dibalik mata uang Rupiah. Setelah melakukan riset di internet, Museum Bank Indonesia adalah tujuan yang paling tepat untuk mempelajari lebih dalam, sejarah dibalik mata uang resmi Negara Republik Indonesia.

Museum Bank Indonesia berada di daerah Jakarta Barat tepatnya di kawasan Kota Tua. Museum Bank Indonesia selalu dipenuhi oleh rombongan turis asing maupun lokal. Mereka terlihat begitu senang dan antusias sekali; ada yang sibuk berfoto ria dan ada juga yang sibuk membaca buku panduan museum.

Advertisement

Namun, keramaian ini tidak mengurungkan niat saya untuk mengeksplorasi keindahan Museum Bank Indonesia sembari belajar mengenai sejarah mata uang Indonesia. Tidak ingin membuang-buang waktu, saya segera membeli tiket di loket. Satu orang dewasa dikenakan biaya sebesar Rp.5.000,-. Tiket pun diberikan bersamaan dengan buku panduan yang akan membimbing perjalanan saya kali ini.

Saat saya memasuki ruangan pertama, saya langsung terkesima dan jatuh hati dengan desain ornamen dan arsitektur gedung ini yang begitu antik dan mewah. Bangunan gedung ini berdiri sangat kokoh dengan sentuhan arsitektur Belanda yang begitu kental. Gedung yang ditempati Museum Bank Indonesia saat ini mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi.

Sebelum menjadi Museum Bank Indonesia, gedung ini digunakan sebagai De Javasche Bank. Namun, Gedung De Javasche Bank terancam kerusakan sehingga pada akhirnya gedung ini dimanfaatkan dan dilestarikan Pemerintah Indonesia sebagai Museum Bank Indonesia. Museum ini diresmikan oleh presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 21 Juli 2009. Terhitung tahun ini, Museum Bank Indonesia telah berdiri selama 9 tahun loh!

Advertisement

Walaupun ini bukan pertama kalinya saya mengunjungi Museum Bank Indonesia, saya tidak pernah bosan mengunjungi museum ini karena Museum Bank Indonesia menceritakan sejarah perjalanan Bank Indonesia secara ringan dengan visual yang nyata sehingga pengunjung yang datang tidak akan merasa jenuh.

Ruang sejarah di museum ini bercerita mengenai sejarah Bank Indonesia dan peranannya dalam perjalanan sejarah bangsa. Ruangan ini cukup menarik bagi saya, namun ada satu ruangan yang memikat perhatian saya yaitu Ruang Numismatik. Ruangan ini bernuansa gelap dengan pencahayaan yang seadanya, namun jangan takut karena di ruangan ini pengunjung dapat belajar mengenai perkembangan mata uang Republik Indonesia yang disusun secara tematik dan kronologis sehingga pengunjung dapat benar-benar memahaminya dengan jelas dan mudah.

Berbagai bentuk dan jenis uang dari masa ke masa mulai dari zaman Kerajaan Hindu-Budha, Kerajaan Islam, Uang Kolonial hingga uang pasca kemerdekaan dipamerkan di ruangan ini. Melihat berbagai jenis mata uang dipamerkan di ruangan ini, saya pun makin antusias ingin mengetahui sejarah yang ada dibaliknya.

Pada awal kemerdekaan Indonesia, kondisi moneter Republik Indonesia sangatlah buruk. Namun, tak disangka-sangka kedatangan NICA ke Indonesia justru memperparah kondisi keuangan negara. NICA menguasai bank-bank Jepang dan mengedarkan uang Hindia Belanda baru yang dikenal sebagai uang NICA guna menarik simpati masyarakat. Keterbatasan dana dan tenaga ahli adalah alasan utama dibalik mengapa Indonesia tidak dapat segera mencetak mata uangnya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, desakan untuk mencetak uang sendiri mulai bermunculan. Akhirnya pada Oktober 1946, pemerintah menerbitkan ORI (Oeang Repoeblik Indonesia). Perederan ORI tersendat-sendat dikarenakan situasi keamanan yang tidak menentu, sehingga untuk sementara waktu pemerintah pusat memberi mandat kepada para pemimpin daerah untuk menerbitkan mata uang lokal yang disebut sebagai ORI-Daerah atau ORIDA.

Konferensi Meja Bundar pada Desember 1949 menghasilkan pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS). Alhasil, ORI dan ORIDA ditarik dari peredaran dan digantikan dengan mata uang RIS. Setelah beredar selama 7 bulan lamanya, uang RIS tidak berlaku lagi dikarenakan bentuk negara Indonesia yang kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia pada Agustus 1950.

Momen yang telah ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, pada 1953 uang kertas Bank Indonesia beredar untuk pertama kalinya. Uang ini dicetak di percetakan Thomas De La Rue & Co, Inggris dan percetakan Johan Enschede en Zonen Imp, Belanda. Seri pertama yang dikeluarkan Bank Indonesia terdiri dari seri hewan, seri pekerja tangan, seri bunga dan burung, dan seri tokoh nasional atau pahlawan.

Pada awalnya Bank Indonesia hanya menerbitkan uang kertas dengan pecahan lima rupiah ke atas. Uang kertas pecahan di bawah lima rupiah dan uang-uang logam dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia. Tetapi berdasarkan Penetapan Presiden No. 27/1965, Bank Indonesia diberi wewenang untuk mengeluarkan semua jenis uang dalam semua pecahan, menyimpang dari Undang-Undang No. 11/1953. Barulah pada tahun 1968, Bank Indonesia dinyatakan sebagai pemegang hak tunggal untuk mengeluarkan uang.

Waaah.. Ternyata ekspedisi mata uang Indonesia tidak semudah yang kita bayangkan yaa! Seiring berjalannya waktu terdapat berbagai rintangan dan jatuh bangun yang harus dihadapi, sampai akhirnya saat ini masyarakat Indonesia dapat menikmati Rupiah yang dicetak oleh Bank Indonesia. Oleh karena itu, sebagai Warga Negara Indonesia yang baik kita harus selalu mencintai rupiah walau dolar merajalela ya!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya