Awalnya aku ragu tentang rasa sayang yang ada dan tentang harapan untuk memilikimu seutuhnya. Aku takut jika aku hanya kesepian. Aku takut ini hanya perasaan sesaat. Dan kamu, merasa takut jika kita bersama malah berujung sebagai sebuah pelampiasan. Ini kedua kalinya aku merasa sesak di dada ketika kamu bercerita tentang kedekatanmu dengan orang lain. Kukira rasa sayang dan harapan itu benar adanya. Sesak di dada ini meyakinkanku jika itu nyata. Padahal aku memang seharusnya lebih tahu diri dan mampu mengendalikan hati. Setidaknya jika tumbuh rasa sayang, bukan padamu orangnya. Harapanku dulu begitu.

Sebenarnya aku siapa buatmu saat ini? Tak perlu kamu jawab. Aku tak butuh jawabannya. Aku tahu betul kamu anggap aku sebagai apa. Terlepas dari segala perhatianku, kepedulianku, waktu yang aku luangkan, dan segala keterbukaan diri kepadamu tak lantas membuatku lupa bahwa kita berbeda. Sedari awal harusnya aku pahami betul jika kita tidak akan berjalan kemana-mana. Kita akan tetap disini sebagai seorang sahabat yang saling memahami dan menggenapi dalam menyelesaikan masalah atau berbagi suka duka. Tak akan lebih.

Agama kita berbeda. Tuhan kita tidak sama. Keyakinan kita jelas tak sejalan. Aku tak menyesalkan dengan adanya segala perbedaan di antara kita. Aku hanya menyesalkan kenapa harus ada hati di dalamnya. Sampai aku harus kembali merasakan sakit di dada. Apa kali ini aku sedang tak tahu diri? Yang mencoba menampik segala logika dan lebih mengedepankan rasa. Jika dipertimbangkan kembali. Batasannya telah mutlak dan tak bisa kuganggu gugat. Aku menyerah. Tidak ingin memaksakan keadaan lebih jauh dari sekarang. Dan kamu telah lebih dulu melakukan itu sebelum aku.

Kamu yang mampu mengerti kondisiku. Waktu yang kamu luangkan sangat berarti bagiku. Katamu, banyak hal yang kamu butuhkan ada padaku. Kita saling mengerti. Tapi apakah Tuhan kita masing-masing akan mengerti bahwa kita sempat saling jatuh hati? Kuyakin Tuhan pasti tahu kondisi hati ini. Dan kuharap rasa ini segera Ia matikan agar tidak lebih banyak menimbulkan luka akibat logika seorang manusia. Seandainya kita sama, saat ini kita bersama. Menyatukan hati dan bekerjasama saling membahagiakan sebagai pasangan atas dasar cinta.

Perihal orang lain yang dekat denganmu saat ini. Kuharap dia mampu memahamimu lebih daripadaku. Mampu mengerti kamu jauh lebih hebat dari aku yang datangnya tak bisa setiap saat. Dia lebih mampu meringankan jalanmu dalam menjalani segala permasalahan kedepan. Dia mampu membuatmu nyaman untuk diajak diskusi demi membahas masa depan kalian. Setidaknya kalian seiman. Jalannya tak akan serumit aku dan kamu jika memaksakan. Kuharap dia lebih baik segalanya daripadaku agar aku merasa tenang.

Aku tidak apa-apa. Untungnya ini masih dini dan belum memuncak rasa sayangnya. Jika kamu dengannya, kamu pasti bahagia seperti yang kamu bilang. Aku juga akan bahagia. Aku tak munafik. Jujur kusampaikan padamu. Setidaknya ada yang menjagamu dan menggantikanku. Masa depannya pun lebih menjanjikan. Asal kamu tak kesepian lagi. Tak banyak murung dan bersedih. Menjalani hari lebih ceria dan bahagia. Walaupun bukan aku yang menemani, aku akan tetap memberimu selamat atas pencapaian yang kamu dapatkan.

Pernah di satu waktu yang kita lewati ada banyak tindakan dengan unsur kesengajaan kulakukan agar membuatmu jatuh hati. Tindakan itu berhasil meluluhkan hatimu. Katamu juga kamu pernah merasa sesak. Lalu berat hatimu saat kehilangan aku yang sengaja meninggalkanmu tempo dulu. Aku minta maaf. Kamu sudah tahu alasannya sekembalinya aku saat ini yang pernah memutuskan pergi darimu. Kuharap di waktu-waktu yang akan datang. Semoga kita tetap bersisian tanpa perlu saling melukai atas segala perbedaan yang ada. Biar rasa sayang ini kupertahankan sebatas sahabat yang saling menggenapkan. See you when i see you.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya