Jika diingat-ingat kembali, sejak aku lulus SMK, aku selalu memberikan kado pada Mama di hari ulang tahunnya. Bukan hanya Mama tapi Bapak juga, walau tahun ini aku hanya bisa memberi kado untuk Mama. Aku anak yang pemalu dan penutup. Aku juga tidak bisa berkata-kata dengan romantis secara lisan. Hanya dengan tulisan, aku bisa meluapkan perasaanku yang sesungguhnya. Lewat tulisan ini, aku harap perasaanku bisa tersampaikan.

Saat aku terjatuh dari tangga, rasa sakit yang seharusnya kuterima, entah kenapa berpindah ke Mama.

Advertisement

Kecelakaan itu terjadi saat aku masih berumur sekitar 1 tahun. Mama cerita, aku sempat tidak diawasi saat aku berjalan dibantu kursi beroda di sore itu. Sebenarnya kedua orang tuaku ada di rumah, Mama mengira Bapak mengawasiku yang ternyata malah berada di kamar mandi.

Aku yang masih tidak tahu apa-apa kemudian berjalan menuju belakang rumah. Dapur yang dulu berada di bawah tanah (sekarang dijadikan gudang) masih belum dipasangi pintu. Akhirnya aku terjatuh dari tangga tersebut yang tingginya sekitar dua meter dari lantai dasar.

Mama tidak cerita mengenai luka apa yang kuterima. Ia hanya bilang aku segera diurut sebagai tindakan antisipasi jika terjadi hal buruk pada tubuhku. Hal yang membuatku heran dan takjub adalah Mama cerita kalau aku tidak apa-apa, justru Mama yang sakit panas atau semacamnya.

Advertisement

Apa ikatan ibu dan anak sekuat itu sampai bisa menyalurkan rasa sakit anak pada sang ibu?

Foto candid favoritku adalah saat aku dan Mama ikut merayakan Hari Kartini.

Waktu aku masuk Taman Kanak-kanak, aku selalu diantar Bapak dan Mama menungguku di luar ruang kelas. Tidak jarang Mama tidak bisa menunggu dan hanya menjemputku saat aku pulang. Dari dulu sampai sekarang, Mama juga tidak bisa bersepeda (apalagi mengendarai motor dan mobil), makanya Mama selalu jalan kaki saat menjemputku. Karena hal itu, aku jadi terbiasa jalan kaki meski jalannya cukup jauh.

Lalu di bulan April, tepatnya di Hari Kartini, TK tempatku bersekolah mengadakan acara keliling area sekolah. Bahkan rutenya sampai ke rumahku yang berada di ujung komplek. Saat keliling tersebut, ada salah satu guru yang bertugas untuk mendokumentasi acara tersebut. Aku yang mengenakan kebaya Jawa warna merah mendapat juara juga di acara itu tapi aku lupa, juara apa yang kudapat.

Sekitar beberapa minggu kemudian, hasil dokumentasi dicetak dan dibagikan. Salah satu foto yang diberikan pada Mama yaitu foto kami sedang mengobrol. Aku yang berada di dalam rombongan mengibarkan bendera merah-putih yang terbuat dari kertas minyak berukuran kecil, sementara Mama berada di sisi kananku. Di foto itu, wajah kami berdua terlihat bahagia tanpa beban. Rasanya aku ingin kembali ke momen tersebut, walau pastinya mustahil. Kapan lagi kami akan berwajah seperti itu saat difoto?

Mama tetap menungguku sampai aku berani pergi sendiri ke sekolah.

Saat aku SD, Mama tetap menungguku di luar ruang kelas. Tentunya bukan hanya Mama, ibu-ibu yang lain juga. Anak-anak yang masih di kelas 1 SD memang rawan diculik karena di tahun itu sedang banyak kejadian penculikan, makanya Mama sulit melepasku begitu saja.

Sekitar semester dua saat aku kelas 2, akhirnya hanya Bapak yang mengantarku di pagi hari. Pulangnya aku disuruh bareng teman yang rumahnya searah denganku, termasuk anak tetanggaku. Sejak saat itu, Mama selalu mengingatkan supaya tidak boleh ikut orang asing saat diajak ke manapun atau jangan mau berhenti saat diberhentikan oleh orang lain di jalan (kecuali polisi ya), meski sekarang aku sudah kuliah.

Mungkin karena aku anak perempuan dan anak tunggal, ya. Mama sering berlebihan padaku, malah terkadang melarangku melakukan ini-itu. Bapak juga bersikap begitu, haha.

Tenang, Ma. Aku sudah bisa menjaga diri. Aku tahu mana yang benar dan mana yang salah, kok.

Ketika aku dihardik oleh mereka, Mama menangis untukku.

Ada banyak kejadian yang membuat Mama menangis karena sikapku. Salah satunya adalah ketika aku masih kelas 1 SMP, aku mulai bersikap tidak peduli pada lingkungan sekitarku. Aku tidak tahu kenapa tapi aku berpikir, aku tidak terlalu mengenal mereka jadi untuk apa menyapa atau ingin tahu lebih dalam tentang mereka? Mereka tidak benar-benar mengenalku, mereka hanya kenal Mama.

Pemikiranku ini memang salah, tapi mau bagaimana lagi? Tiap aku mulai berani menyapa, mereka justru tidak menyahut. Hal itu jadi sia-sia di mataku dan aku pun memutuskan akan menjawab hanya ketika ditanya. Sampai di hari itu, Mama benar-benar menasihatiku setelah ‘mereka’ mengadu atas sikapku yang tidak tahu diri. Aku bilang aku menjawab sapaan mereka. Tapi maaf Ma, suaraku terlalu kecil untuk menyapa mereka lebih dulu. Bukan berarti aku benar-benar tidak peduli.

Mama tetap bersikeras untuk menyuruhku melakukannya. Sikap keras kepalaku yang menurun dari Bapak menang. Aku tetap teguh pada pendirianku untuk bersikap demikian dan aku pilih ke kamar. Di sana aku menangis. Jadi semua yang kulakukan itu tidak baik? Lalu apa yang harus kulakukan? Karena aku tidak kunjung keluar kamar dan mendengar suara sesenggukan, Mama pun masuk ke kamarku. Mama juga menangis lalu mengulangi nasihatnya. Mama tidak ingin aku dicap orang sombong. Namun sekali lagi aku tetap pada pendirianku.

Hingga sekarang, aku masih bersikap demikian. Mama mulai bisa menerimanya asalkan aku mau menjawab ketika ditanya oleh orang lain. Mereka pun mulai tidak peduli dengan keberadaanku. Sejujurnya aku bersyukur dengan hal tersebut.

Seandainya aku punya jurus seribu bayang seperti Naruto, aku ingin melihat keadaan rumah saat aku tidak ada.

Aku ingat ketika aku ikut acara perpisahan SMP di Yogyakarta, Mama nangis tiap Maghrib. Mama yang cerita sendiri ke tetanggaku yang main ke rumah dan di saat aku ada di ruang tamu juga. Aku hanya diam. Tidak tahu harus bagaimana dan bersikap seolah bilang, “Oh, begitu”. Aku pun berpikir, seandainya aku tidak ada, apa yang dilakukan orang tuaku terutama Mama? Aku bukannya sombong tapi aku sadar kalau aku sangat berharga untuk mereka.

Di pundakku juga tersimpan harapan untuk mengangkat derajat keluargaku yang sekarang menjadi lebih baik. Meski begitu, aku tahu apapun yang terjadi, Mama akan menerima dan menyayangiku apa adanya. Terima kasih Ma, untuk semua hal yang sudah kau lakukan untukku.

Meski aku tidak mengatakannya secara jelas, tapi aku harap Mama mengerti kalau aku menyayangi Mama. Begitu juga dengan Bapak. Sampai sebelum aku mempunyai keluargaku sendiri, aku akan memprioritaskan kalian di atas kepentinganku. Aku juga minta maaf, Ma. Sejak aku memutuskan untuk menekuni bidang akuntansi, Mama selalu berdoa agar aku bekerja di dunia perbankan. Tapi masa depan tidak bisa diprediksi. Sekarang aku lebih berharap dan sedang berusaha menjadi Dosen atau pengajar bidang akuntansi. Jadi Ma, doakan ya semoga semuanya lancar.

Aku sayang Mama!

Selamat Hari Ibu!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya