Kaca Spion

Empat tahun yang lalu, guruku pernah bertanya “apakah fungsi kaca spion pada kendaraan mobil?” Semua murid sekelasku pun menjawab dengan cepat dan tepat. Tentunya fungsi kaca spion adalah untuk melihat ke belakang, agar pengemudi bisa mengkalibrasikan manuvernya.

Advertisement

Guruku menjawab kembali. “Sama halnya seperti sejarah. Kita semua harus bisa menjadikan sejarah sebagai bahan refleksi, dan patokan untuk merubah nasib. Apalagi generasi muda.” Analogi yang menarik bukan? Sejak momen itulah aku benar-benar mengerti kenapa kita harus belajar sejarah.

Menikmati Akhir Pekan

Tidak terasa, hari Minggu berjalan dengan sangat cepat. Waktu sudah menunjukkan pukul 3:30 sore. Dengan senang hati, kuambil keputusan untuk bertamasya di museum-museum Kota Tua. Ayah dan Ibuku pun mengangguk antusias. Rindu juga rasanya, sudah 8 tahun museum-museum itu tak kukunjungi.

Advertisement

Saat sudah dekat tujuan, jalanannya sudah dipenuhi dengan mobil dan motor pada sore itu. Rencananya, kami bisa sampai ke museum setidaknya 1 jam sebelum tutup. Sayangnya, mobil hanya bisa membawaku sampai pada pukul 4:30. Apa masih ada waktu kah? Kami pun menghampiri penjaga museum BI yang sedang memantau keadaan di gerbang masuk museum tersebut. “Maaf, museum sudah tutup.” Sebut penjaganya. Ternyata, bukan hanya museum BI yang baru tutup. Semua museum di daerah itu tutup jam 5 sore pada akhir pekan.

Apakah perjalananku selesai sampai situ saja? Tentu tidak. Mau dalam keadaan seperti apa, dan apapun yang akan terjadi, semua ini akan kunikmati bersama dengan ayah dan ibuku. Akhirnya, kami berpetualang seperti para turis asing yang kami lihat sepanjang jalan. Kupikir, museum-museum tersebut tidak harus dinikmati dari dalam. Kucoba untuk membayangkan kota Jakarta 80 tahun yang lalu.

Kebetulan, ibuku mendalami ilmu arsitek dan desain. Dia bahkan pernah bertemu dengan arsitek dari Belanda, yang kebetulan pula memiliki keprihatinan khusus pada bangunan Kota Tua di Jakarta. “Eh, sambil jalan-jalan, bahas arsitektur bangunannya yuk!” Sahutku kepada ibu.

Dari Neoclassical ke Colonial

Kalau diamati sekilas, bangunan-bangunan tua yang berada di kawasan Kota Tua khas dengan bentuknya yang simetris, serta pintu dan jendela yang besar. Ciri khas inilah yang disebut dengan arsitektur gaya Colonial. Sejarahnya, gerakan konsep arsitektur ini dikembangkan dari gaya Neoclassical yang lahir di Eropa. Bangunan-bangunan yang dirancang cendrung simetris. Jendela dan pintu masuk memiliki bentuk segitiga lancip, atau semi-lingkaran pada bagian atasnya. Selain itu, komponen-komponen gedung (seperti jendela, kolom, dan tinggi sebuah lantai) berskala besar, sehingga menciptakan kesan megah.

Akan tetapi pada saat Belanda sampai di Indonesia, para arsitek pun harus mencari solusi untuk menciptakan bangunan-bangunan tersebut agar tahan iklim tropis. Untuk menciptakan sirkulasi udara yang optimal, jendela bangunan memiliki ukuran yang besar, dan berbahan kayu. Jenis kayunya tidak sembarang, kayu Jati namanya. Diperoleh dari pohon Jati yang banyak tumbuh di pulau Jawa.

Pihak Belanda pada masa itu dengan mudah bisa membangun gedung-gedung yang bukan hanya ikonik, tetapi juga tahan lama. Aku melihat bayangan bagaimana gedung-gedung ini mencerminkan pemikiran para arsitek pada masa kolonial. Seakan, mereka menciptakan kesan gedung megah dan gigantis untuk menakut-nakuti rakyat pribumi. Walau begitu, ternyata nenek moyang kami masih bisa melawan rasa takut dan berjuang dengan berani, Bangga rasanya jika kubayangkan skenario itu.

Kami masuk kafe Batavia

Kembali ke perjalananku di Kota Tua, mengarungi samudera manusia pada alun-alun. Tak jauh di depan pandanganku, sebuah gedung beringkat dua memberikan sebuah hembusan nostalgia. Itulah Kafe Batavia. Akhirnya seribu langkah membawaku dan keluargaku ke tempat ini, tempat yang mengundang para petualang yang tidak lelah mencari suasana baru. Dalam sekejap, rasa pegal kaki pun menghilang.

Seorang pelayan kafe pun menyapa kami dengan hangat. Di sudut lantai dasar, terlihat ada sebuah panggung dipenuhi alat musik. Aku memperhatikan ada piano, drum, gitar, alat-alat standar. Pandanganku teralih ke dinding. Tampak sebuah bas viol antik, terbuat dari kayu berwarna jingga kecoklatan. Barang ini sangat cocok dengan tema kafe, sehingga menyatu dengan keseluruhan.

Sebagian besar kursi, lantai, kolum (tiang penyangga bangunan) dan langit atap terbuat dari kayu Jati. “Sejak awal abad ke-20 gedung ini dibangun, nggak banyak yang diganti. Seluruh lantai, kolum, dan struktur dinding nggak ada yang diubah.” Begitu kata salah satu pelayan kafe yang menghampiri meja makan kami di lantai 2.

Kami benar-benar merasakan atmosfir yang santai, tetapi sulit untuk digambarkan. Tempat ini memberi kesan seakan saya berada di Eropa. Tetapi kali ini, ada perasaan lain yang muncul. Ada rasa tegang, rindu, angker, dan prihatin, tercampur dalam kombinasi yang tidak biasa.

Rasa rindu itu muncul saat melihat beberapa art piece dan beberapa foto yang menampakkan raut wajah orang-orang penting pada masa kemerdekaan. Semua dinding kafe dipenuhi dengan bingkai-bingkai foto ini. Sangat sulit untuk mencari bagian dinding yang putih bersih. Mataku pun tertuju ke ruangan toilet kafe, kebetulan daun pintunya berada dalam kondisi terbuka. Wah, ini membuatku lumayan terkejut! Ternyata, dinding dalam ruangan toilet pun dipenuhi dengan gambar-gambar berbingkai itu. “Hmm, penata ruangannya kreatif juga ya…” bisikku dalam hati. Rasa penasaran membawaku memasuki ruangan itu.

Angker Juga Ya?

Rasa tegang mulai merasuki diriku. Percayalah, orang lain akan merasa hal yang sama. Berada di dalam toilet kafe itu sendirian, seseorang tidak mungkin terintimidasi oleh wajah-wajah foto tersebut yang selalu melihat balik. Tidak lupa juga keberadaan cermin raksasa yang kira-kira berukuran 2 meter per 1.8 meter. Pada saat aku berdiri di depan cermin itu, rasanya seperti ada manusia lain yang sedang bercermin. Tidak heran, toilet ini dicap sebagai tempat yang angker. Apakah mungkin ada penunggunya? Begitulah kira-kira topik obrolanku dengan pelayan kafe, sesudah kembali ke tempat duduk.

“Sebelum Indonesia merdeka, sebenarnya tempat ini belum jadi kafe. Gedung ini dulu dipake buat jadi rumah dinas. Terus pas di seberangnya, museum Fatahillah jadi kantor gubernurnya.” Begitu kata pelayan kafe. Perbincangannya kuikuti dengan antusias, begitu juga dengan ibu dan ayahku. Dia pun melanjutkan ceritanya. “Pas masih rumah dinas, tempat toilet gedung ini dulunya kamar penginapan rumah dinasnya.” “Hayo lho, ada penunggunya…” ucap ibuku.

Foto gedung dinas (sebelum menjadi kafe) Sumber: https://dananwahyu.com/2013/09/17/my-heart-melting-cafe-batavia/samsung-csc-122/

Menikmati Akhir Perjalanan

Nevertheless, menurutku sore ini sangat berwarna. Perjalanan penuh dengan kejutan dan hiburan mendadak. Kami sengaja memilih tempat duduk di pinggir jendela. View nya pas berhadapan dengan gedung Fatahillah. Mengakhiri hari yang lelah, kusandarkan badanku ke jendela, lalu kulihat pemandangan di luar. Keramaian alun-alun di bawah menarik perhatianku. “Ramai banget ya alun- alunnya, seperti dikerubuti semut! Nanti malem bakal lebih ramai nih…” ucap ibuku.

Menurutku, anak muda Jakarta harus bisa melihat Jakarta dari sudut pandang seperti ini. Kita harus bisa merasakan rindu, tegang, ramai, dan semua rasa yang mengaduk-aduk hati. Jakarta bukan hanya kota metropolitan, kota keren, atau kota macet. Jakarta juga memiliki rasa yang terkandung dalam masa lalunya. Jadilah seorang pengemudi yang menggunakan kaca spion dengan baik. Pengemudi yang bisa menyesuaikan posisi dan tujuannya berdasarkan latar belakang. Pengemudi yang maju dengan cara melihat ke belakang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya