Sebelum Pandemi Sibuk, Setelah Pandemi Sibuk Gabut. Pandemi Mengajarkan Kita Cara Bersyukur!

Mayoritas orang yang hidup, waktu dan kesehatan merupakan 2 hal yang sangat penting. Apalagi bagi seorang anak kost perantauan seperti Saya yang berasal jauh dari Kota Jogja, bahkan kampung halaman pun berlokasi di Luar pulau Jawa. Lama kelamaan terbiasa sudah dengan ketidak hadiran  keluarga disisi, walaupun harus melewati masa-masa home sick terlebih dahulu. Kesedihan tak boleh lama bertengger dipikiran, karena tujuan datangnya untuk merantau tudak lain dan tidak bukan adalah untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya, ilmu apapun itu, termasuk ilmu kehidupan.

Selain menjadi mahasiswi yang pergi dan pulang kampus, keseharian Saya juga menjadi seorang model. Model runaway, model catwalk, model catalog, model bridal gown, model photoshoot, model videoshoot, model content creator dan semua itu bisa dibilang sebagai freelancer. Hal ini Saya lakukan disela-sela kuliah semata-mata untuk menambah uang saku, tak jarang juga berdampak pada pengalaman, ilmu dan relasi yang bertambah. Hati terasa senang dan gembira untuk menjalani kegiatan ini, walaupun terkadang tumbang dan diumpan dengan paracetamol serta nasi padang saja. Pernah terbesit dihati berkata ingin istirahat dengan nada dongkol, kesal, capek, lelah, letih bercampur menjadi satu.

Ternyata Tuhan sangat baik, mendengar langsung do’a Saya lalu diijabah. Tepat pada bulan Maret tahun 2020, kampus meliburkan mahasiswanya selama 2 minggu. Akan tetapi, libur kali ini antara senang atau sedih. Senang karna do’a yang dikabulkan sehingga bisa beristirahat dan sedih karna virus Covid-19 masuk ke Indonesia dan mulai banyak yang tertular. Sehingga skenario yang menyeramkan pun terpikirkan, bahkan ada yang bilang virus Covid-19 ini seperti Zombie bagi manusia yang terjangkit. 

Virus yang berasal dari Wuhan, provinsi Tiongkok ini telah banyak membuat negara diseluruh belahan dunia gempar. Bagaimana tidak, penyebaran yang begitu cepat dan terjangkitpun mudah. Sempat merasakan bahan pangan, obat-obatan dan alat kebersihan langka di pasaran karna masyarakat terdoktrin panic buying. Apalagi masker beserta kawan-kawannya, sampai kosong stok dimana-mana bahkan jikalaupun ada, pastinya harganya jauh melambung tinggi.

Di masa inilah Saya jarang menerima tawaran job modelling, jarang menerima ya karna tidak ada tawaran sama sekali. Jangankan job modelling, warung makanan saja banyak yang tidak buka, pasar juga terbatas bukanya, sehingga berpengaruh sekali dengan apa yang dimasukkan kedalam perut. Sudah rasa lapar yang melanda, rasa takut dan cemas terhadap virus Covid-19 jikalau keluar kost-an, belum lagi pikiran tentang bagaimana kondisi kesehatan keluarga di kampung halaman. Saat itu seluruh manusia benar-benar di uji kehidupannya, rasanya sangat bersyukur jika masih diberi kesehatan dan penciuman yang tidak hilang.

Fase penyebaran virus Covid-19 di Indonesia cukup berliku, mulai dari lockdown, new normal, PSBB, PPKM, PPKM level 4, PPKM level 3, PPKM level 2 dan PPKM level 1. Banyak acara yang sebelumnya sudah direncanakan dengan matang tiba-tiba dibatalkan. Tidak banyak hal yang dilakukan di kost, seperti halnya bagaimana anjuran pemerintah Indonesia untuk tetap di rumah saja. Membuat dalgona coffee adalah kegiatan terviral pada masanya. 

Parahnya lagi, Saya tetap mengikuti tutorial membuatnya di TikTok dengan menggunakan saringan yang diaduk ke bahan dalgona nya, butuh waktu lebih dari 1 jam untuk menghasilkan buih ala dalgona. Padahal, cukup dengan cara di blender saja sudah membentuk buih yang banyak dalam selang beberapa menit. Tapi lumayan kan ya untuk mengisi kegabutan selama pandemi. Sampai ada beberapa musik  TikTok ala awal-awal pandemi, jadi jika musik itu diputar langsung teringat awal bagaimana menyikapi pandemi ini.

Tahap per tahap virus Covid-19 mulai terlewati, yang tadinya ampuh mengganas, sekarang rapuh bagaikan kertas. Perlahan mulai memudar tetapi tidak habis total. Mungkin Covid-19 sudah lelah. Pertanda kuliah tatap muka akan segera meluncur. Hati yang sudah tak sabar ingin bertemu teman-teman semasa seperjuangan saat ospek dulu. Maklumi saja, kami adalah mahasiswa yang kurang dari 2 semester baru merasakan injak kampus. Siapa sangka sekarang sudah semester 5 saja. Begitu juga dengan organisasi di kampus yang mati atau tidak berjalan selama kurang lebih 2 semester.

Untuk menyambut keaktifan kampus dan kegiatan sehari-hari setelah terbungkam dikamar kost, akhirnya Saya memutuskan untuk mengikuti salah satu  organisasi eksekutif, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa. Jiwa yang semulanya memang aktif dan produktif akhirnya terasah lagi dengan memasuki organisasi ini. Lalu job pun kembali berdatangan. Walaupun tidak sebanyak sebelum pandemi, tetapi Saya sangat bersyukur bisa produktif kembali dan menghasilkan uang saku untuk sehari-hari di kost. 

Pandemi ini sangat mengajarkan kita bagaimana cara bersyukur, menyangka nasib kita yang malang padahal ada banyak orang yang lebih malang nasibnya dari kita. Seperti banyaknya anak-anak yang kehilangan orang tua mereka karena terjangkit virus Covid-19, disini Saya banyak bersyukur karena orang tua Saya sehat dan tidak terjangkit virus Covid-19.  Kita harus menerapkan hidup sehat dan selalu mencuci tangan sebagaimana anjuran Kementrian Kesehatan Republik Indonesia serta selalu menggunakan masker yang layak dan rekomendasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Sebenarnya pengalaman saat masa yang telah lalu itu selalu indah. Coba saja saat kita sedang menempuh masa yang sulit itu, pasti rasanya lelah sekali. Begitu juga dengan pengalaman Covid-19 ini, kalau dipikir-pikir lagi bisa tertawa dibuatnya.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini