Kepada segelas kopi yang pernah menyaksi, aku mengadu. Kepada suasana pagi kala itu, aku mengaku. Berbekal kenangan mendalam yang berwadah hunian mungil guna mengenyangkan rindu di waktu arunika yang sendu. Kepada dinding perpatahan, aku menyandar.


Advertisement

 

Assalamualaikum, lelakiku.

Teruntukmu, lelakiku…

Advertisement

Bagaimana?

Nampaknya sudah lama kita tidak saling beradu tatap. Rumah barumu disitu, apakah melegakanmu? Disitu, apakah kau mendapatkan segelas kopi juga setiap pagi? Apapun dan bagaimana pun rumahmu sekarang semoga tak mengkhianati harapku. Jika kau sempat, tolong bantu aku. Bantu tanyakan kepada semesta, bagaimana caranya menuntaskan rindu kepadamu yang berada di nirwana?

Lelakiku…

Ijinkan dan biarkan aku menyampaikan segalanya kepadamu. Melalui ini, kutuliskan kata demi kata yang telah menggudang, memaksa diutarakan.

Ribuan hari sudah hingga tak tahu berhenti pada hitungan ke berapa, aku tanpamu. Menapaki jejak-jejak mungil sisa sekolah dasar tanpamu. Tanpa usapan lembut tangan yang mulai mengeriput. Tanpa deru motor yang mengantarku tiba di gerbang sekolah lewat pukul tujuh. Betapa aku ingin mengadu pada semesta. Aku merindukan remukan kenangan yang masih ku ingat. Betapa berat segalanya kulalui tanpamu.

Percayalah, bahwa aku terus berkembang dan mengalami pertumbuhan. Terus menapaki sekolah-sekolah berikutnya. Lukaku meradang. Setiap acara pelepasan di masa akhir sekolah, aku gagal mengajakmu turut serta. Namun, segalanya terbayar oleh senyum bahagia satu wanita, yang kuyakin harapnya juga kau menyaksikan ini. Menyaksi aku sebagai salah satu siswa yang meraih prestasi.

Lelakiku…

26 November 2004 adalah hari terakhirmu melihatku menggendong tas sekolah dan mengantarku. Setelah itu, aku masih belum memahami mengapa aku tidak diantar lagi.

Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan. Ada banyak luka yang aku ingin, kau sembuhkan. Mereka bercerita tentang ayah mereka yang baik, yang suka memberikan kejutan, yang sering mengkhawatirkan hingga berbagai cerita menggemaskan lainnya. Aku menunduk menahan perih. Semakin aku menyimak, semakin aku ingin teriak.

Belakangan ini aku sangat merindukan rumah mungil kita. Suasana dan kesibukan di kota rantau tidak serta merta membuatku lupa akan rinduku pada segala hal tentangmu. Terlebih di masa aku tidak memiliki semangat apa-apa.

Kehilanganmu tidak pernah menjadi bagian dari anganku. Aku belum memahami makna kehilangan dan kematian yang pasti kala kau meninggalkan kami. Segalanya baru kurasakan dan kumengerti setelah kepergianmu.

“Yang tabah ya nak”, kalimat itu yang selalu kudengar pada malam kepergianmu dari sekian banyak orang yang bergantian datang. Berbaring bersama wanitamu, saling memeluk dengan tenang dan aku memandangnya. “Betapa tegarnya dia”, gumam batinku. Perlahan aku memahami. Kau pergi dan tidak akan kembali pada kami.

Lelakiku…

Betapa aku ingin kau menyaksikan aku tengah belajar. Mencatat berlembar-lembar laporan praktikum. Mengenakan jas laboratorium berwarna putih dan melekatnya nama serta nomor induk mahasiswaku. Betapa aku ingin menunjukkan padamu sarung tangan yang selalu kebesaran ketika kugunakan untuk praktikum.

Mengenalkanmu pada orang-orang yang mau menjadi temanku dan banyak membantu studiku. Memberitakan kepadamu, orang yang membuatku jatuh cinta. Aku jatuh cinta. Cemburukah kau mengetahu itu? Betapa aku membayangkan pada malam yang kita habiskan dengan mengupas habis hari yang kulewati di ruang tamu. Aku akan menceritakan juga mengenai dia. Akan kupastikan ia mengenalmu dengan baik. Jika kelak dia memintaku darimu melalui wanitamu, berikanlah kepingan kelapangan hatimu. Tanda restu atas pilihanku.


Pada akhirnya, cinta dan kehilangan adalah dua hal yang selalu berjodoh. Kehilanganmu membawa bisikan bahwa kembali pada Yang Maha Indah adalah hal terindah. Disini aku mendoakan kebahagiaan dan keselamatanmu, bersama-Nya. Kelak aku ingin menjadi salah satu bidadari yang mendampingimu di rumah barumu.


Wassalamualaikum, lelakiku.

 



Yang membisikkan rindu,

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya