Angin berhembus menerpa wajahku di malam ini yang begitu dingin, meniup setiap helai rambut yang kubiarkan tergerai, telusuri jalan menuju rumah berdua dengan sahabatku di jalan yang tampak lengang itu. Kulalui bersamanya dengan candaan dan ketawa renyah yang khas menghiburku seiring waktu, tanpaku sadari kamilah sampai di halaman rumahku, tak ku sangka waktu secepat ini menyudahi leluconmu dan memisahkan kita. Sampai jumpa esok hari. Ku dapati ibu berada di sofa perlahan ku dekati dia, terlihat bahwa dia meneteskan air mata.
Ada apa? Kenapa dia menangis? Aku tak tahan melihatnya seperti itu, kupeluk dia erat terasa begitu tenang jiwaku saat memeluk tubuhnya rasa lelahpun tergantikan dengan hangatnya dekapan ibu dan saat kutanya mengapa dia menggeleng semakin mendekapku erat. Pagi ini begitu cerah kutapaki anak tangga dengan tas sekolah yang ku sampirkan di pundakku, kuturuni senigai kemudian menuju dapur, tempat dimana ibuku setiap hari menyiapkan sarapan untukku dan benar aku menemukannya.
Kupandangi wajahnya begitu dalam, tampak lebih baik dari tadi malam namun matanya tersirat akan sesuatu yang tersembunyi. Entah itu apa, aku tak tahu dan tak lama aku pasti mengetahuinya, ibu teruslah tersenyum untukku pagi ini, esok, lusa dan selamanya. Hari-hari seperti biasa rutinitas yang sama yaitu belajar, banyak hari yng masih akan ku jalani juga rintangan yang harus kuhadapi, tanggapan sebagai anak tunggal salah satunya dan ayahku yang telah menemui sang pencipta terlebih dahulu. Aku harus mandiri menaklukkan dunia ini dengan semangat baja, membanggakan ibi serta ayah, membuatnya tersenyum beruntunglah aku dengan kehadiran ibu juga sahabatkku yang selalu memberi support dan nasehatnya.
Cuaca malam kali ini tak bersahabat langit tak mau menampakkan kemintang yang tertutup oleh gumpalan awan hitam, angin sepoi-sepoi menerobos melalui celah-celah jendela. Gegana meleleh menitikkan air mata dan seakan tak ingin berhenti, langit terus menangis dimalam yang tengah larut membuatku semakin terasa kantuk drngan susana hujan meninabobokan. Lain kali ini cahaya terang menyilaukan pandangku, semat terdengar suara sirine dan isak tangis menyertai dan deraian air mata tumpah seketika itu. Indra penglihatanku terpenjam dan hanya dapat merasakan genggaman tangan, deru mesin serta detak jantungku sendiri.
Aku hanya terbaring dengan bantuan oksigen, infus serta alat medis lain. Kudengar lantunan ayat suci yang dibacakan serta doa yang mereka panatkan, aku terharu. Rasa sakit ini tak seberapa dengan sakitnya ibu melihat keadaanku, andai waktu dapat ku ulang aku tak akan pergi malam itu dan berada di rumah, di sampingnya. Membuatnya tertawa dengan kekonyolanku, semua ini percuma karena tak akan merubah apapun. Hari terus berganti, ku terbangun dari tidur panjang yang berbulan-bulan, rasa sakit itu masih terasa di seluruh tubuh. Ku dengarkan pandangan ke sekeliling hanya kudapati sahabat dan tanten, mamah sahabatku. Kutanyakan keberadaan ibuku mereka hanya menggeleng tak mau bicara, aku semakin bingung ketika mereka menangis dan menatapku pilu. Apa yang terjadi?
Desakan dariku membuat tante mau bicara menceritakan semua yang terjadi. Sahabatku berusaha menenangkanku, rentetan peristiwa itu terjadi karena ulahku, semua ini salahku aku sangat terpukul. Dia menjual satu-satu ginjal yang dimiliki hanya demi aku, dia rela kehilangan nyawanya. Deras tetesan air kata berjatuhan, terisak aku menangis.Ibu maaf.. maafkan aku… ibu.. maaf…, hujan rintik – rintik membasahi wajah?
Tubuhku tidak terasa berjatuhan air. ASTAGA!!, Ini bukan hujan tapi percikan air pada wajahku itulah kebiasaan ayah saat masih di sini untuk membangunkanku agar sholat subuh. Ahh untunglah itu hanya sebuah mimpi, aku tak bisa membayangkan jika itu memang terjadi. Mentari menampakkan dirinya dilangit belahan timur, rasa syukur terus ku ucapkan karena tuhan masih memberikan kehidupan untukku juga orang yang ku sayang, ibuku. Meskipun tanpa ayah yang tak berada di sampingku lagi, ayah tenanglah disana aku berjanji akan menjaga diriku dan ibu demgan baik, aku selalu mendoakanmu di sini bersama ibu, semoga kau bahagia. Tuhan, berikan tempat yang indah untuk ayahku, aminn.
"Ibu mengapa menangis malam itu? " tanyaku, tidur dipangkuannya. "Ibu hanya teringat ayahmu. Biasanya ketika sore hari ayahmu yang menemani dan membantu ibu didapur. "Jelasnya, "dan.. kamu yang pulang malam"tambahnya. "Maaf bu.. aku tidak akam pulany telat lagi, janji. "Jariku terangkat mebentuk huruf V. Aku bahagia sekali melihatnya tersenyum lebar, aku tak akan membiarkan senyum itu hilang karena benguk yang terselubung.
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”