Film Love Alarm Tentang Nilai Diri di Era Media Sosial. Nggak Melulu Jumlah Likes Itu Penting Kali!

Harga dirimu jauh lebih penting daripada jumlah likes

Film Love Alarm yang baru dirilis tanggal 22 Agustus kemarin menceritakan bagaimana sebuah apps dapat memberi tahu pengguna apakah seseorang di sekitar radius 10 meter memiliki perasaan romantis terhadap mereka.

Advertisement

Sekilas film ini terlihat seperti film romantis biasa, namun, jika ditilik lebih jauh lagi, film ini merupakan sebuah reminder bagaimana sosial media merubah cara sosialisasi anak remaja dan dewasa muda (a.k.a milenials dan gen Z).

Apps love alarm sebagai perlambangan seperti social media hits, dimana orang-orang berlomba-lomba mengumpulkan loves dan likes dari orang lain.

Tentang perilaku bagaimana si pengguna merasa depresi saat tahu tidak ada pengguna lain yang menyukai dia, yang melakukan segala cara untuk bisa masuk dalam badge club, atau menjadi akun populer, contohnya dari membeli likes.

Bagaimana kesukaan sesorang harus dibuktikan melalui apps, saling membunyikan love alarm, kalau tidak itu berarti bukan suka. Sama seperti kehidupan sekarang. Kalau pacaran, keduanya harus diumbar ke sosmed. Kalau kenalan langsung saling bertukar sosmed, bukti berteman baik harus saling like dan komen, marah, sedih, kesel, semua harus curhat dan di-sharing di sosmed.

Seperti di film bagaimana apps love alarm ini merubah penilaian pribadi dan cara berperilaku sosial setiap karakternya, sosmed juga kurang lebih membentuk penggunanya di dunia yang sesungguhnya ini.

Advertisement

Pernahkah kamu bertemu teman baru yang ternyata tidak menggunakan sosmed yang hype itu? Atau mungkin teman baikmu yang memilih untuk tidak menggunakan sosmed tersebut? Apa yang kamu lakukan? Kamu pasti meminta mereka untuk men-download dan membuat akun sosmed itu.

Kamu bahkan membujuk dengan memamerkan betapa serunya sosmed tersebut entah karena artis favorit kalian juga menggunakan atau betapa serunya karena kalian bisa dengan mudah mengetahui kabar teman-teman tanpa perlu menghubungi mereka 1 per 1.

Memang tidak ada yang salah dengan mengikuti perkembangan trend, mendownload semua apps, memiliki akun disemua social media platform. Tapi ini menjadi salah saat kamu merubah semua value hidupmu dan “menyembah sosmed”.

Yang dimaksud dengan “menyembah sosmed” adalah hidupmu menjadi terorientasi dengan sosmed. Lagi makan harus difoto dulu, lalu seluruh followers di sosmedmu harus tahu kamu lagi dimana, dengan siapa, makan atau minum apa, belanja apa, dapat hadiah apa, dan lain lain.

Tidak salah membagikan kabarmu kepada orang lain, tapi ini tidak membuat semua orang harus sama sepertimu. Hargai juga orang lain yang memiliki value berbeda, yang memilih untuk tidak menggunakan sosmed sepertimu. Terima juga kalau mereka memilih untuk tidak meng-follow akunmu. Kan tidak ada kewajiban untuk seluruh umat manusia di dunia mengikutimu.

Hanya karena orang lain tidak sering sharing di sosmed, bukan berarti hidupnya tidak menyenangkan. Coba lihat kembali hidupmu, dengan sering-sering sharing di sosmed apakah otomatis hidupmu selalu menyenangkan? Belum tentukan?

Apa kamu yakin semua makanan yang kamu bagikan, baju-baju keren yang setiap hari kamu upload di sosmed benar-benar membuat kamu senang? Apa yang terjadi dengan barang-barang dan makanan-minumanmu setelah kamu foto?

Ada beragam alasan orang lain memilih untuk tidak membagikan kesehariannya di sosmed. Mulai dari ingin adanya privasi, sampai ingin menikmati setiap momen di hidupnya. Toh moment ini hanya terjadi sekali seumur hidupnya, jadi gak ada salahnya untuk menikmati setiap detik.

Jika menurutmu tidak semua hal perlu dibagikan di sosmed, seperti ukuran sepatumu, begitu juga tidak semua orang perlu membagikan hidupnya di sosmed. Tetap hargai mereka sebanyak apapun jumlah akun, likes, dan followers-nya. Hanya karena mereka menilai sosmed dengan cara yang berbeda denganmu bukan berarti kamu berhak untuk meng-judge mereka.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Spilling irregular ideas through words

CLOSE