Rindu itu, perkara berat. Berat dikendalikan, berat menghilang, berat diutarakan hingga berat tertuju.

Kemarin ketika aku menonton Dilan 1990 bersama teman-teman, gombalan yang mengguncangkan hatiku juga teman-teman yakni โ€œJangan, rindu itu berat. Kau tak akan kuat, biar aku sajaโ€. Kalimat ini memang mengandung magis karena seketika di sepanjang jalan, juga di tempat ibadah gombalan-gombalan Dilan lebih sering terdengar daripada nyanyian pujian, atau ayat kitab suci yang menenangkan gelisahnya jiwa.

Advertisement

Aku hanya tersenyum bila mendengar orang-orang berteriak sambil mengatakannya. Pikirku, ini memang kalimat yang lebih menyenangkan dari pada mendengar "Aku cinta kamu" sebab kalimat ini menunjukan ketulusan yang membiarkan diri sendiri menanggung rindu yang berat.


Rindu yang seketika menghilangkan lelapnya tidur, rindu yang membuat pikiran menerka-nerka apa yang terjadi pada tujuan rindu dan masih banyak lagi yang memang menyatakan bahwa rindu itu berat, namun tetap memastikan bahwa dia baik-baik saja menanggung rindu.


Juga ketika aku membaca semua kiriman para pemuda di sosial media yang menyatakan hal yang sama, aku hanya merasa bingung. Rindu itu memang perkara sangat berat, tapi mengapa begitu ringan mengatakan? Oh ya, mungkin kita merindukan sosok seorang Dilan yang terus mengumbar rindu. Tapi sadarkah kita, bahwa Dilan hanya mengatakan rindu pada Milea seorang?

Advertisement

Ya, walaupun kita juga tahu karena kita berperan sebagai penonton. Bagiku, perkara rindu adalah sangat bersifat pribadi. Tak mengapa jika terus mengumbar rindu, namun jangan terlalu sering. Tujuan rindu kita pun merasa berat bila terus mendengar pengumbar rindu menyampaikan maksudnya. Aku lantas berpikir, sangat benar jika rindu ini harus bersuara agar tujuannya tercapai, agar rindu ini juga tak membukit dan tak meracuni diri sendiri.


Rindu itu bersifat ringan, bilamana jika muncul sesekali pula sebaliknya akan berat bila muncul berulang-ulang.


Pikiran kita terus mengarah pada film Dilan 1990 ketika Milea terus merindukan Dilan, rasanya sangat berat bukan? Karenanya menurutku rindu itu harus dikendalikan, makanya jawaban Dilan pada percakapannya bersama Milea menunjukan bahwa dia mampu mengendalikan rindu. Dilan sangat tahu bahwa rindu adalah sikap yang sangat tulus dan bersifat sangat pribadi. Dilan pun paham bahwa rindu itu jangan dipendam, harus diutarakan tapi dalam kadar yang wajar.

Jawaban Dilan yang paling hits ini agaknya terdengar seperti sebuah gombalan, namun bagiku jawabannya sudah sangat menunjukan bahwa cintanya sangat besar dan tulus tapi terbungkus dengan rayuan yang skeetika mampu menerbangkan Milea ketika mendengarnya.

Itulah secuil pendapatku mengenai "Jangan, rindu itu berat. Kau tak akan kuat, biar aku saja." milik Dilan. Maafkan bila yang aku utarakan, tak sesuai dengan pandangan teman-teman.

Terima kasih, Tuhan Memberkati!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya