Untuk kamu, pria yang ratusan hari selalu aku cintai sampai aku tak mengenali diriku sendiri.

Sayang, sungguh aku bukanlah sebuah boneka. Yang bisa kau permainkan sesuka inginmu dan kau abaikan ketika kau tidak membutuhkanku. Aku perempuan yang memiliki perasaan dan mengerti bagaiman sakitnya kau abaikan. Aku perempuan yang sesering mungkin mengingatkanmu agar kamu tidak telat makan, yang tidak pernah bosan dan berhenti mengerti kamu dengan segala permasalahan yang sedang kamu alami. Namun akhirnya, aku harus menyedari bahwa semua yang telah aku lakukan, bagimu memang tidak berarti apa-apa.

Advertisement

Mungkin aku memang tidak pernah cukup untukmu. Sekeras apapun aku mencoba memahami, seberat apapun usahaku untuk mencintaimu, sesering apapun aku maafkan dan maklumi semua kesalahanmu, semuanya kurasa sia-sia. Sakit menghadapi kenyataan bahwa aku tidak pernah memiliki tempat dihatimu dan dipikiranmu, sakit menghadapi kenyataan bahwa aku mungkin hanya bermimpi menjadi perempuan satu-satunya yang kau sayangi.

“Kamu emang selalu berhasil! Berhasil bikin aku emosi! Selalu berhasil bikin moodku hancur!”

Salah satu kalimat yang masih aku ingat, darimu. Mungkin memang aku seperti itu.

Advertisement


Aku tidak pernah kau jadikan pelangi, ketika hujan dihari-harimu berhenti. Aku tidak pernah kau jadikan matahari, ketika kamu kesana-kemari mencari cahaya. Aku tidak pernah kau jadikan selimut, bahkan ketika kamu menggigil kedinginan.


Sayang, apa salahku? Selama ratusan hari aku bersamamu, salama ratusan hari juga kau menjadi orang yang membuatku tertawa tanpa usaha dan membuatku menangis tanpa memakai rasa.

Ingin rasanya, tiba-tiba kamu merasa kembali kemasa lalu. Ketika masih dan selalu ada aku disampingmu. Ketika aku yang berusaha keras membuatmu tersenyum saat bangun pagi hingga tidur malammu. Saat kamu sangat sering mendengar ungkapan rinduku, saat aku menjadikanmu segalanya.

Pangeran dan pahlawan dalam hari-hari dihidupku. Aku ingin kamu merasakannya. Tapi kenyataannya, setiap malam, aku duduk disudut kamarku. Masih menerka-nerka jam berapa handphone ku akan berbunyi dan memunculkan namamu disana..

Aku ingin tahu, apakah kamu merindukanku? Atau mungkin sekedar mengingatku? Semoga kamu tidak secepat itu melupakanku, melupakan kesabaranku saat menghadapimu. Melupakan usahaku setiap aku menenangkan amarahmu, melupakan usaha-usaha yang kaulakukan agar hubungan kita tidak berjalan di tempat.

Disuatu malam, yang aku tak tahu kapan, sedetik sebelum kamu menutup matamu. Aku berharap bahwa aku tiba-tiba memenuhi pikiranmu dan menghangatkan perasaanmu. Lalu kamu menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang mampu membuatmu merasa berarti dan luar biasa selain aku. Lalu, kamu mengurungkan niatmu untuk menutup mata. Tiba-tiba kamu merindukanku, mencari-cari semua tulisan yang aku buat untuk dan hanya tentangmu. Aku tak butuh kamu bingung atau menangis. Aku hanya ingin kamu menyesal dan menyadari bahwa kamu membutuhkan aku. Membutuhkan hadirku yang selama ini seolah tidak pernah kau harapkan sama sekali. Lalu ketika saat itu terjadi, aku takt ahu apa yang terjadi pada diriku.


Semoga kamu bisa menyelamatkan aku lebih dulu, sebelum aku yang menyelamatkanmu.


Kepergianmu, sebenarnya sangat mengancurkanku. Aku sangat ingin memberitahumu tentang mimpi-mimpi tentang kita yang aku bangun sendiri, tentang hebatnya perasaanku yang mencintaimu, tentang banyaknya kesabaran yang aku berikan. Sayang, kali ini jawab pertanyaanku. Menurutmu, bagaimana rasanya jadi aku.. Perempuan yang melihat orang yang dia cintai tiba-tiba memilih pergi dan mengakhiri segalanya? Perempuan yang sudah melakukan apapun demi orang yang dia cintai, yang ternyata tidak pernah merasakan usahanya selama ini? Apakah aku yang memang terlalu egois, mencintaimu dengan cara yang sebenarnya tidak membuatmu ingin tetap tinggal?


Sayang.. Kukira selama ini kita berdua saling jatuh cinta.


Kukira bukan hanya aku yang jatuh cinta padamu. Bukan hanya aku yang mau mempertahankanmu dengan cara tolol. Berharap aku yang kau jadikan rumah. Berharap kau pulang. Aku memperkirakan banyak hal, tentang apa saja yang mungkin menyebabkan kamu pergi meninggalkanku. Lalu aku menemukan jawaban yang membuat kewarasanku setengah menghilang, mungkin kamu menemukan perempuan yang bisa kau ajak menghadap Tuhan setiap hari Minggu. Walaupun ada aku yang sangat setia, namun hanya bisa mengajakmu lima waktu. Mungkin. Dan kemungkinan itu sungguh sangat menyesakkan dadaku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya