Enam tahun sudah papa pergi meninggalkanku. Sejak saat aku kehilanganmu, hidupku seperti terombang ambing tanpa arahan, hampa dan terasa kosong. Butuh waktu lama untuk mengahapus segala kesedihan dihati, kehilanganmu membuatku mengerti banyak tentang arti hidup, ya aku mencoba mengerti maksud Tuhan semesta alam.

Saat ini aku mulai tumbuh dewasa Pa, aku mulai meninggalkan kebiasaan kebiasaan burukku sewaktu kecil, aku harap Papa di sana sedang memperhatikan perkembanganku hari demi hari. Fase demi fase hidup aku lewati tanpa arahanmu Pa, sangat menyedihkan tapi aku terus mencoba mandiri, menentukan pilihan-pilihan hidup yang tidak mudah. Aku merindukanmu Pa.

Advertisement

Teringat jelas enam tahun yang lalu saat aku masih duduk dibangku SMA, di situlah Papa meninggalkanku untuk selamanya, aku mencoba bangit dari keterpurukanku saat itu. Sedikit demi sedikit aku bisa melalui semuanya, tanpamu papa.

Tidak bisa kubayangkan bagaimana reaksimu ketika mengetahui anak bungsumu ini mulai jatuh cinta saat  dibangku SMA, senyum menggelikan engkau lontarkan untuk menggodaku yang sedang berbunga bunga ataukah engkau melarangku dan memarahiku karena belum waktunya, selesaikan dulu sekolahmu! Patah hati? Ya setelah hatiku patah akan kehilangan sosokmu, ada lagi yang membuatku patah hati. Lagi lagi aku tidak bisa membayangkan reaksimu jika engkau mengetahui hal itu terjadi padaku. Menertawakankah? Atau marah dan menasehati? Selayaknya seorang bapak dengan tipe galak namun sering bercanda sepertimu.

HAHAHAHA, makanya nak, hati hati dengan hati.

Advertisement

Tiba pada saatnya aku lulus dari bangku SMA, campur aduk rasanya. Akhirnya Pa, anakmu ini bisa melaju ke jenjang berikutnya, tetapi ada sedihnya juga andai Papa masih ada disini untuk membimbing dan mengarahkan yang terbaik pada saat itu, anakmu ini pasti bisa melanjutkan kuliah di kota kota besar, seperti impian kita dulu. Saling bertukar pendapat tentang jurusan yang apa yang harus aku ambil. Tapi bukannya rencana Tuhan jauh lebih indah? Ia lebih tau yang terbaik. Akhirnya dengan segala kebimbangan di hati aku memutuskan sendiri ke mana aku harus melangkah, apa yang harus kuambil untuk melanjutkan kuliahku. 

Waktu terus berlalu, akhirnya aku menjadi seorang mahasiswi, aku mengambil program studi Agribisnis. Jangan pernah tanyakan mengapa? Kalian tidak akan bisa memahami. Lalu aku mencoba fokus dengan apa yang sudah aku pilih, meskipun butuh waktu untuk beradaptasi dengan hal yang benar-benar baru. Di dunia perkuliahanku ini kembali di hiasi oleh kisah cinta anak kuliah hahaha, namun lagi lagi kisah ini tidak seindah cerita di film-film. Ah sudahlah.

Oh yaa, tidak terasa dengan kegigihanku semester demi semester aku lalui dengan sebaik mungkin, setidaknya jangan sampai aku mengecewakanmu di atas sana. Hingga sampailah pada tahap akhir perkuliahanku, di sinilah anakmu menginginkan engkau hadir untuk menyemangatiku, tanpa harus mengekang dan menekanku harus ini dan itu, aku lelah Pa harus menuruti semua yang orang inginkan kepadaku.

Hingga tibalah disaat seluruh kerja keras dan pengorbananku terbayarkan, anakmu ini lulus dengan sangat baik di kampus, dan sudah diwisuda Pa. Namun, ada yang kurang di momen bahagiaku memakai toga, tanpa pendamping yang lengkap, seperti teman-teman yang lain, berpose dengan bahagia bersama mama dan papanya. Tapi aku merasakan kehadiran Papa di hatiku, Papa pasti ikut turut bahagia dan bangga atas segala pencapaianku.

Setelah momen bahagia itu terlewati, kerinduanku datang kembali, ketika semua sudah terselaikan, aku masih berharap engkau ada di sini, duduk bersamaku diruang makan, dan berbincang tentang apa strategi apa yang harus kuambil setelah ini? Ke mana aku harus melangkah? Lanjut atau bekerja?  Jikalau harus jujur, aku ingin melanjutkan studiku, namun  karena sesuatu dan lain hal yang mengakibakan aku harus mengubur mimpiku. Ah Papa, aku rindu arahan arahanmu kepadaku.

Pa, aku takut, aku takut tidak akan mampu menghadapi kerasnya hidup yang sebentar lagi aku lalui sebagai orang dewasa. Sembari aku mencari pekerjaan, ternyata aku menderita suatu penyakit dan diharuskan untuk dioperasi demi kebaikanku, sedih rasanya aku harus terbaring lemah di meja operasi dan menikmati masa masa pemulihanku yang terbilang cukup lama. Aku terus menangis menahan sakitnya dan menahan rinduku padamu. Seandainya saja engkau masih ada menemaniku, pasti engkau akan memberikan yang terbaik buatku. Iyakan Pa?

Hari hari berlalu, aku harus bangkit dan semangat setelah sakit itu, ke mana aku harus melangkah Pa? Belum sempat aku mengatur strategi untuk hidupku ke depannya, kerasnya kehidupan sudah datang mengahampiri. Ditambah lagi, kami baru saja mengalami musibah  bencana alam yang cukup besar di kota ini, dan salah satu wilayah terparah adalah di daerah tempat tinggalku, aku tidak pernah menyangka kenapa semua ini bisa terjadi, selalu berusaha untuk mengerti maksud dan Kehendak Tuhan dalam hidupku, tapi rasanya kok begitu sulit. Namun, satu yang aku imani dan percaya ada sesuatu yang indah yang telah Tuhan persiapkan.

Pa, dari sekian banyak cerita yang telah aku lewati menuju proses pendewasaan. Lagi-lagi aku rindu untuk bercerita tantang apa saja yang sudah terjadi kepadamu secara langsung, meskipun tanpamu, aku bisa melewati semua dengan kegigihan dan pantang menyerah yang engkau selalu ajarkan kepadaku, aku rindu untuk bertukar pikiran denganmu, aku rindu segala arahanmu, aku rindu untuk saling bercanda denganmu, aku rindu segala tentangmu. Doa terbaik untukmu disurga, mampirlah pa dalam mimpiku, ketika aku hilang arah dan butuh bimbinganmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya