Bertemu di 10 tahun yang lalu, kamu adalah sosok yang paling asing bagiku dulunya. Tapi sebuah percakapan yang entah siapa yang memulai, merubah keasingan dirimu menjadi yang paling lekat hingga kini.

Sampai detik ini, meski sekian lama perpisahan selalu menjadi penghalang rinduku menemuimu, angan dan harapan serta mimpi-mimpi itu tak pernah putus. Selalu segalanya tentangmu.


Takdir beberapa kali mempersatukan kita dan memisahkan kita kembali, tapi takdir juga yang menyemayamkanmu larut di dalam palung hati terdalam hingga kini dan entah sampai kapan. Kamu istimewa!


Kamu adalah sosok pria yang dulu mengubah sebuah kekagumanku pada pria lain dengan perasaan suka yg dewasa dibilang cinta monyet. Kamu adalah kekasih pertama yang memegang tanganku dengan erat tapi penuh kasih, mengajakku mengenal arti bersama dalam dua binar mata yang saling menyukai.


Ku kira biasa saja, nyatanya tidak. Sebagai kekasih pertama yang merengkuh tangan sekaligus hatiku, kamu menjadi memori yang paling indah dan abadi.


Advertisement

Kamu adalah sosok pria pertama dan terakhir hingga kini yang dengan banggaku kenalkan pada kedua orangtuaku sebagai kekasih. Hingga kini, aku tak pernah mengenalkan siapapun pada keduanya sebagai kekasih pilihanku, bahkan meski dia benar kekasihku. Jika ditanya mengapa, aku tidak tahu.

Sampai suatu masa aku telah menyadari sesuatu yang baru aku sadari, yang sekian lama aku sangkali, sekian lama bagai bisikan hati yang aku biarkan lalu begitu saja, betapa kau yang pertama membuka hati lalu mengunci dan membawa kuncinya pergi bersamamu.


Dan bodohnya aku tak pernah menyadari, jika cinta yang aku cari adalah kamu yang sekian puluh tahun lamanya hadir di hidupku.


Kamu adalah kejutan dalam hidup yang Tuhan berikan bertubi-tubi, namun juga perih kenyataan yang takdir pilihkan untukku ketika menyadari memang sudah tiada mungkin untuk bersama kembali. Itu semua karena pernah kau katakan, kau telah memiliki yang lain.

Namun meski demikian, cintaku tidak pupus. Mengenangmu menjadi hal yang paling menyenangkan, kamu dengan kejutan-kejutan kecilmu yang selalu aku rindukan.

Aku selalu ingat, ketika aku marah dan kau mengirim bunga dari kejauhan dengan seuntai puisi untukku. Manis, kau membuatku berseri dengan sempurna, merona dengan gembira. Lalu beberapa waktu kau membuatku terbirit lari dari kediaman temanku saat kau menunjukkan foto keberadaanmu di rumahku. Aku berlari sekencang mungkin untuk menemuimu yang menjadi kesempatan berharga bagiku. Senang rasanya, melihatmu benar di rumahku, rumah kenangan kita dulu. Hingga di esok hari kita bermain bersama, aku ajak kau mengelilingi kotaku hingga larut dan perpisahan itu kembali menjemputmu.

Suatu ketika kita juga pernah menghabiskan waktu seharian untuk sekedar lari pagi, tak peduli semua orang menatap dengan wajah heran ketika melihat kostum jogging yang masih kita kenakan di sore hari, haha.


Bersamamu, aku tidak peduli apapun lagi dengan wajah-wajah yang menatap heran penuh tanya atau segala cibir. Itu semua karena kamu telah cukup bagiku.


Dan pada waktu perpisahan akan kembali terjadi, aku mencari alasan untuk dapat mengunjungi tempatmu bernaung. Aku datang dengan seraut wajah yang aku hias agar nampak lebih menarik ntukmu. Entah apa yang kita lakukan di satu hari itu, namun yang paling tak ku lupa saat hujan turun di mana aku harus pulang, kau mengantarku dengan memayungiku sepanjang jalan, aku merasa seperti kita adalah sebuah dongeng.


Kamu dengan kesederhanaanmu adalah yang paling romantis.


Kita makan malam bersama, di tengah hujan yang enggan berhenti, dan kau memberikan sebuah ice cream yang aku suka.


Aku menyukai semuanya, setiap detik bersamamu.


Waktu kembali merenggut indahnya kita di penghujung perpisahan, saat hendak beranjak pergi kamu dengan sigap menarik lenganku dan memelukku erat. Aku melihat wajah itu, wajah yang enggan melepasku pulang. Aku tersenyum, untuk membuatmu tenang, tapi setelah kau berlalu, melihat punggungmu aku menangis dan bertanya "kapan kita bertemu lagi". Pertanyaan itu habis digilas roda kereta yang mengantarku pulang kerumah.

Kita berpisah lagi hingga kau kembali dengan kejutanmu. Sebuah foto yang kau kirim tentang hadirmu di tempat kerjaku. Ini luar biasa, membuat senyumku mengembang sempurna. Kamu selalu mampu untuk itu, kamu terhebat. Kita bertemu kembali untuk menghabiskan malam yang sempit ini, memulangkan rindu-rindu pada hati yang saling berpaut.

Di tepi pantai, angin laut menyejukkan dan kamu menghangatkan. Aku suka, ini hal ternyamanku, berada di hadapmu, dalam pelukanmu yang serasa pulang. Lirih kau berucap "kalau lagi seperti ini, suka bertanya kapan ya bisa seperti ini lagi?"

Oh Tuhan, aku benar menemukan duniaku, dia adalah segalaku. Yang dia tanyakan adalah tanyaku, yang dia resahkan adalah resahku. Yang dia inginkan adalah inginku, bisakah kau persatukan kami tanpa harus dipisahkan kembali

Begitulah kiranya saat itu hatiku bertanya, hingga pada detik berikutnya, semua tanyaku terjawab, mengapa dia tak pernah berucap cinta. Mengapa dia tak pernah memintaku. Ia sebuah pernyataan yang membuatku ingin hari ini tak pernah berakhir agar aku tak merasakan pahitnya menanti tanpa pasti.

Setelahnya segala berubah, aku menemukan dunia baru. Aku menjadi seorang pengelana yang bepergian dari satu kota ke kota berikutnya. Bahkan demi menuruti ego, aku sempat mengalihkan hati dan mencoba menjalani dengan pria lain. Tapi hingga semua berakhir, aku tak pernah menemukan yang selama ini aku temukan di dirinya "bahagia yang sempurna".

Sejak itu hingga kini, aku hanya hidup dalam kenangannya. Dia yang tak pernah kembali dan aku yang terus mencintai dalam dia dan doa-doa ku. Melihat perkembangannya dengan segala cara, menilik beberapa sosial medianya dan berharap menemukan potret wanita yang dia katakan sebagai miliknya. Tapi tidak pernah aku temui, sama seperti tak pernah lagi kutemui sapa, senyum dan tawanya yang bertahun-tahun aku rindukan.


Aku menjadi perindu tanpa waktu, yang tak mengenal batas untuk menjadikanmu hantu dalam pikiranku, tokoh dalam mimpiku dan imaji tertinggiku.


Itulah tentangmu, sekilas tentangmu yang aku hafal dengan detail. Kini, aku sedang dicambuk dalam rasa sakit mengikhlaskanmu, belajar merelakan kamu sebagai kisah yang nampaknya memang tak akan pernah menjadi masa depanku. Apapun itu, aku harap takdir baik selalu milikmu.