Purnama malam itu, melengkapi segala rasa yang hendak bersembunyi. Mengapakah bersembunyi?


Kala itu, di pucuk pagi yang merekah bersama sinarnya, perasaan rindu itu diterbangkan oleh angin, terantar oleh angin hingga ditangkapkannya rindu itu olehku. Entah, sekeping rindu ini milik siapa. Kutangkap rindu yang beterbangan itu dan menyimpannya dengan rapi. Kuletakkan rindu itu, pada sebuah wadah dengan tutupannya yang erat agar tak diterbangkan oleh angin.

Advertisement

Alasanku memenjara rindu yang kutemukan itu, agar rindu itu tak menganggu pikiran juga raga. Kusimpan sangat baik rindu itu. Sementara rindu itu baik-baik saja, aku melaksanakan tugas sebagai sang mahkluk sosial. Berkelana, setengah mati mengejar matahari serta waktu hingga akhirnya letih. Lupa aku, pada rindu yang tersimpan itu. Aku tatap dengan lekat tempat kuletakkan rindu yang tertangkap itu, namun masih enggan membukanya.

Seterusnya sebagai sang makhluk sosial, kulengkapi diri dengan berbekal rasa yang kupunya. Ya, menemukan seorang lawan jenis yang pantas bersama untuk mendaki tangga cinta yang sedang terbentang di hadapan kami. Cinta dan sepaket rasa yang teraduk dalam hubungan kami, membawa kami pada ambang perpisahan yang selalu sama-sama kami hindari.

Ternyata ambang perpisahan itu, telah menjemput kami hingga tak ada lagi yang berkorban untuk kebaikan bersama. Ya, egois memang. Namun semakin mempertahankan hubungan, semakin pula genggaman itu terlepas. Mungkin bukan hanya aku yang mengalami kenyataan ini.

Advertisement

Kubuka lagi rindu yang dulu kusimpan, hingga akhirnya musim rindu menghampiri. Pagi-siang-malam selalu dilanda rindu. Rasa rindu yang kurasa pada sang sosok yang dulu menjadi pemilik tahta di hati ini semakin membara panas bertambah dengan sekeping rindu yang pernah ku tangkap itu. Rindu sang sosok yang dulu bersama dan yang dulu pernah menjadi istimewa.

Sang sosok yang selalu mengumbar rindu, mengumbar cintanya padaku namun tak pernah berkobar bila kami bersama dengan orang lain. Sang sosok itu telah membiusku dengan sikapnya yang rupawan. Kami sepakat bahwa berpisah adalah jalan terbaik, tanpa berpikir bahwa bagaimana menata hati yang dulu sempat penuh dengan cinta namun berakhir dengan sakit. Terlalu dramatis bila aku berkata mengenai sakit, namun nyatanya memang demikian. Sakit yang menyebabkan air mata hadir tanpa permisi, enggan pergi bahkan sakit yang usianya menahun dan kronis.

Kutolak semua rindu yang datang bertubi-tubi. Kukhianati rasa, bahwa rindu telah menerjang tembok hati yang sudah kubangun. Rindu telah menghancurkan batu-batu yang telah kutata menjadi tembok, padahal tembok itu yang kubangun supaya rindu tak datang menghajar. Semakin kutolak, rindu itu menguliti hati yang sudah terluka disakiti oleh rindu.

Entah, sudah kali berapa kukhianati waktu bahwa rindu telah memenangkan diri ini. Kutatap semua potret diri bahwa yang mengumbar senyum bahagia, supaya ada rasa tenang yang masih juga tak mampu menenangkan. Ku baca lagi semua kata-kata penyemangat hingga ayat kitab suci, supaya perasaan tenang menghampiri. Berhasil. Ya, berhasil namun hanya ratusan menit. Tak berhasil menyeleksi rindu yang telah berbaris.

Baiklah, kupasrahakan diri pada rindu yang telah mengakrabkan diri ini. Inginku menyapa sang sosok itu, namun akal ini berkata, “Tak akan menyembuhkanmu, justru sebaliknya”. Aku berpikir ada benarnya juga. Hingga akhirnya kubiarkan rindu yang berbaris itu datang saja. Tak apa jika harus menangis, tak mengapa pula bila rindu semakin membengkak.


Bukankah lebih baik untuk membiasakan segalanya?


Kuberdayakan rindu yang selalu berbaris berteriak untuk dijamah, untuk membuatku semakin kuat juga semakin paham bahwa sebuah rasa bernama rindu ini ternyata bersifat kejam. Meluluhlantahkan hati yang bersikeras berkata bahwa aku baik-baik saja. Namun kudapati diri perihal rindu yang memang harusnya perlu untuk dijamah, perlu untuk diakrabkan.

Jika tak ku jamah serta tak kuakrabkan, semakin membuatku kesakitan. Penyakit patah hati yang telah menerjang kesehatan hati pun, takkan bisa sembuh lagi. Jangankan sembuh, aku saja enggan mengonsumsi obat penawarnya. Ya, untuk penyakit patah hati obat terbaiknya adalah mengunyah rindu. Bukan mengunyah menjadi serpihan kecil yang hilang ketika ditelan, tapi dikunyah untuk dijadikan sumber energi untuk menata hati yang telah rapuh karena penyakit.

Hingga akhirnya perasaan rindu telah baik-baik saja kucerna. Kupahamai bahwa adanya rindu, menyisakan serangkaian cinta yang pernah menjuarai hidup, hingga berakhir dengan sebuah pengalaman berharga. Tak apa jika sedaging rindu hadir di organ hati, akan kujaga sebaik mungkin. Sebab sesungguhnya, aku bahagia bahwa rasa rindu ini mengajarkanku bahwa setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan tapi tak lantas merusakan sebuah makna pertemuan. Konon, sebuah pertemuan adalah terjadi untuk sebuah tujuan.


Dengan bangga hati kukatakan, selamat datang rindu!


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya