Bagiku lebih baik merasakan pahitnya melupakan, daripada tetap bertahan dengan rasa tak tentu arah


Memutuskan untuk berdiri dan pergi itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Memang untuk mengatakannya itu mudah. Namun jika sudah berurusan masalah hati. Rasanya untuk membayangkan rasa yang dulu itu masih belum sanggup.

Advertisement

Rasa yang kukira akan mudah untuk dirayu dan dibohongi, nyata rasa itu memang  ada dan tak pernah untuk bisa dibohongi. Jujur saja, sebelum aku memilih untuk melangkah pergi, meninggal bekas yang masih menempel. Aku sudah cukup kuat, untuk tetap bertahan meski kepastian itu tak pernah aku genggam. Dirimu yang selalu memberikan perhatian dan sapaan hangat kala bertemu, ku kira itu pertanda kau memang peduli denganku. Namun, mungkin aku salah. Iya, aku sadar akan kesalahan dengan terus menganggap bahwa kepedulianmu itu sebagai bentuk rasamu padamu. Bodoh ya, kenapa aku nggak pernah sadar akan semuanya.


Kau adalah pelangi masa putih biruku, darimu hari-hariku penuh dengan warna indah.


Kuakui, kau adalah orang pertama yang mampu menggetuk hati kerasku ini. Cuma kamu yang mampu mengambil separuh perhatianku. Aku yang dulunya begitu cuek dan pemalu, kau hadir untuk memberikan warna warna indah. Dan kamu adalah warna dari masa putih biruku. Warna yang kuharapkan akan selalu bersinar dan tak pernah pudar. Harapan itu masih berlanjut hingga aku lulus dari masa putih abu.

Advertisement

Untuk saat itu, aku masih berharap kau akan kembali dan menjadi warna seperti dulu lagi. Tapi, perlahan dengan seiringnya waktu berlalu, warna yang kuharapkan itu semakin pudar. Lantas, apa yang mesti aku lakukan? Apakah aku tetap bertahan dengan ketidakpastiaan, atau melangkah pergi untuk melupakan itu semua? Aku pun memutuskan untuk menjalani saja dan berharap semoga dengan berjalannya waktu rasa itu juga akan pudar.


Sekuat-kuatnya bertahan, pasti akan menemukan titik lelah

Dan itu yang kurasakan ketika memutuskan untuk melangkah pergi, meski terasa begitu pahit


Benar saja, rasa yang dulu begitu sulit untuk pergi. Kini sekarang rasa itu ku akui sudah tidak ada lagi, sudah pergi menjauh. Ternyata butuh tujuh tahun untukku agar bisa benar-benar melupakan kamu. Aku tidak menyesal bisa mengenal dengan dirimu, malahan aku sangat senang bisa kenal dan akrab denganmu. Karena darimulah, masa putih biruku terselamatkan dari kata tak berwarna.


Dan sekarang aku sudah benar-benar melangkah pergi, mungkin dengan seiring berjalannya waktu. Terima kasih ya, sudah mampu mengetuk pintu hatiku dan membuatku susah lupa.


Untukmu, sosok yang pernah menjadi pelangi di masa putih biruku. Terima kasih kau sudah bersedia menjadi sosok indah itu dan membuat hariku menjadi lebih berwarna. Aku yakin, sekarang kita sudah bahagia dengan pilihan kita masing-masing.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya