Kehilangan seorang Bapak di usiakau ke-18 adalah sesuatu yang belum pernah aku bayangkan. Kehilangan ini bukan berlangsung 1 atau 2 minggu, seperti yang engkau lakukan saat pergi keluar pulau, tetapi kehilangan ini adalah untuk selamanya. Shock? Aku rasa itu bukanlah hal yang harus ditanyakan. Hal ini sama dengan engkau  kehilangan  puluhan ribu pacar. Karena satu bapak sebanding dengan puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu cocok baik yang pernah aku kenal.

Dulu sempat berangan, bapak akan menjadi wali pada akad nikahku dengan imamku nanti, bapak yang aku harapkan nanti akan menggenggam tangan calon imamku dengan mengucapkan:

Advertisement


“Saya nikahkan anak saya yang bernama blablabla dengan engkau blablabla dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar TUNAI."


Kembali pada realita, angan hanyalah angan. Dulu engkaulah yang paling bingung dan pusing ketika anak anitamu ini berpacaran dengan lelaki yang belum tentu menjadi imamku kelak. Engkau yang selalu menasehati siapa lelaki yang pantas menjadi imamku kelak dan meminta berperan penting dalam memutuskan siapa calon imam ku kelak. Rasanya senyum senyum sendiri ketika mengingat moment itu. Yang aku pikirkan sekarang, siapapun yang kelak akan menjadi imamku, semoga engkau merestuinya dan semoga engkau merelakan aku yang nanti sudah sepenuhnya milik suamiku.


Bapak, siapapun suamiku nanti, percayalah bahwa dia adalah pilihan terbaikku dan kelak menjadi jodoh dunia akhirat.


Advertisement

Dulu sempat pula berangan, engkau akan menggendong anak anakku atau cucu cucumu kelak. Mereka yang lucu, imut cantik atau ganteng mampu membuat hari tuamu dipenuhi senyum dan warna. Kehidupan keluargaku yang damai cukup mampu membuatmu lega di hari tua. Berkumpul di ruang tamu bersama ibu, anak dan cucu cucumu mampu menghilangkan guratan sedih di wajahmu. Tapi nyatanya angan hanyalah sekedar angan.

Bapak, kelak suamiku akan membangun rumah tangga yang damai bersamaku dan anakku. Dia akan menjagaku dan memperlakukan ku layaknya ratu kehidupan serta memperlakukan anak anak kami layaknya putra putri kerajaan. Aku, suami dan anak anakku kelak akan membahagiakan ibu di hari tuanya. Bapak tak usah khawatir, suamiku kelak akan membawa suasana damai dalam rumah.

Sekarang, bapak istirahatlah dengan tenang di sana. Tak perlu kau khawatirkan aku di sini, cukup percaya padaku bahwa aku akan menemukan lelaki sejati yang akan menjadi calon imamku. Tak perlu kau khawatir aku melupakanmu, doa doa dari aku dan keluargaku akan menemanimu di sana. Terima kasih sudah memberikan aku kekuatan dan kepercayaan, terima kasih sudah 18 tahun engau berada di sampingku dan terima kasih sekarang engkau sudah menetap di jiwaku selamanya.

I love you, Bapak

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya