Katakanlah Indah apabila kita bisa bersama, namun apakah akan selalu Indah bila kebersamaan itu menyakiti hati orang lain ?

Kau berkata persetan akan semua itu, kau akan melindungi kebersamaan kita. Namun siapalah aku yang tidak berdaya ketika dihadapkan pada realita.

Segera setelah pundakmu menjadi tempatku bersandar dengan nyaman, segera pula rasa sakit itu bertubi menyerang pertahananku. Kau bertanya apakah aku baik baik saja ? aku tersenyum dan menjawab bahwa aku baik baik saja. Aku bertahan dalam kebersamaan kita yang terasa sangat menyesakkan dada namun selalu memberiku ruang untuk merasa bahagia. Sesaat.

Hari itu dia datang lagi, hari dimana kulihat dia menangis dengan hebat di depan mataku. Tangisannya menyakitiku, kamu juga seorang wanita bukan? Dia bertanya padaku. Ya aku seorang wanita, makanya aku bisa jatuh hati dengan cepat padamu. (Apakah aku benar jatuh hati ?) Makanya aku bisa menginginkanmu dengan hebatnya. Makanya aku bisa menerima semua caci untuk bisa bersamamu. Karena kau memberikanku harap. Namun aku tetap merasa tak adil pada dia, kenapa? Karena aku seorang wanita, aku juga tidak akan pernah merelakanmu pada orang lain.

Kegetiran hatinya telah mengetuk relung hatiku yang paling dalam, menanyakan padaku apakah semua yang kita jalani ini benar? Bagaimana aku bisa merasa bahagia bersamamu ketika aku tau kebersamaan kita telah membunuh hati orang lain. Hatinya.

Advertisement

Aku adalah orang pertama yang menyukaimu, aku adalah orang pertama yang berdoa kepada Tuhan agar bisa bersamamu, aku adalah orang pertama yang diam diam mencari cara untuk bisa berkomunikasi denganmu. Aku adalah orang pertama yang melambungkan harapan setinggi langit dan mengumbar kata sebelum janur kuning melengkung kau bisa untuk ku miliki. Dan pada akhirnya engkau jatuh lebih dalam kenyamanan yang kita ciptakan.

Ku temukan celah didalam hubungan kalian dan masuk ke dalamnya, kau ubah celah itu menjadi jurang dan akhirnya melapaskan dia. Aku hanya diam saat kau katakan bahwa kau memilih diriku. Entah aku harus senang atau merasa bangga akan hal tersebut. Namun jelas saat semuanya terjadi aku tak lagi perduli, karena pada akhirnya aku menang.

Aku menepiskan fakta bahwa kebersamaan kalian yang terjalin lama telah membentuk keintiman yang tidak kita miliki, egoku mengatakan bahwa kau pasti bisa mencintai aku lebih dari pada kau mencintainya. Tapi seseorang berkata padaku apa yang kau harapkan dari seorang pria yang meninggalkan wanitanya untuk wanita lain?

Apa kau yakin dia tak akan teralihkan lagi dan meninggalkanmu juga? Hatiku meringgis, mengingat fakta bahwa suatu hari mungkin saja aku akan berada dalam posisinya. Mengangis karena dikhianati olehmu. Namun aku tak perduli, aku menginginkanmu.

Hari ini ku temui lagi dia, apakah kau bahagia? kali ini pertanyaannya berbeda. Dia tidak menangis, dia tidak tersenyum. Dia memasang wajah datar, yang ku lihat dalam kedua matanya adalah kegetiran. Ya, aku bahagia. Aku menjawab tanpa keyakinan akan jawabanku sendiri, hati kecilku mengatakan, bagaimana dirimu bisa bahagia dengan mengambil kebahagiaan orang lain? Apakah kau manusia? lalu ucapku kepada diriku sendiri, ya aku bisa. Karena itu diriku. Ke egoisanku. Dia menunduk lalu tersenyum dalam tangisannya. Menatapku.

Kau mungkin bisa mempesonanya saat ini, namun hanya sementara karena dia terpesona akan dirimu, bukan oleh cintamu, kau tau kenapa dia tidak akan bertahan lama bersamamu ? karena akulah cintanya, dia selalu kembali kepadaku karena aku tau apa arti mencintai dan apa arti komitmen, bukan melompat mengacaukan komitmen dalam hubungan orang lain. Terima kasih karena telah menggoyahkannya kali ini, tapi bersiaplah karena aku akan mengambilnya kembali.

Dia begitu berani dan percaya diri saat mengucapkan semua itu, meninggalkanku dalam kebisuan, apakah benar apa yang dia katakana ? apakah aku tidak memiliki cinta yang pantas untuk di perjuangkan ? apakah salah menginginkan cinta? Ya kau telah salah. Suara hatiku kembali bergema, dan meninggalkanku dalam kegamangan akan arti cinta.

Apakah aku salah menginginkan cinta yang telah menjadi milik orang lain ? bukankah kalau ia telah menjadi milik orang lain, ia tidak akan dengan mudahnya berpaling ? pesonaku tidak akan sebegitu kuatnya apabila cinta tidak sebegitu lemahnya. Ucapku sinis. Keinginanku mempertahankanmu berada dalam sisiku telah membawa banyak kesederhanaan yang harus ku lepaskan.

Kamu masih tertawa dengan tawa yang sama saat bersamaku, kau masih memberikan kehangatan yang selalu ku rindukan tiap bertemu. Kau selalu membuatku menginginkanmu berada didekatku karena bersamamu aku bisa berjalan dengan bangga.

Lalu apa artinya kebersamaan itu ketika harus ada hal hal yang ku cintai harus ku korbankan ? pertengkaran muncul antara kita, ketika aku menyadari bahwa aku tidak bisa memilikimu sepenuhnya, seutuhnya, selamanya, dan hanya untuk diriku seorang. Dia benar, kau pada akhirnya meninggalkanku setelah pertengkaran pertengkaran terjadi. Ternyata pesonaku telah sirna, dan yang kau ucap sebagai cinta hanya rasa suka. Ternyata yang ku kira sebagai cinta, hanya sebuah obsesi.

Hari berikutnya setelah perpisahan kita, aku menemui dia. Kali ini dia tersenyum dan berkata apakah telah selesai ? ya. Semua telah usai. Jawabku bangga sekaligus nanar.

Aku mengucap kalah, aku mengucap salah, aku mengucap maaf. Karena telah dengan beraninya tanpa malu pernah hadir menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain. Menginginkan kebahagiaan orang lain. Namun dia tampak tenang kali ini, dia telah berbeda.

Terima kasih, ucapnya kali ini. aku memutuskan untuk berhenti memberi maaf pada nya, lanjut dirinya dengan tegar. Mengapa ? Tanya bibirku yang lancang.

Lalu dia mulai menjawab : kenapa aku harus mempercayakan cinta kepada orang yang bisa mengkhianatiku ? aku rasa cintaku lebih berharga dan diriku terlalu berarti bila harus bersamanya lagi. Terima kasih, karena dengan hadirmu dalam hubungan kami telah membuatku tersadar, bahwa mungkin selama ini aku telah terjebak dalam hubungan yang salah.

Aku tau, bahwa aku juga bersalah dalam hal ini, tidak akan mungkin dia meninggalkanku untuk bisa bersamamu bila aku tidak berbuat salah bukan? Tapi bukan itu pointku, yang ingin ku katakan padamu adalah sudah jelas bahwa kau tidak bisa memilih dengan siapa kau jatuh cinta, tapi kau bisa memilih siapa yang layak kau perjuangkan. Dan aku putuskan dia tak layak untuk ku perjuangkan lagi. Aku terlalu berharga.

Aku diam dan takjub mendengar ucapannya, bagaimana bisa Tuhan, aku telah menyakiti hati seorang wanita seperti dia, bukankah aku juga seorang wanita ?

Dalam perenungan akan kesalahanku, aku menemukan makna dalam mencintai, dimana aku belajar untuk membebat setiap luka yang di akibatkan oleh kebodohanku. Ya, aku tidak bisa memilih dengan siapa aku jatuh cinta, tapi harusnya aku bisa menilai apakah cinta yang ku rasakan itu layak atau tidak. Dan yang ku jalani denganmu tentu bukan cinta.

Aku hanya orang yang lelah dan membutuhkan sandaran saat bertemu denganmu, kamu hanya orang yang linglung dalam hubunganmu sendiri, dia hanya orang yang menemukan jawaban akan kebuntuan dalam hubungan kalian selama ini. kita bertiga dipertemukan dalam persimpangan dan persinggahan untuk selanjutnya berlabuh pada pelabuhan yang tepat.

Dan untuk saat ini, baik aku, kamu, dan dia telah membebat luka masing masing, mengobati rasa bersalah masing masing. Dan telah menemukan jalan masing masing. Semoga kelak aku dapat mencintai dengan benar. Semoga kamu bisa menemukan cintamu, semoga dia bisa menemukan penggantimu.