Awalnya tak ada yang istimewa dengan pulau ini, waktu bergerak sangat pelan bahkan seperti berhenti mengitari bumi. Aku masih berdiri di sini, menengadah matahari yang tak pernah berhenti menyinari seluruh pelosok pulau ini. Ingin sekali aku berenang di luasnya lautan biru yang ada di depanku, namun ku rasa airnya juga panas. Karena aku melihat uapnya membumbung ke udara, menuju langit untuk dituai menjadi air hujan nantinya dan dikembalikan lagi kebumi. Akhirnya aku kembali kelamunan, sepertinya di sini adalah surga namun masih tersembunyi dan orang tak banyak mengetahuinya. Termasuk aku yang baru tiga hari sampai di sini setelah berlayar selama dua hari dari Kota Ambon.

Keesokan harinya, aku mulai membuka usaha konter handphone yang tak jauh dari rumah tempat tinggalku sementara di pulau ini. Lokasinya strategis sekali, di depan simpang tiga menuju gerbang pelabuhan. Pelabuhan yang ramai bila ada kapal besar yang bersandar di waktu tertentu. Seperti kapal yang ku tumpangi beberapa hari yang lalu saat aku berlayar dari Kota Ambon menuju pulau ini. Memang tak sebagus kapal pesiar yang mewah di luar negeri, tapi lumayan besar untuk ukuran kapal yang pernah kulihat dan kunaiki. Namun sayang, aku tak punya kamera untuk mengabadikan gambar saat aku berada di kapal itu, hanya terekam di pikiranku sampai nanti. Kembali pada konterku, tempat di mana aku mengais rejeki di sini. Sebenarnya konter ini bukan milikku tapi milik pamanku, yaitu suami dari tanteku, saudara perempuan dari papaku. Dia memberikanku kepercayaan untuk mengelola dan menjaga usaha konternya disini. Karena ini adalah usaha konter handphonenya yang kedua dan yang pertama berada di Kota Ambon. Hari ini tak sama seperti hari kemarin karena kesibukanku yang mulai berjualan di konter.

Advertisement

Pagi telah mulai merangkak siang dan perutku mencoba berontak kalau sudah mulai kosong dan aku langsung mencari warung nasi terdekat. Setiba di warung nasi itu aku mendengar penjaga warung yang menggunakan dialek dan logat yang sama dengan bahasa yang ku gunakan sehari-hari di kampung halamanku, yaitu Bahasa Padang. Aku langsung bersuara, ''Uda,, nasi sapiriang tambua ciek," si penjaga warung itu langsung menyahut, ''Sabanta yo uda ambiakan nasinyo sambanyo apo dek adiak," dan aku langsung menjawab, ''Sambanyo lauak se da." Tak berapa lama nasi padangnya langsung datang di hadapanku. Ttak butuh waktu lama nasi itu tenggelam bersama ikannya di dalam perutku yang sedari pagi belum kuisi.

Setelah aku merasa kenyang dan perutku telah diam tak berteriak lagi, aku kembali ke konterku dan melanjutkan berjualan. Tak lama kemudian sorepun datang dan disusul sang senja yang berwarna jingga berkilauan di ufuk barat. Karena konterku yang saling berhadapan dengan pelabuhan, senja yang pekat dan terang langsung memapar jelas di wajahku dan sangat berani seperti harimau yang ingin menerkam mangsanya dengan buas. Aku sangat menikmati kilau jingga senja itu, sekaligus membayangkan jika saja aku bisa menikmati senja yang indah ini bersama seorang kekasih.(Bersambung)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya