Aku punya satu waktu yang selalu membuatku senyum mengangkasa, berteriak dan tertawa tak henti untuk bercerita, sebagai saksi ketika hati kian mendera dan ketika pikiran sedang menggema. Waktu yang selalu melupakan makna hampa, berbisik kata merona, indah karena jingga yang berbahasa, ku kenalkan, dia adalah senja.

Aku merasa bahagia dan mencintainya, karena senja, aku bisa leluasa menjamah kata, merekrut asa, dan beraksara dalam cinta. Langit telah menciptakan sela rindu yang kian membuncah. Menghirup angin yang terus diberi kesempatan menengadah. Senja pun telah mengetuk hatiku dengan ramah, memberikan cinta indah dan menggenggam jemari tanpa bantah, tapi sekarang hanyalah berbatas PERNAH.

Advertisement

Aku sedang bertanya-tanya pada keadaan, mengapa senja begitu cepat berubah haluan. Jingga nya segera berlari menuju peraduan. Ah..! Mengapa waktu tidak cukup panjang untuk kita habiskan dan mengapa keadaan malam hanya sebentar kita nikmati berdua untuk berjalan? Bukankah kita berjanji di hadapan Tuhan. Bahwa kita akan terus mencintai tanpa beralasan? Dan menggenggam kuat saat sedang kedinginan?

Aku tersadar, tentang senja yang hanya sebentar. Senja yang hanya menjamah tak terkejar. Senja telah mengajarkanku waktu yang sangat singkat dan memberi ku pengertian untuk mencintai kehilangan.

Aku sadar, senja adalah penjemput malam yang terabaikan. Kini ada bayang yang belum berhasil diselamatkan, yaitu merindukanmu sedang berjalan tanpa arahan dan tujuan. Dari senja, aku akan belajar mengikhlaskan tanpa harus melupakan. Karena dia begitu indah, jejak langkah kita dalam kenangan. Sejarah pertemuan yang harus berubah menjadi perpisahan. Tidak ada lagi senja yang dinantikan.

Advertisement

Aku menguatkan diri di suatu lembaran pagi. Berkutat hening dalam sebuah dentingan waktu. Merangkak demi tahap, seakan menyanggah diripun membutuhkan bembarap. Aku, yang harus bergegas pergi dari rindumu yang harus sudah ku nikmati sendiri dalam malam dan udara yang sunyi.

Untuk kamu yang pernah ku titipkan makna cemburu. Masih bolehkah aku menggantungkan kata rindu? Meski ku tau, kini peradapan sudah membeku, mengadu pun sudah kepada abu. Pergilah, tidak ada yang mengharu, tengok sesekali ke masa lalu, kalau ada aku yang selalu menikmati waktu senja.

Terima kasih senja yang sudah mengajarkan tentang arti keikhlasan dan mencintai kehilangan. Terimakasih senja yang dulu pernah mengizinkan ku membumikan cemburu dan melangitkan rindu. Mungkin kini semua rasa ku akan membeku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya