Yup, setiap orang sah sah saja jatuh cinta, mencintai dan terluka, karena dalam cinta semua merasakan warna hidup seakan hidup bagaikan gelora melebihi panasnya api. Bahkan terkadang, karena cinta pula hidup seperti bagaikan singgasana utama. Melihatnya, mencintainya bahkan cukup mendengarnya adalah hal yang tidak akan terlupakan.

Ya namanya jatuh cinta, apa sih yang nggak indah? Segala hal akan terasa indah bila berdua dengan orang yang dicinta. Nah, kalau terluka bagaimana? Dalam percintaan tidak mungkin tidak meninggalkan luka, karena luka adalah goresan tajam yang menandakan bahwa kita ini adalah manusia. Tapi apakah dengan luka mengartikan keterpurukan?

Tidak Kawan… jangan berpikir seperti itu. Luka adalah kehidupan, menata kembali hal-hal yang telah hancur berantakan akibat cinta yang lalu adalah keharusan. Kalau luka itu keterpurukan, maka buanglah bahagia dan anggaplah bahagia itu tidak pernah ada, dan lupakan bahwa kau adalah manusia.

Kadang memang sulit menghapus luka, bukan berarti tidak mungkin, tapi pasti akan ada saatnya luka itu terhapus. Lalu kapan? Kalau itu pertanyaannya, carilah kaca dan lihatlah serta renungkan sendiri. Karena cinta dan luka seperti dua gambar dalam satu koin, di mana ada cinta, di situ akan ada luka. Tergantung bagaimana kita mampu menata hati kita kembali.

Pesan dari gue cuma satu:

Advertisement


Lo kalau masih menangisi luka masa lalu, itu berarti lo nggak normal


Hidup ini berjalan men…suka duka yang lo alamin pada akhirnya bakal happy ending kok. Lo mau hidup lo cuma sebatas dia, dia, dan dia tanpa berani maju ke depan? Justru luka itu buat lo makin ke depan. Semakin banyak luka semakin lo mampu menjadi bijak. Ibarat pisau yang semakin diasah akan semakin tajam. Matahari boleh hilang di senja, bulan boleh melebur di fajar, tapi lo nggak boleh terpuruk hanya sampai di sini.