Selalu dan selalu saja, kamu menjadikanku tempat singgahmu. Tempat yang kamu datangi, kala kamu sedang lelah dan sedih. Ya, kamu selalu seperti itu. Padahal, aku ingin sekali menjadi tempat bahagiamu dan bukan tempat singgahmu. Karena bagiku, menjadi tempat persinggahan itu rasanya menyakitkan sekali. Seperti didatangi, ketika butuh saja. Seakan kamu adalah seorang pacar tak mau tahu akan hubungan kita.

Dan ketika tidak butuh, dilupakan begitu saja. Perasaan sedih, sakit, dan juga lelah telah kunikmati setiap harinya. Terlebih lagi, ketika aku harus selalu berpura-pura tidak mencintaimu, berpura-pura tidak menginginkanmu dan berpura-pura menganggap semuanya seakan baik-baik saja. Huh, sungguh sakit sekali rasanya menjalani ini semua sendirian. Sungguh aku lelah seperti ini terus dan aku bosan dengan sepi.

Advertisement

Apakah kamu tahu bahwa aku memiliki rasa terhadapmu? Dan apakah kamu tahu bahwa aku ingin dicintai olehmu? Jawabannya aku rasa tidak. Karena kamu selalu saja memikirkan tentang dirimu dan perasaanmu sendiri. Tidak sedikitpun kamu mau tahu tentangku dan begitu pula perasaanku.

Aku lelah dengan ini semua, karena rasanya hanya membuang waktuku saja. Ya, waktuku habis hanya untuk membuatmu bahagia, sedangkan aku tidak. Waktuku habis, karena harus mendengar curhatanmu mengenai dia. Mengenai seseorang yang sangat kamu cintai. Dan dengan bodohnya, aku memberi saran agar kamu berusaha untuk mengejar cintamu. Mengejar cinta yang mungkin belum pasti.

Hm, andai saja kamu tahu, bahwa aku benar-benar tulus mencintaimu. Walaupun aku tak berani mengungkapkannya lewat kata-kata, tapi aku berani kok, menunjukkan cintaku kepadamu melalui tindakanku. Dan menurutku, menunjukkan bukti cinta lewat tindakan itu, jauh lebih serius dibandingin kata-kata. Karena tak semua kata-kata bisa membuktikan ketulusan hati seseorang.

Advertisement

Tapi, walaupun aku membuktikannya lewat tindakan, tetap saja kamu tidak mau tahu bagaimana perasaanku terhadapmu. Karena hatimu, telah tertutup oleh 1 cinta. Cinta yang selama ini kamu kejar-kejar.

Entahlah, aku juga tidak tahu kapan kamu akan berhenti mengejarnya. Dan aku juga tidak tahu, kapan kamu bisa peka akan perasaan yang aku miliki, perasaan yang telah lama aku pendam dan belum ada yang mengetahuinya, termasuk teman dekatku. Bukannya aku tidak percaya kepada mereka, hanya saja aku bukanlah tipe cewek yang suka curhat segalanya. Hanya sedikit saja yang aku suka ceritain ke mereka.

Dan untuk soal hati, aku memilih untuk bungkam. Karena aku tidak ingin semua orang tahu tentang isi hatiku, apalagi di dalamnya ada kamu. Ya, kamu yang sangat aku cintai. Walaupun pada kenyataannya, kamu mencintai yang lain.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya