Di siang hari menjelang sore ini, aku duduk di salah satu kedai kopi yang berlokasi di sebuah jalan legendaris di kota Bandung, Jalan Braga. Aku sibuk berkutat dengan laptopku ditemani secangkir kopi, sepiring cinnamon roll, dan suara lagu merdu yang mengalun, berlomba-lomba dengan hiruk-pikuk orang-orang yang mengobrol sembari menikmati kopi dan camilan mereka.

Diriku yang penat dengan proposal yang sedang kukerjakan pun mengalihkan pandanganku ke sekeliling kedai; ada yang berkelompok, ada yang berduaan, ada pula yang sendirian seperti diriku. Ada yang mengobrol dengan serunya, ada yang sibuk dengan laptopnya, ada yang terhisap ke dalam pesona buku yang sedang dibacanya, ada pula yang memandang keluar kedai sambil menikmati hiruk pikuk Jalan Braga di siang hari.

Advertisement

Mengamati sekeliling membuat khayalanku terbang entah kemana. Aku mulai memikirkan bagaimana jika saat ini kau ada duduk di hadapanku. Mungkin… Aku akan tersibukkan oleh dirimu. Mungkin kita akan membahas kopi yang masing-masing kita pesan; cita rasanya, aromanya. Mungkin aku akan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucumu yang berusaha untuk "mencuri" cinnamon roll-ku. Mungkin kita akan duduk dengan antengnya sambil membaca buku bersama. Mungkin kita akan merencanakan rencana perjalanan kita selama dirimu berada di Bandung.

Mungkin kita akan saling menimpali tentang betapa kita menyukai kedai kopi ini dan menjadikannya tempat favorit kita di kota Bandung. Mungkin kita akan membicarakan tentang rencana masa depan kita, tentang hubungan ini. Atau mungkin… kau sedang berusaha menghibur diriku yang bersedih karena sebentar lagi harus mengantarmu ke Stasiun Bandung dan mengucapkan kata perpisahan. Yang pasti, aku tidak akan mengerjakan proposalku karena terlalu sibuk dengan dirimu.

Kedatangan cangkir kopi keduaku membuyarkan khayalanku dan memaksaku untuk kembali ke kenyataan. Ya… dirimu yang terasa begitu nyata hanyalah khayalanku, hanyalah sebuah idealisme yang kubangun di dalam pikiranku. Aku tahu bahwa dirimu sebenarnya nyata, hanya saja kita terpisah dimensi ruang dan waktu. Aku tahu kau berada di suatu tempat di luar sana, entah sendiri atau berdua, entah bahagia atau sedih, entah menunggu atau ditunggu.

Advertisement

Seberapa pun besar harapanku agar kau bisa hadir di hadapanku sepertinya tak akan berhasil membujuk Tuhan untuk mempertemukan kita. "Belum waktunya," kata orang-orang. Mungkin kita sedang sibuk dengan kehidupan masing-masing; aku dengan cita-citaku dan dirimu dengan kehidupanmu. Mungkin ada sesuatu yang masih kau tunggu, sehingga lama dan sulit bagimu untuk menemuiku. Mungkin masih ada sedikit keegoisan di dalam diriku yang menahanku untuk menemukanmu. Aku tidak tahu. Semua "mungkin" yang terlintas, lagi-lagi, hanyalah pikiranku yang selalu dipenuhi dengan segudang asumsi.

Entah berapa lama lagi aku harus menunggumu, tidak ada yang tahu. Lagi-lagi hanya waktu Tuhanlah yang dapat menjawab semua pertanyaan tentang kita yang ada di benakku, dan mungkin juga ada di benakmu. Aku tak sabar. Aku tak sabar ingin memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang dirimu; jenis kopi yang kau sukai, jenis wine yang selalu menjadi favoritmu, lagu lawas kesukaanmu, kafe langgananmu, apa yang paling kau inginkan di hari ulang tahunmu, bioskop favoritmu, buku yang sedang kau baca, impianmu, impian kita.

Aku tak sabar, unutk melihat dirimu yang benar-benar nyata dan menjalani hari berdua bersamamu. Aku tak sabar, untuk mengucapkan selamat tinggal denganmu di Stasiun Bandung atau Stasiun Gambir sambil memegang janji untuk segera bertemu lagi di pekan depan, entah di Bandung atau di Jakarta, semuanya terasa sama jika bersamamu. Aku tak sabar, ingin menikmati secangkir kopi favoritku sambil bersenda gurau bersamamu. Pasti semuanya akan terasa lebih menyenangkan jika bersamamu. Aku juga tak sabar untuk menonton film bersamamu di Metropole Jakarta, bioskop kesukaanku, lalu berdebat denganmu tentang bagaimana film tersebut seharusnya berakhir hahaha…

Membayangkan hal-hal itu saja sudah membuatku merasa senang, bagaimana jika hal-hal itu terwujud nantinya? Namun… sekarang yang bisa kulakukan hanya menunggu "waktu" itu bukan? Baiklah, aku akan menunggumu; 1 tahun, 10 tahun, 30 tahun, bahkan sampai raga ini tak mampu lagi sekalipun akan kutunggu. Karena aku tahu, bahwa penantian yang lama ini akan impas nantinya. Aku sudah menunggumu selama 21 tahun lamanya, menunggu puluhan tahun lagi tidak terlalu berat.

Tak terasa sudah cukup lama aku duduk dan merangkai kata-kata di narasi ini, bukannya melanjutkan proposalku. Mungkin aku akan memperlihatkan narasi ini kepadamu agar kau merasa tidak enak karena terlalu lama membuatku menunggu hahaha…

Oke, yang barusan itu aku hanya bercanda. Kopi keduaku pun sudah habis; sudah saatnya aku pulang ke rumah. Aku membereskan laptop dan buku catatanku, membayar kopi dan cinnamon rollku, lalu beranjak keluar seraya berjanji bahwa suatu hari nanti, aku akan kembali ke kedai kopi ini berdua denganmu. Kuharap kau akan menyukai tempat ini dan tempat ini akan menjadi salah satu tempat favorit kita untuk menghabiskan waktu di kota Bandung.

Aku kemudian menyusuri jalan Braga sambil mengagumi keindahannya yang tak pernah gagal untuk membuatku terpukau meskipun telah berkali-kali menyusurinya selama 4 tahun hidupku di kota Bandung. Deretan lukisan, dengan warna-warni yang menawan juga hitam-putih yang memukau, di jalan yang kulalui membuatku tersenyum di sepanjang jalan pulangku. "Hari ini sungguh indah," pikirku.

Bahagialah selalu, masa depanku, karena aku pun di sini dengan bahagia menunggumu selalu.

Cepatlah datang… jangan sampai kopi hangatmu berubah menjadi dingin.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya