“Sendiri saja, mana pacarnya?”

“Masa sih di kantor kamu nggak ada cowoknya yang bisa dijadikan pacar?”

Advertisement

Pernah nggak mengalami hal ini? Ketika bertemu dengan teman lama atau yang jarang berjumpa pertanyaan seputar “pacar” bakalan jadi topik utama, percayalah. Bukan lagi dengan nada kepo, tapi nada kasihan yang keluar bersamaan dengan sederet pertanyaan tersebut.

Belum lagi kalau jalan bareng teman kantor dan tiba saatnya untuk pulang, teman yang punya pacar akan dijemput. Saat itu pula, muka khawatir atau kasihan akan muncul, “Lo yakin nggak papa pulang sendiri? Maaf ya gue nggak bisa pulang bareng sama lo?”

Memang segitu menyedihkannya jadi seorang single?

Advertisement


Bukannya kami tidak mau punya pacar, tapi di dunia ini ada yang namanya prioritas dan pacaran bukan jadi prioritas utama saat ini. Jadi, stop memandang kasihan bagi kami yang tidak punya pacar.


Kami baik-baik saja dengan status ini, kami baik-baik saja kemana-mana sendiri. Apakah sekarang standar kebahagiaan adalah memiliki pacar?

Berhentilah bertanya siapa pacar kami mulai sekarang, lama-lama kami gerah juga. Disindir mengenai kapan menikah dan sebagainya. Bukannya uruasan romansa adalah hal pribadi dan bukan konsumsi publik. Ya, kecuali kami selebriti.

Mungkin kalian tidak tahu, kami menikmati waktu ketika kami menghabiskan waktu bergumul dengan buku di bawah selimut hangat saat weekend. Menikmati bertukar pesan dengan teman yang lain dan menyetujui ajakan bertemu dalam hitungan detik tanpa harus meminta izin pada siapapun.

Bisa asyik menikmati bercanda dengan teman lawan jenis tanpa harus khawatir dan merasa bersalah kepada seseorang. Tidak ada wajib lapor kemana dan dengan siapa kami pergi. Kami tersenyum bangga karena bisa menjadi pribadi yang mandiri tanpa perlu bergantung kepada siapapun.

Ini pilihan kami, bukan sekedar mencari alasan kenapa kami tidak punya pacar.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya