Pagi turun bersama kabut dan bayang sesosok tubuh. Pagi itu, ketika gelap berada pada titik kulminasinya. Sosok Tubuh pergi ke suatu titik diantar ribuan sepi yang ramai. Dadanya yang tanpa berotot bergetar penuh perih. Kepalanya yang panjang berdengung oleh suara murung. Aku tak hadir saat itu. Tapi aku tahu, sosok tubuh pergi dengan menyeret luka di kaki sebelah kiri. Luka yang sehari sebelumnya hanya bintik kecil dengan pucuk nanah yang mungil.

Tapi jelang kepergiannya pagi itu, luka bernanah itu tambah besar. Serupa kubang kecil dengan kawah mentega cair yang siap melelah suatu waktu. Sosok Tubuh biasa mengeluhkan ada yang aneh dengan kaki sebelah kiri. Sering kebas. Sejak tertabrak angkot pulang belanja dari Pasar Jatikali, tiga tahun lalu. Begitu ceritanya. Sosok Tubuh rajin membeli buah-buahan, terutama pisang ambon wangi. Ia pergi ke pasar setelah wirid subuh.

Dan pagi itu, saat Sosok Tubuh menyebarang, tiba-tiba angkot menyeruduknya membuatnya terpelanting, meringkuk di bahu jalan. Untung pisang ambon yang dibelinya dijinjingnya dengan erat. Hanya dua yang tanggal. Dari situ kebas pada kaki kiri sering dirasakan Sosok Tubuh. Awalnya tidak ia rasa, tapi lama-lama rasa kebas membuatnya tidak bisa tidur pulas. Sesekali Sosok Tubuh minta dipijat pada anak lelaki tetangganya.

Lumayan, meski cuma membuatnya meringis karena bulu-bulu kakinya tertarik-tarik. Namanya juga tukang pijat amatiran, lagi pula orang-orang biasa menganggap anak lelaki tetangganya itu kurang waras.

Sosok Tubuh was-was. Luka di kaki kirinya membesar, melingkar menjadi borok. Borok yang ia ingat memiliki kisah tragis tersendiri. Jauh sebelum tiga tahun lalu. Sebelum ia tertabrak angkot itu. Sosok Tubuh bohong. Luka itu kali pertama ada ketika Sosok Tubuh menginjak kelas 6 SD. Luka muncul tanpa diawali goresan benda runcing atau sisi pipih ilalang yang biasa ia labrak di jalanan menuju sekolah. Ibunya selalu rajin mengolesi lukanya dengan ramuan rempah-rempah dan tumbukan daun-daun.

Advertisement

Tapi tak kunjung kering. Sosok Tubuh dibawa ke Puskesmas desa tetangga. Tapi nihil, tak ada hasilnya. Atas petunjuk tetangga yang percaya klenik. Sosok Tubuh dibawa ke dukun desa terpecil. Karena ayahnya harus membantu panen tetangga, alhasil ibu sendiri yang membawa Sosok Tubuh ke dukun itu. Tentu dengan rasa kurang aman. Benar saja tampang dukun itu sangar. Sosok Tubuh kecil yang ketakukan mendekap ibunya yang juga diliputi hati was-was.

“Ini bukan borok biasa, ini kiriman seseorang. Hanya bisa sembuh oleh darah manusia yang mati tak wajar.” Mendengar itu, ibu Sosok Tubuh bergidik, tanpa kata-kata lagi segera ia raup anaknya dan pergi meninggalkan dukun gila itu. Borok di kaki kiri Sosok Tubuh terus basah. Setiap malam, Sosok Tubuh kecil tak henti menangis. Ia tak tahan dengan gatal dan perih yang ditimbulkan dari borok di kaki kirinya. Memilukan. Ibu hanya bisa menatap iba. Sesekali berurai air mata.

Ia ingin membawa anaknya ke rumah sakit di kota, tapi apa daya, “Ayah…” suara ibu memelas menatap suaminya yang duduk di dipan ruang tengah yang juga terlihat bingung. Ayah paham, istinya memintanya melakukan sesuatu.

Pagi itu, subuh telah berlalu. Sosok Tubuh Kecil baru saja pulas. Di luar rumah, tiba-tiba terdengar keributan teriakan maling-maling. Teriakan massa mengancam agar sesorong dibunuh pun sangat nyaring. Dengan gemetar Ibu mengintip dari tirai jendela. Seorang lelaki dengan wajah tertutup kain dikerubuti warga. Lelaki itu pasti sudah babak belur. Ia terhuyung persis tak jauh dari pintu rumahnya. Dipenuhi rasa ngeri Ibu terpaksa keluar. Saat warga membuka kain yang menutupi lelaki itu.

Bukan kepalang ia kaget. Sambil menjerit, dirangkulnya suaminya yang tengah sekarat. Suara ibu yang menangis sejadi-jadinya membuat Sosok Tubuh Kecil terbangun, menangis. Dengan tangan berlumur darah, ibu berlari masuk ke kamar anaknya yang tangisnya makin kencang. Ibu menatap telapak tangannya yang merah oleh darah suaminya, lalu matanya tertuju pada borok di kaki kiri anak semata wayangnya itu.

***

Pagi itu, ketika gelap berada pada titik kulminasinya. Sosok Tubuh pergi menyeret borok di kaki sebelah kiri. Di trotoar bawah jembatan penyebrangan busway BPKP yang sepi Sosok Tubuh duduk. Rasanya tak sanggup lagi menahan gatal dan perih yang berasal dari luka di kaki kirinya. Luka yang sehari sebelumnya hanya bintik kecil dengan nanah yang mungil. Arhh… Sosok Tubuh mengerang. Ia mengeliat-geliatkan tubuhnya.

Tanpa sepengetahuannya, beberapa meter dari tempat Sosok Tubuh duduk, sesosok tubuh lain melayang dari atas jembatan penyebrangan. Dengan menyeret kaki kiri, Sosok Tubuh mendekati sesosok tubuh lain yang koyak di tengah aspal sepi itu.

Dalam keadaan sekarat, aku masih berusaha melihat Sosok Tubuh menyobek celana yang menutupi borok di kaki kirinya. Ia membungkuk. Dan aku merasakan tangan Sosok Tubuh dengan jari-jarinya yang bulat panjang mengusap darah segar yang merembes dari mata, pelipis, hidung, dan telingaku. Dengan darah itu, Sosok Tubuh mengusap borok di kaki kirinya. Tanganku berusaha menggapai, ingin sekali aku membantu mengusapkannya.