Stop Bullying Pada Anak, Supaya Nggak Jadi Trauma yang Susah Dikendalikan

Stop Bullying

Fenomena perundungan atau biasa disebut bullying adalah tindakan atau perilaku yang dilakukan untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun psikis. Fenomena bullying ini tidak hanya terjadi di dunia nyata tetapi juga di dunia maya. Biasanya pelaku bullying ini berjumlah lebih banyak daripada sang korban atau dalam kata lain memiliki jumlah massa yang lebih banyak sehingga memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menindas korban, jika pelaku telah memiliki target korban maka pelaku akan terus menerus mengusik kehidupan korban bahkan sampai hal paling kecil yang menyebabkan korban merasa risih namun tak memiliki daya untuk melawan pelaku.     

Advertisement

Merujuk data dari KPAI selama bulan Januari hingga April 2019, setidaknya ada 8 anak korban, 3 kasus anak korban pengeroyokan, 3 kasus anak korban kekerasan psikis, 8 kasus anak korban kekerasan fisik, 12 kasus anak korban kekerasan psikis dan bullying serta 4 kasus anak pelaku bullying terhadap guru. KPAI juga memberi keterangan bila sebagian besar anak korban kekerasan fisik dan bullying meliputi anak dituduh mencuri, anak dibully oleh teman-temannya, anak dibully oleh pendidik dan saling ejek di dunia maya.

Pihak KPAI juga mencatat dalam kurun waktu 9 tahun, 2011 sampai 2019 paling tidak ada 37.381 pengaduan kekerasan terhadap anak. Untuk kasus bullying baik di sekolah maupun didunia maya mencapai 2.473 dan terus bertambah setiap tahunnya. KPAI menyebutkan jika kasus bullying ini bagaikan gunung es, artinya baru seujung kuku saja yang terlapor dan masih banyak lagi kasus-kasus yang belum terlapor sehingga menjadi PR berat bagi KPAI untuk memastikan jumlah kasus bullying yang ada di Indonesia.      

Berdasarkan data di atas dapat kita ketahui bahwa perundungan atau bullying mayoritas terjadi di jenjang sekolah dasar, walaupun tak menutup kemungkinan terjadi di jenjang SMP,SMA, maupun perguruan tinggi. Namun yang ingin saya tekankan di sini adalah jenjang sekolah dasar, jenjang dimana anak-anak memiliki memori yang indah, bermain, tertawa lepas dan tidak memikirkan beban apapun malah menjadi jenjang yang menakutkan bagi sebagian anak. Maka dari itu saya akan mengemukakan penyebab atau faktor apa saja yang memungkinkan anak-anak melakukan tindak perundungan terhadap teman sebayanya.

Advertisement


Kurangnya tontonan untuk anak-anak


Pada era saat ini, konten khusus anak-anak sedikit sekali jumlahnya. Baik ditelevisi maupun dimedia sosial seperti youtube, sebagian besar konten-konten yang ada hanya untuk usia remaja hingga dewasa sehingga anak usia dini mengkonsumsi tontonan-tontonan tersebut. Contohnya sinetron anak jalanan, anak langit, anak band, dan lain sebagainya. Dalam tontonan tersebut menampilkan perkelahian atau adu mulut yang diperankan oleh aktor, secara tidak langsung hal tersebut terekam dalam otak anak-anak lalu mereka mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya itulah penyebab anak usia dini mampu menganiaya teman sebayanya.


Kurangnya pengawasan orang tua


Masih berkaitan dengan point no 1, pengawasan orang tua terhadap tontonan anak juga perlu diperhatikan. Fenomena yang terjadi saat ini adalah orang tua lebih memilih memberikan gadget pada anak-anak daripada memberikan waktu untuk melakukan pengawasan karena sebagian dari mereka sibuk bekerja sehingga mereka memilih untuk memberi gadget agar anak-anak tidak rewel saat ditinggal bekerja, inilah yang menjadi kesalahan awal, karena tanpa pengawasan orang dewasa anak-anak jadi mengkonsumsi segala konten yang ada dilayar mereka. Memang sudah banyak aplikasi yang ramah anak akan tetapi hal tersebut tidak menutup kemungkinan jika anak tidak mengkonsumsi konten-konten dewasa. 


Lingkungan yang tidak sehat


Hal lain yang dapat memicu anak-anak melakukan kekerasan terhadap teman sebanyanya adalah lingkungan yang tidak sehat, maksud dari lingkungan tidak sehat di sini adalah anak-anak menyaksikan atau diperlakukan tidak semestinya. Contoh dalam suatu lingkungan sang anak berteman dengan orang dewasa, orang dewasa tersebut biasa berkelahi atau mengumpat didepan anak-anak. Secara tidak langsung sang anak ikut-ikutan apa yang mereka lihat dan diaplikasikan dalam kehidupan mereka di sekolah, di samping lingkungan masyarakat terdapat juga lingkungan keluarga yang tidak sehat.

Contohnya ayah atau ibu yang suka main tangan jika sang anak melakukan kesalahan, lama kelamaan sang anak juga akan meniru perbuatan yang dicontohkan oleh orang tua mereka. Dari ketiga point di atas dapat mempengaruhi kepribadian anak-anak untuk meniru apa yang mereka lihat, karena mereka menganggap bahwa hal tersebut keren. Oleh karena itu anak-anak mampu melakukan kekerasan fisik maupun psikis kepada teman sebayanya, lalu apakah dampak yang ditimbulkan dari bullying ini? 


  1. Perubahan perilaku dari korban bullying. 

    Perubahan perilaku ini sangat kontras sekali, contohnya si anak biasanya bersemangat untuk sekolah dan ceria namun setelah ia menjadi korban bully si anak menjadi lebih pendiam, tidak bersemangat sekolah hingga mogok sekolah. Disinilah orang tua harus peka terhadap perubahan sang anak dan segera mencari tahu penyebabnya sehingga dapat melakukan penanganan sejak dini.

  2. Gangguan psikis. 

    Masih berkaitan dengan point no 1, gangguan psikis juga berdampak ke perubahan perilaku. Korban bullying pasti merasakan tekanan yang luar biasa namun tidak mampu berbuat apa-apa, hal ini dapat berpengaruh pada kesehatan mental si korban. Jika tidak cepat ditangani maka akan berdampak buruk bagi si korban.

  3. Dapat menghambat tumbuh kembang korban. 

    Tekanan-tekanan yang dirasakan korban sangat memungkinkan untuk menghambat tumbuh kembang korban, khususnya tumbuh kembang mental. Contohnya sang korban sangat pandai menyanyi namun karena sudah lama dibully maka korban enggan untuk mengikuti kompetisi menyanyi karena takut dibully lebih kejam lagi, contoh tersebut menegaskan bahwa tekanan mental dapat menghambat perkembangan korban.

Bisa dibayangkan jika banyak anak Indonesia yang mengalami perundungan atau bullying maka hal ini akan berpengaruh pada kualitas negara dimasa depan, apalagi sebagian besar warga Indonesia berusia produktif yang mana generasi inilah yang akan memimpin negara dimasa yang akan datang. Tetapi jika generasinya memiliki tekanan mental atau gangguan mental maka masa depan negara akan suram. Oleh karena itu perundungan atau bullying ini sudah semestinya mendapat perhatian bagi semua kalangan untuk ikut menghentikan laju perundungan di Indonesia, memang tidak mudah untuk menghentikannya tetapi jika kita bersama-sama kompak dan bersatu padu maka tidak ada hal yang tidak mungkin. 

Salah satu solusi yang bisa kita lakukan adalah memberikan perhatian terhadap anak-anak yang ada di lingkungan kita. Yang selanjutnya sebagai orang tua jangan biasakan memberi anak gadget, buatlah jadwal khusus agar anak tidak ketagihan gadget. Untuk mengisi waktu senggangnya ajaklah anak bercerita tentang kesehariannya di sekolah, hal ini dapat mempererat keharmonisan antara anak dengan orang tuanya. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswa Ilmu Komunikasi AMIKOM Yogyakarta, mencoba untuk menulis artikel

CLOSE