Suara Perempuan dari Desa. Menyoal Keterbatasan dan Perbedaan Privilese

Menjadi perempuan adalah rahmat Tuhan yang patut disyukuri. Ini karena tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, kecuali dari tingkatan takwa pada ilahi. Perempuan juga bagian dari dunia yang berhak atas otorisasi. Tak mungkin dimungkiri, perempuan sejatinya pancaran keharmonisan yang hakiki. Maka dari itu, tidak perlulah menimbang kadar peran perempuan sebagai manusia hanya mengacu pada domestifikasi.

Saya akan menceritakan beberapa hal yang menjadi fenomena perempuan di pedesaan. Di desa, peran perempuan begitu didomestifikasi melalui pekerjaan rumah tangga. Maka, perempuan pulalah yang bertanggung jawab besar atas keadaan rumah, hubungan dengan tetangga, dan isu-isu sosial masyarakat desa. Apalagi para perempuan ibu yang berpengaruh besar mengurusi pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan lain dari anaknya.

Pagi-pagi sekali, para perempuan ibu sudah bangun. Kepulan asap dari dapur dan aroma bumbu masakan juga sudah tercium. Mereka tengah bersiap menjelang hari pagi yang menyibukkan. Setelahnya, mereka bersiap berangkat ke ladang untuk menanam jagung atau beberapa kegiatan keseharian mereka. Hal ini mereka lakukan tidak terlepas dari kebutuhan dan semata untuk membantu suami mereka. 

Kalau kalian pernah nggak, sih, melihat fenomena para perempuan ibu yang kelihatannya sangat sibuk dan seolah-olah menanggung beban ganda semacam itu? Bayangkan bagaimana beratnya tugas seorang ibu yang rata-rata sangat membebaninya mulai dari mencuci baju, menyapu, mengepel, memasak, dan pekerjaan rumah lainnya yang bejibun. Saya yang juga sebagai anak perempuan, terkadang tersadarkan oleh sistem yang, saya rasa, tidak adil untuk perempuan terutama di desa. 

Seperti yang saya sebutkan tadi, para perempuan ibu di tengah kesibukannya itu, tetap berupaya mengikuti sosial masyarakat. Mereka, yang dengan usaha dan kesadaran, ikut aktif dalam arisan, kegiatan ibu muslimat, atau perkumpulan orang tua siswa di sekolah. Meski terkadang, mereka kesulitan dalam finansial, tidak menyurutkan senyuman saat sudah bertemu dengan para ibu-ibu lainnya.

Sejak subuh, mereka sudah menyiapkan sarapan, baju sekolah anak, keperluan suami dan dirinya sendiri untuk pergi ke ladang atau sawah. Buat apa mereka rela melakukan pekerjaan yang berat begitu? Itu menjadi dogma kewajiban sekaligus rutinitas bagi mereka. Kalau ada dogma soal perempuan harus di rumah saja, ini tidak berlaku bagi para perempuan desa juga bagi perempuan yang harus keluar mengais rezeki untuk mencukupi kebutuhannya. Kalau tidak bekerja, mau makan dari mana?

Kembali lagi berbicara tentang perempuan desa, ada satu hal yang cukup ironis. Ketika mereka menikah dengan laki-laki yang memiliki sawah, ladang, atau tanah garapan mereka dituntut untuk bisa bekerja bersama. Sudah harus mengurus pekerjaan rumah, ditambah lagi pekerjaan sekunder di ladang.

Saya jadi teringat teman saya yang mau menikah saat itu. Dia ditanya oleh calonnya, apakah bisa diajak bekerja di ladang. Teman saya yang sebenarnya juga masih ingin meniti karir pun malah menjadikan pertanyaan itu sebagai kesempatan terlepas dari perjodohan. Dia mungkin menyadari adanya hubungan relasi kuasa yang tak baik, yang mungkin ke depannya akan terjadi.

Selain itu, ada juga pengalaman perempuan remaja di desa yang penting untuk dibahas. Saya sendiri mengalami pengalaman-pengalaman itu. Ketika di usia yang, menurut masyarakat, terbilang sudah cukup umur untuk menikah, banyak pertanyaan yang ditujukan agar segera menikah. Dari yang saya lihat, perjodohan juga masih mendominasi pernikahan di desa. 

Ada satu pengalaman teman saya lagi yang membuat saya bisu. Dia juga sebaya dengan saya. Dia, ketika duduk di bangku SMA, berpacaran dengan laki-laki remaja di desa. Ketika lulus, malahan belum lulus, dia sudah dilamar (catatan: saya membatasi sudut pandang yang membahas pacaran karena fokus saya ada pada keadaan teman saya sebagai perempuan). 

Sewaktu saya berbincang berdua saja dengannya, dia terlihat akan menangis saat menceritakan perasaan dan keinginan pribadinya. Dia pernah berniat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, karena keadaan yang memaksanya, niatnya itu urung diwujudkan. Sampai akhirnya, dia pasrah terhadap keadaan.

Saya merasakan betapa tubuh mereka dipacu oleh tangan laki-laki. Mereka telah lama dipaksa tunduk dan nurut. Seolah hanya dengan itu mereka dianggap ada. Seolah eksistensi mereka disebabkan oleh naungan lelaki, sejak dulu. Perempuan telah lama distigma dan dibentuk sedemikian rupa oleh masyarakat menjadi kaum yang lemah, lagi tak berdaya.

Saya tidak akan mau mengalami hal-hal itu. Namun, sebagai perempuan yang lahir dari rahim peradaban desa, saya mencoba mencerna kembali bagaimana jalan keluarnya. Rasanya kosong ketika tak ada torehan visi yang sama di lingkungan yang sama pula.

Adakalanya saat saya melihat pancaran wajah dan kedamaian mereka, saya merasa semua baik-baik saja. Akan tetapi, bagaimanapun masih ada yang harus diselesaikan. Dan, saat perempuan berbicara perihal isu perempuan, mungkin bisa saja terkesan merendahkan yang lain. Tidak. Konteks isu yang dibahas bukanlah untuk semakin menstigma perempuan lain. Justru dengan adanya kesadaran, sedikit demi sedikit dapat membangun kompleksitas titik hubung jati diri perempuan. 

Privilese pengetahuan memang belum didapat oleh semua perempuan. Namun, kesadaran akan kesetaraan dan penghidupan yang layak bagi perempuan boleh dikatakan sudah ada sejak nama mereka adalah perempuan. Pasti ada kejanggalan-kejanggalan yang perlu ditemukan jawabannya. Terlebih pada perempuan desa, tumbuh suburnya kesadaran itu terletak pada pencerahan perempuan lain. Saya pun demikian, memang ini sulit diterabas. Saya tetaplah bagian dari perempuan desa yang perlu bergerak bersama.

Di tengah suara memperjuangkan kesetaraan gender, harusnya ketahanan terhadap pemahaman isu ini bisa sampai ke lingkup desa. Sayangnya, akses menuju ke sana begitu tabu dan rabun untuk dikalahkan oleh budaya dominansi laki-laki. Bagaimana, ya, keterbatasan dan perbedaan privilese juga sangat berpengaruh.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Sedang belajar.