Surat Cinta Dariku Untukmu Sang Penebar Teror

Untukmu tuan teroris yang terhormat, Aku tidak tahu pasti kapan tepatnya aku mengenal frasa tentangmu. Seolah frasa teroris menjadi tak asing bagiku sejak rentetan dan dengungan bom menghantui negeriku. Aku memang tak begitu mengenalmu, kurasa kau pun juga tak mengenalku ataupun orang-orang itu, mereka juga tidak mengenalmu. Aku bahkan tidak tahu bagaimana wujud dan rupamu. Yang kutahu kau menggunakan pakaian simbol agamaku untuk menebar teror dan ancaman.

Advertisement

Tuan teroris yang terhormat, Aku tidak tahu apa yang membuatmu bertindak diluar nalar manusia. Terkadang aku bertanya apakah kau benar seorang manusia makhluk mulia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Ataukah kau adalah makhluk lain yang entah bagaimana bisa berada di bumi. Yang kutahu Tuhan membekali manusia dengan cinta dan akal. Lalu, di manakah keduanya?

Tidakkah engkau merasakan cinta pada sesama. Tidakkah kau berpikir efek dari perbuatanmu. Berapa banyak orang tua yang kehilangan anak–anak mereka. Berapa banyak darah yang bercucuran di bumi. Tidakkah kau mendengar suara tangisan dan rintihan dari orang–orang yang tergeletak tak berdaya di pinggir jalan. Pakaian mereka compang–camping, darah segar deras bercucuran, dan tubuh mereka terkoyak, daging terlepas dari tulangnya bercampur bau terbakar yang sangat menyengat. Tidakkah kau merasa iba? Ataukah hatimu telah beku dan mati?

Tuan teroris yang terhormat, Perkenalkan aku seorang Muslim, aku memang bukanlah seorang Muslim yang kaffah. Ilmu keislamanku pun bahkan belum mencapai ubun–ubun. Aku masihlah menjadi seorang Muslim yang buta dan tuli hingga dalam perjalananku bertemu dengan Tuhan masih tertatih dan mendapat bimbingan serta tuntunan.

Advertisement

Bukan aku bermaksud untuk mengguruimu atau mengajarimu. Tidak, aku tidak bermaksud menjadi lebih hebat darimu. Karena aku menyadari aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya seorang remaja muslim yang sedang dalam masa pencarian akan Tuhanku.

Tuan teroris yang terhormat, Yang kutahu Islam adalah agama yang penuh kelembutan. Setiap perkataan dan tutur katanya selalu terjaga. Bahkan Islam selalu menundukkan pandangan. Senyumnya selalu tersebar tanda keramahan dan keindahan akhlaknya. Yang kutahu Islam adalah Rahmatan Lil’alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta. Ia melindungi dan mengayomi mereka yang lemah sebagaimana yang dilakukan sang pembawanya.

Yang kutahu, negeriku menjadi negara mayoritas islam terbesar di dunia, karena peran dan kelembutan para wali Allah. Mereka mengajarkan ilmu dengan kelembutan dibalut dengan keragaman dan kearifan budaya lokal. Bukan dengan pedang ataupun suara teriakan.

Tuan teroris yang terhormat, Pernahkah anda berpikir, salahkah perbuatanmu. Pernahkah kau berpikir akankah Tuhan atau Allah menerima pengorbananmu. Akankah sang pencipta menerima darah yang kau tumpahkan karena rasa benci dan dendammu. Kau tahu, bahasa dalam Al-Quran adalah bahasa yang sangat indah setiap rangkaian katanya berisi nasehat yang menyejukkan.

Namun, aku bertanya mengapa engkau mencabut nyawa orang karena perintah dalam al-quran. Tuan, adakah kau benar-benar membaca dan memahami Al-Quran. Bahkan saat membaca dan mendengarnya pun aku bisa menanggis tersedu sedu. Lalu, mengapa dengan mudah mengatakan halal membunuh makhluk ciptaanNya karena Al-Quran. Aku tak habis pikir, jika engkau ingin membunuh haruskah kau menggunakan atribut dan simbol Islam. Haruskah kau bertakbir dan mengucap asma Allah dengan lantang kemudian kau melempar bom dan setelah itu nyawa–nyawa tak bersalah terkapar tak berdaya.

Tuan teroris yang terhormat, Tuhan menciptakan manusia dengan beragam rupa dan perbedaan agar kita saling menghormati dan memahami. Bukan untuk saling menghunus pedang atau pun melempar bom untuk menunjukkan siapa yang lebih berkuasa. Tuan, manusia tidak akan pernah sama bahkan anak yang terlahir kembar pun memiliki perbedaan.

Namun, bukan berarti darahnya halal untuk kau bunuh apalagi kau mengatas namakan Tuhan karena yang kutahu salah satu sifat Allah adalah Ar-Rahma dan Ar-Rahim yang artinya maha penyayang dan pengasih. Bahkan Tuhan pun menciptakan manusia dengan penuh cinta dan rasa kasih sayang. Lalu, mengapa engkau dengan mudahnya mencabut nyawa manusia dengan begitu bengis dan sadis.

Tuan teroris yang terhormat, Mungkin kau tidak ada waktu untuk membaca suratku, surat yang kutulis dengan penuh cinta untuk engkau, kami dan negeriku. Aku tahu kau sedang sibuk mengatur strategi. Namun, ketahuilah belum terlambat untukmu kembali ke jalan yang benar.

Tak perlu kau acungkan pedang dan senapanmu agar mereka tahu kau ada, cukup tersenyumlah dan tunjukkan kelembutan islam. Tunjukkan jika islam adalah rahmat bagi alam semesta sebagaimana yang dilakukan teladan kita, Rasulullah.

Tuan, yang kami inginkan hanya hidup berdampingan dengan damai dan penuh cinta kasih. Saling memberi dan menghormati. Yang kami inginkan hanya hidup dalam negara yang damai dan merdeka. Untuk itu tuan, turunkan senjatamu dan tersenyumlah lihatlah dunia lebih luas lagi. Pandangilah langit biru yang luas membentang dan rasakan angin semilir yang berhembus bahwa hidup dalam perdamaian dan kedamaian adalah hadiah yang mahal dari sang kuasa.

Indonesia, 18 Mei 2018 Ardiani Ratna

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya