Sura

Kebanyakan masa SMA adalah masa yang menyenangkan sekaligus sebagai masa yang menggalaukan. Di masa ini kita sering digalaukan dengan pilihan masa depan tentang melanjutkan kuliah atau bekerja. Di masa ini juga menjadi masa yang paling banyak tantangannya. Di masa ini aku yang hanya anak sekolah memiliki impian untuk bisa ke Inggris. Mungkin mimpi itu belum berhasil saat ini, tapi di masa SMA ada sebuah proses dimana tantangan, proses dan jawaban menjadi satu.

Aku memang menyukai pelajaran bahasa Inggris sejak kecil. Sejak kecil aku berkeinginan untuk bisa pergi ke negeri kerajaan itu. Melihat para bangsawan seperti raja, ratu, pangeran dan putri dalam wujud nyata. Kala itu, aku mengagumi sosok Pangeran William yang menurutku memiliki wibawa dan terlihat sangat sederhana dibanding dengan pangeran kebanyakan. Aku selalu ingat bahwa ulang tahun pangeran tidak jauh dari tanggal lahirku yaitu tanggal 21 Juni 1982. Aku selalu menantikan berita-berita tentang trend di Inggris untuk menyambut ulang tahunnya.

Advertisement

Hingga saat aku duduk di SMA kelas II, aku berfikir mengirimkan surat ucapan selamat ulang tahun pada Pangeran William. Aku tidak tahu saat itu bahasa Inggris yang harus aku gunakan jika berhadapan dengan orang sekelas bangsawan. Namun aku tidak perduli pada kemampuanku yang hanya seujung jari itu. Aku hanya modal ingin mencoba dan ingin berkenalan itu saja. Aku belajar membuat draft surat yang akan aku kirim dengan modal membuka buku tata bahasa dan kamus. Aku juga berkonsultasi dengan guru bahasa Inggrisku di SMA agar suratku tidak terlihat santai namun sopan.

Koreksi demi koreksi diberikan oleh guruku. Penulisan surat ini serasa aku sedang mengikuti sidang skripsi jika aku anak kuliahan. Aku penasaran bagaimana rasanya jika menulis surat kepada bangsawan, dan ini serasa tantangan yang luar biasa bagi anak SMA sepertiku saat itu.

Suratnya sederhana saja, hanya berisi siapa aku di mana aku tinggal, kelas berapa aku, hobi dan juga mengatakan betapa kagumnya aku pada pangeran Willam. Tidak lupa aku turut mengucapkan selamat ulang tahun dan semoga selalu bahagia. Tidak ada yang spesial dari surat itu, surat dari anak SMA yang mengagumi idolanya. Setidaknya aku berusaha mengenalkan diri pada idolaku dan idolaku pun tahu jika aku sangat mengaguminya.

Advertisement

Dalam benakku hanya kecil harapan untuk dibalas kembali oleh pangeran, mengingat ia akan sangat sibuk dan tidak mungkin menjawab satu per satu surat yang datang. Jadi surat itu murni aku tulis karena rasa bahagia sekaligus kagumku padanya. Aku menikmati setiap proses dalam pembuatan itu, aku belajar menulis surat dalam bahasa asing, aku belajar bahasa yang baik jika berhadapan dengan orang kalangan atas dan hal lainnya.

Sebelum itu aku harus bolak-balik ke warnet untuk mencari alamat surat keluarga kerajaan. Aku pikir itu mudah, tapi tidak juga. Aku harus membuka website resmi ke keluarga kerajaan, di mana di sana setiap kerajaan memiliki website tersendiri. Aku harus bersabar membuka satu per satu alamat official web hingga aku menemukan website milik Clarence House yang mana seperti kantor penerimaan surat untuk keluarga raja. Setelah menemukannya, aku mengirimkan surat itu 2 minggu sebelum pangeran ulang tahun, karena pengiriman via pos ke luar negeri tidak bisa sebentar.

Hingga pada bulan Juli 2006, ada pak pos yang mengantar sebuah surat. Aku kira untuk ayahku, ternyata itu untukku dari kerajaan Inggris. Aku mengirimkannya ke Clarence House, London di mana semua surat untuk keluarga raja ditempatkan pada satu alamat kantor di sana. Walau bukan pangeran sendiri yang menulisnya, balasan surat itu membuatku semakin percaya diri dan ingin lebih berusaha lagi untuk menguasai bahasa asing.

Isinya berupa ucapan terima kasih atas perhatian kepada Prince William. Ia tidak bisa membalas satu per satu surat yang ditujukan padanya sehingga sekertarisnya yang membalas surat itu. Salam hangat dari Prince William dan keluarga kerajaan.

Setelah mendapatkan surat dari pangeran Willam, aku tidak memberi tahu siapapun. Justru guru bahasa Inggrisku yang menanyai apakah dibalas apa tidak. Aku jawab saja bahwa suratnya sudah dibalas. Kemudian, esok hari saat kami ada pelajaran bahasa Inggris tiba-tiba cerita tentang surat ini diceritakan kepada teman sekelasku. Guruku bercerita bagaimana usaha dan keberanian yang dimiliki bisa menjadi motivasi bagi seseorang untuk mendapatkan hasil yang diharapkan.

Mungkin menulis surat memang hal yang sepele, namun bukan hasilnya yang dipikirkan. Terlebih proses untuk mencapai hasil itu yang membuat kita bahagia. Perjalanan menulis surat ini terlihat sepele, namun dampaknya membuatku lebih percaya diri dalam mengasah kemampuan bahasa yang aku tekuni. Seperti pada tema #AyokeUk #WTGB #OMGB ini, mengikuti kontes ini bukan berarti harus menang melainkan bisa berbagi pengalaman melalui hal yang positif dan memotivasi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya