Dua orang yang berada jauh dari pandanganku kala ini. Dua orang yang tak pernah lelah menasehatiku ketika aku lupa. Dua orang yang selalu mengajariku saat aku tak mengerti. Dua orang yang tak akan bisa tergantikan bagiku. Juga dua orang yang ku sayang lebih dari apapun di dunia ini.


Mereka orang tua ku, meski kadang mereka memarahiku.


Advertisement

Tapi aku mengerti apa yang mereka lakukan itu karena salahku yang sulit diatur. Mereka adalah orang pertama yang mengenalkan aku tentang makna dunia hingga detik ini. Dari sosok mama aku belajar sabar, tabah, dan juga kuat. Sabar ketika menghadapi seorang anak yang sulit diatur. Tabah ketika ia harus berjuang demi si buah hati. Kuat ketika ia menasehati namun diabaikan.

Tapi beliau cukup kuat menyembunyikan air matanya, seolah olah ia tak merasa terluka. Padahal ia lah orang pertama yang terluka saat kita terluka. Dari sosok seorang papa aku belajar ketenangan juga pengertian. Tenang saat ada masalah serius dan masih ada kata "Bersabarlah sedikit nak," tapi kata itu hanya untuk membuat kita merasa tenang. Padahal kita tak akan pernah tahu apa yang akan ia lakukan. Dan seorang papa yang dianugrahkan pundak yang cukup kuat untuk menepis air mata. Mengerti saat kita mengeluh dan ia akan berkata "Tenanglah." Tanpa kita sadari ia telah merencanakan hal yang tak terduga.


Mereka adalah dua raga dalam satu jiwa yang saling menyatu dan dua darah yang mengalir jadi satu di dalam tubuhku.


Advertisement

Bagi mereka kita adalah dunianya dan jika mereka berada dalam dua pilihan, "Buah hati atau kekayaan," maka mereka akan lebih memilih hidup sederhana tapi bersama buah hatinya. Bagi mereka kita adalah segalanya. Kehilangan anaknya adalah kehilangan separuh nyawanya.

Tapi kita tak pernah sadari itu. Kita tak pernah mau tahu apa yang mereka lakukan hanya demi melihat kita tersenyum yang mereka lakukan hanya untuk kebahagiaan kita anaknya.Tanpa kita sadari ia terluka karena perilaku kita yang tidak baik. Saat nasehatnya kita abaikan, ia akan berfikir ia telah gagal mendidik kita. Namun kita tak pernah menyadari semua itu.


Ma, Pa, maafkan jiwaku yang egois, selama ini tak pernah mendengarkan nasehatmu. Maafkan pula jiwa yang selalu membuatmu terluka dan maafkan jiwa yang tak pernah mengerti keadaanmu.


Tuhan, ampunilah dosa hambamu ini juga dosa kedua orangtuaku. Sayangilah mereka seperti mereka menyayangi aku anaknya. Jagalah mereka saat terjaga hingga terlelap, seperti mereka menjagaku saat siang dan malam. Amin.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya