Aku ingat, waktu itu kita masih kelas tiga SMP, sudah lama yahh berlalu… Tapi ingatanku masih segar untuk mengingatnya… heheehe… Kenakalan kita, kelucuan kita, kekompakkan kita, dan kebersamaan yang indah, tentunya masih jelas terekam. Termasuk kisah kita. Yah kita, aku dan kamu.

Aku ingat, saat itu sedang musim kita mengikuti Les pelajaran untuk kita persiapan ujian. Entah kapan kita mulai saling menyukai, dan siapa duluan yang mulai jatuh cinta (Cinta Monyet tentunya… hehehe), yang pasti saat itu kau mengungkapkan perasaanmu padaku dengan raut wajah dan kalimat yang masih sangat malu- malu, standar ukuran anak SMP lah yaa hahaha…

Saat aku mendengarnya, aku sangat kaget, pokonya perasaanku waktu itu campur aduk banget. Ada senang, bahagia karena di tembak, malu, ada gugupnya juga tentunya. Mungkin saya juga menyukai kamu waktu itu, tapi karena terlalu kaget mungkin yah, makannya aku menolakmu. Tapi entah kenapa, ada penyesalan setelahnya. Ahh, dasar pikiran yang pancaroba yah, hahaha.

Beberapa hari kemudian aku menyempatkan diri membeli sebuah buku diary. Warnanya pink, gambar kucing. Tahukah kamu? selain kisah- kisah hidupku yang ku tulis di diaryku, kamu juga adalah orang yang mendominasi hampir semua halaman diaryku. Fotomu, dan foto kita saat perpisahan kelulusan, masih menempel semua dengan rapi beserta sederet kisah tentang kamu.

Kamu istimewa, yang selalu membuat hatiku bergetar (sedikit alay… hahaha). Hmmm, penyesalan karena aku tak menerima cintamu makin menyiksa. Seandainya masih ada kesempatan kedua waktu itu. Tapi semua sudah keburu pergi. Kamu pergi dan tidak lagi memberi aku kabar apapun.

Advertisement

Empat tahun sejak kisah kita tertutup rapat, tiba- tiba kamu hadir lagi lewat media sosial. Kita kembali berkomunikasi walaupun itu tak langsung. Kamu mencoba menghidupkan kembali bayangan tentang kenangan kita di masa lalu. Hampir setiap hari kamu menyapaku di medsos. Ah, tapi aku terlalu sibuk dengan tugas kuliahku yang bertumpuk- tumpuk, jadi aku jarang membalasnya.

Kamu tidak berhenti sampai disitu saja, kamu akhirnya bisa menghubungiku via telepon, aku kaget sih, tapi sepertinya tidak ada getaran yang berarti lagi seperti dulu. Mungkin karena hatiku telah diisi yang lain atau aku yang tidak mengharapkan kehadiranmu.

Hingga suatu hari, kamu menanyakan hal yang sama seperti waktu kita masih SMP dulu, tapi kali ini kamu menyampaikannya sudah lebih berani dan banyak embel- embel bahasanya. Maaf, tapi Sekali lagi aku harus menolakmu. Tidak ada penyesalan di hatiku saat itu seperti dulu. Aku sadar bahwa memang jarak dan waktu sudah memakan cinta itu waktu empat tahun lalu.

Mungkin perasaanku hanya luapan emosi sesaat karena kita yang belum cukup dewasa. Yah, Aku memang menyayangimu, tapi hanya dalam bentuk persahabatan. Lagipula, hatiku telah diisi dengan yang lain saat kamu pergi dan sebelum kamu kembali. Ibarat kapal, hatiku sudah banyak kali bongkar muat. Dan kamu sudah lama ku tinggalkan di pelabuhan yang pernah kusinggahi dulu. Sekarang kamu ingin kembali, aku tak bisa menerimanya lagi.

Hey kamu,,, kamu yang selalu mengisi diaryku waktu dulu…Lihat… Aku sekarang bukan anak kecil dengan seragam putih biru lagi yang polos dengan cinta dan perasaan yang sama dengan waktu itu. Aku sudah cukup dewasa mempertimbangkan mana yang pantas kupilih dan kupertahankan sebagai lelakiku. Dan Kamu bukanlah orangnya.

Aku harap suatu saat kita bertemu, entah itu kapan, kita akan saling menyapa dan tidak saling membuang muka. Setidaknya kita pernah di pertemukan dalam sebuah persahabatan yang indah dan kekanakkan saat kita masih SMP. Aku selalu bahagia mengingat kisah- kisah kita dulu. Semoga kamu mengerti dan kembali merajut pertemanan yang hangat denganku lagi.

Love you so much.. much more my dear Ffriend… 🙂