Hanya satu waktu yang diperlukan mata ini melihat keindahan dunia, panorama yang begitu menakjubkan walaupun hanya secuil kehidupan. Banyak pertanyaan berhamburan menuju angkasa, namun kaki ini melangkah begitu saja. Tempat yang asing bagiku, namun begitu indah. Hal pertama yang dituju mata ini adalah lembaran yang sibuk berayun di atas, ladang biru dengan salib merah yang memiliki pinggit berwarna putih sekaligus sempurna dengan goresan diagonal salib berwarna merah. Beribu pertanyaan masih berhamburan dari benakku, namun mata ini dibiarkannya terbuai melihat pemandangan yang seolah jelas ada di depanku.

Gedung menjulang tinggi memampatkan beberapa jam berukuran besar, megah dengan goresan arsitektur yang tidak kupahami. Antik, terlihat bergaya gothic terasa mengungkit sejarah yang dahulu kubaca. Tidak asing namun memunculkan tanya. Aku merasa begitu hangat, seolah ini musim panas di surga, seolah aku baru bangkit dan hidup. Pelan-pelan aku mengayunkan tangan, menari-nari di taman yang kurasa adalah bagian dari surga. Kulihat banyak orang dan aku pun merasa tidak lagi sendiri. Mataku tertuju pada sebuah tulisan, kudekati “St. James’s Park”, saat aku membacanya; aku merasa sesak seolah ini tidak mungkin, aku berbalik dan tepat di depanku kuperhatikan jelas sebuah bangunan besar yang baru kusadari adalah sebuah istana: ‘Istana Buckingham’. Sesakku tergantikan dengan tawa, masih merasa seolah ini adalah hal yang mustahil.

Advertisement

Ku berlari menuju tempat yang pernah kubaca sebagai rumah sang ratu. Begitu banyak orang terlihat bebas memasukinya, dan aku pun mencoba menutup rasa bahagiaku dengan menarik nafas berkali-kali. Aku bukanlah selebritis di tempatku, namun sekarang di tempat yang kurasa asing justru membiarkanku menginjakkan kaki di atas tangga marmer berbalut karpet merah. Aku hanya bisa tersenyum dan merasa begitu paling beruntung, aku seperti di dunia dongeng layaknya Cinderella.

Kupandangani tembok-tembok bercat putih dengan ukiran emas tepat di langit-langit istana seolah menarikku dalam dunia kerajaan di mana aku mungkin hanya pelayan biasa. Tak lama aku pun tersadar bahwa istana ini terlalu besar untuk kukelilingi, sedangkan Britania begitu luas. Aku kelelahan berjalan dan aku terhenti. Seseorang melihatku seolah mengisyaratkan sesuatu. Tangannya seolah memberi isyarat agar aku terbangun dari dudukku. Kudengar suara langkah yang begitu kencang dan seketika membuatku berdiri dan ke tepi. Hampir saja aku dilindas pasukan berkuda di “Horse Guards Parade”. Sangat menantang dan aku kembali menikmati suasana yang terasa masih pagi.

Beberapa orang terlihat asyik menikmati roast meats dan sebenarnya aku pun tergiur, rasa lapar pelan-pelan membuatku menelan ludah namun kuputuskan kembali melangkah. Mata ini kembali dibuat begitu kagum akan karunia Tuhan, rasa lapar ini pun seolah terobati saat hanya memandangi Gereja Westminster Abbey yang adalah tempat dilangsungkannya Royal Wedding Pangeran William dan Kate Middleton. Puji kepada Tuhan beribu kali kupanjatkan. Tanganku sibuk memeriksa rok biru yang kukenakan untuk mencari ponsel, namun tak kudapati apa pun.

Advertisement

Aku begitu seperti tersesat, namun untunglah aku tersesat di tempat layaknya surga. Aku hadir dengan baju kaos pink polos dan rambut terurai. Keinginanku untuk ber-selfie­ pun gagal kupenuhi, namun tetap kuhaturkan syukur sebab aku sangat bahagia. Cukup lama aku duduk di kursi panjang tepat di depan gereja, hanya bersandar. Saat mataku disilaukan oleh matahari yang ternyata tepat di atasku, aku pun baru tersadar untuk melanjutkan perjalanan.

Aku hanya berjalan, melewati pedagang yang menjual baju, buku, beragam barang seni, dan tempat yang menawarkan aneka kuliner. Tempat terakhir yang kulewati berhasil membuatku berbalik walau hanya sekadar melihat lezatnya fish and chips dengan ‘saus tar-tar’ yang disajikan pelayan restoran, aku hanya mampu menelan ludah atas cantik dan lembutnya muffin yang pelayan restoran lainnya sajikan. Kucoba menasehati perut dengan beragam cara agar dia kembali terdiam dari lapar. Saat rasa kantukku mulai muncul, kembali kuperhatikan bangunan disebelahku yang terlihat kuno namun antik, pesonanya membuatku haus dan berniat memasukinya.

Perjalananku benar-benar terasa mengasyikkan dan amat menantang, syukurlah tiket masuknya gratis dan aku pun bisa melanjutkan menikmati indahnya surga dunia, membiarkan mata ini memenuhi rasa lapar perutku. “National Maritime Museum” adalah bangunan yang kembali menjejaliku dengan banyak pertanyaan. Otakku pun terasa sesak menimbum pertanyaan yang tidak logis namun mata ini tetap hadir terpisah dan puas dengan emas yang melapisi kapal tongkang yang ada dalam museum. Banyak miniatur kapal yang menjadi lambang kejayaan Inggris pada masa lampau pun dengan bebas kulirik. Begitu memuaskan mata namun waktu, kembali menyadarkanku harus menyudahi diri berada di museum dan membiarkan kaki melangkah menghantarku ke tempat selanjutnya.

Sebuah taman memberhentikan langkah ini, sebuah tempat dimana sangat kusadari sebagai basis koordinasi untuk perhitungan Greenwich Mean Time (GMT), garis yang bukan hanya garis; garis yang sejatinya adalah tonggak dan inilah yang membelah bumi menjadi bujur barat dan bujur timur. Perasaan ini menyudahi perjalanan dan hanya duduk diam tepat di atas garis yang membelah bumi ini begitu sulit kusingkirkan. Logikaku seketika mengambil jalur hatiku merasa, mereka berdebat dan kali ini mata ataupun kakiku terhenti. Perasaan ingin menunggu akhir malam di taman “Royal Obseratory” begitu kuat mengalahkan logikaku yang begitu ingin melanjutkan perjalanan dan menikmati kebetulan indah dari Tuhan di Britania Raya.

Langkahku pun mengambil alih, menyudahi diam dan mengalahkan hati yang begitu berperan. Kesan klasik sebuah bangunan membuat tangan ini memegang gerbang untuk menghentikan langkahku. Mata ini kembali mudah dibuatnya terpana pada lukisan-lukisan raksasa yang memenuhi seluruh dinding. Begitu cantik dan megah. Suatu kebanggaan sekaligus keberuntungan yang teramat sangat hadir memenuhi logikaku. Aku terhimpit dan hadir dalam sebuah ruang yang membutuhkan waktu sekitar 19 tahun untuk menghasilkan seluruh karya seni yang begitu memancing tangisku. Aku begitu bahagia sampai salah memasang ekspresi.

Tempat yang dulunya adalah untuk menjamu para pelaut inggris ini menarik senyum. Banyak sosok yang digambarkan dalam lukisan yang terpajang, begitu memikat. Banyak hal yang kulihat, namun bibir ini enggan berkata, enggan memberitahu telingaku tentang kebesaran Tuhan, tentang keagungan kerajaan Inggris, tentang keapikan lukisan yang bahkan usianya tidak muda lagi. Jiwaku seketika tertarik ke dalam, seolah waktuku telah usai, dan nafasku pun terasa berat. Aku hanya mampu terduduk di kursi, langkahku pun ikut terasa berat. Kulihat lilin dalam ruangan itu hidup dan menyala. Kembali kupandangi lukisan dan dalam akhir perjalananku, aku hanya mampu tersenyum dalam kebahagiaan di mana aku diberikan kesempatan berada di hamparan kemakmuran yang dimiliki Britania Raya. Tempat yang begitu mempesona dan perjalanan atas secuil kehidupanku sungguh membiarkanku berada dalam surga yang dihadirkan di bumi. Telingaku sudah mengambil perannya, aku tak lagi bisa mendengar sibuknya pemandu tur menjelaskan tentang lukisan-lukisan kepada pengunjung lainnya. Mata ini tak pula mampu melihat kobaran cantik dari lilin yang memenuhi ruang, dan aku merasa hampa.

Kringggggggg,, aku terbangun. Sesak dan aku terduduk. Kulihat cermin tepat di depanku. Aku hanya bersyukur sebab diberikan kesempatan untuk kembali hidup. kuperhatikan tanganku yang masih memegang telepon pintar dan aku masih mengenakan piyama. Logikaku seolah menolak semua yang terjadi. Menolak tidak lagi berada di surganya dunia, menolak tersesat dan sangat berharap untuk kembali menikmati indahnya Britania Raya. Jiwaku terasa lelah saat mengetahui ternyata secuil kehidupan tentang Britania Raya hanyalah mimpi. Hanyalah bunga tidur yang hadir akibat perbuatanku semalam, membiarkan mata dan logikaku mengusik media sosial untuk menemukan pesona Britania Raya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya