Puisi terkenal milik Safardi yang sudah tidak asing ini begitu mashur di sebagian kita. Ia memiliki makna yang dalam dan meyentuh. Puisi yang terdiri dari enam bait itu sudah dimusikalisasi oleh Ari Reda, videonya bisa anda nikmati di youtube. Berikut puisinya.


Mencintai angin harus menjadi siut Mencintai air harus menjadi ricik Mencintai gunung harus menjadi terjal Mencintai api harus menjadi jilat Mencintai cakrawala harus menebas jarak Mencintaimu harus menjelma aku


Advertisement

Saya bukan mufassir yang baik dalam menginterprestasikan sesuatu. Tapi apa salahnya untuk menafsiri sebuah sajak. Begini kira-kira.

Makna yang syarat bisa ditemukan disana. Seseorang yang mencintai kekasihnya harus ‘menyamar’, ‘berupaya’ dan ‘beradaptasi’ menjadi sesuatu yang melekat pada seseorang yang dicinta.


  • Tafsir pertama

Advertisement

Mencintai angin harus menjadi siut. Kau bawa aku bernyanyi bersama nyaring siulanmu, menyatu dalam kerinduan, menari bersama kunang-kunang di kegelapan malam.

Mencintai air harus menjadi ricik. Adalah ricik suara derauan seperti bunyi guruh dibawah angin. Tak usah pedulikan bunyi guruh yang menyambar, aku akan meraihmu. Kau kan terus mengalir bersama jeram keheningan. Dimana kau menetes, aku selalu menyertaimu, kau kekasihku, air.

Mencintai gunung harus menjadi terjal. Ah, gunung mana sih yang tak terjal. Lagi-lagi aku harus mengejarmu, menjadi-mu, bergabung dengan sebagian-mu. Menjadi apa yang kau suka, kau cinta. Ya, kau kekasihku, gunung .

Mencintai api harus harus menjadi jilat. Hei api, dimanapun kau menyala, mengenai sesuatu, kau selalu merembet, menyatu dengan sesuatu yang lain, kemudian membakarnya. Menyatu dalam kehangusan. Jika harus begitu, dengan sekuat hati, kan kujalarkan api-api keabadian, ke dalam rasa.

Mencintai cakrawala harus menebas jarak. Dimanapun kau berada wahai kasih. Aku akan menempuhmu, walau jarak ini membungkam gerak langkah-langkah bisu.

Mencintaimumu harus menjelma aku. Ya, aku. Aku adalah aku. Mencintaimu membuatku berpikir bahwa aku harus menjadi aku. Aku harus menampakan dihadapanmu kenyataan diri, bahwa inilah aku adanya.

Cinta memang butuh pengorbanan. Seseorang yang mencintai kekasihnya harus rela berkorban. Ya, itulah hebatnya suatu perasaan, ia bisa mempengaruhi sang pecinta, membuatnya tersebut hadir di dalam hati, didzikirkan di sela-sela bibir dan mengalir ke dalam sanubari di ufuk hati.


  • Tafsir kedua

Berapa kali kata hatiku bilang, jangan mencinta. Jika dilakukan, maka harus meng-harus. Harus ini dan itu. Kurindukan masa-masa itu, bernyanyi bersamamu, menyandungkan lagu-lagu syahdu. Menyatu diantara dzat dan sifat.

Haruskah aku mengalir, merasuk ke dalam celah-celah rongga hidupmu? Turun dari lembah yang tinggi adalah hal yang harus kulakukan, meski gemericik suara semakin menampakan eksistensinya.

Betapa curamnya jalur ini, jalur untuk meraihmu. Dengan rela kukerahkan tenaga kepada tangan yang selalu erat menggenggam batuan sepanjang jalanan yang terjal ini. Ya, bukankah sudah kukatakan sejak awal? Jangan sekali-kali datang. Inilah konsistensinya.

Mungkin belum sadar, kau betul-betul harus melebur bersamanya. Menjadi-nya. Ya begitulah nasibmu. Tapi ingat, kau harus tetap menjadi dirimu, ya, dirimu.


  • Makna kata

Siut: Tiruan bunyi peluit

Ricik: Derau

Terjal: Curam hampir tegak lurus

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya