Demi waktu yang terus membawamu kian jauh, saya tak pernah beranjak sejengkalpun untuk melangkah.

Kau tahu dalam penulisan ini hati saya masih berdarah, lukanya belum sembuh, bahkan makin parah. Telah saya lalui malam-malam penuh penyesalan. Duduk seorang diri merutuki takdir atas keputusanku malam itu untuk mengakhiri hubungan. Pikiran saya penuh dengan amarah, kecewa berbanding lurus dengan setiap sakit yang digoreskan. Sampai akhirnya kata putus saya lontarkan, tanpa hati dan pertimbangan.


Tahukah kau di sela-sela kesedihan yang kian membuat mata merah, ada sepotong hati yang berharap agar waktu dapat diulang? Berbalut darah, potongan hati itu berteriak lirih pada semesta bahwa dia terluka parah.


Saya bahkan sempat tak menyadari bahwa saat ini saya tak punya hati yang utuh. Setengahnya melekat pada setiap langkah yang kau jalani.

Banyak orang bilang bahwa cara move on paling mudah adalah mencari sosok baru untuk jadi pengganti pujaan hati. Saya kira tak sesederhana itu. Bagaimana bisa kau melangkah maju, mencintai orang yang baru, tapi hatimu masih terikat erat pada orang lama? Bagaimana bisa kau mencintai orang baru nanti ketika dirimu sendiri saja tak kau cintai? Apa kau akan setega itu berdampingan dengan orang baru yang hanya setengah hati?

Advertisement

Ini bukan perihal perihal sosok baru yang mampu mengalihkan dari setiap peratapan. Jauh dari itu, ada sosok yang perlu kau perhatikan tanpa henti dibanding orang lain, yaitu dirimu sendiri.


Saya telah salah paham menerjemahkan keadaan. Telah salah langkah dalam mengartikan cinta dicintai mencintai.


Saya pernah berjuang mati-matian agar kau tetap menetap. Menjadi sebaik-baiknya rumah untukmu pulang.

Saya tak pernah ingin perhitungan. Jika itu saya lakukan, cinta tak lagi tulus dan hanya akan berujung pada tuntutan-tuntutan ketika keadaan tak berpihak pada setiap harapan yang seharusnya kau berikan.

Sekian kali kau pulang pergi. Sekian kali itu pula pintunya selalu terbuka menyambutmu hangat. Senyum penuh menyenangkan, pelukan erat yang menenangkan, hingga kecupan pada keningmu selalu kuberikan sebagai bukti aku mencintaimu dengan sungguh, sebagai rumah yang bagaimanapun keadaannya akan selalu menjadi pelindung pertama dari ancaman di luar sana.

Kau bebas melakukan apa saja, berlari kesana kemari mesti kau buat berantakan tak apa asal pada akhirnya kau juga yang merapikan. Aku tak bisa memperbaiki diriku sendiri, selalu ada sosok lain yang aku butuhkan, sosok yang bisa merawatku dengan baik. Saling menjaga. Saling merindukan pula saat tak bersama.


Pintunya tak akan pernah terkunci, ia akan selalu terbuka jika sosokmulah yang berdiri di depannya.


Saya kesepian, tak ada sosokmu yang kini menggenapkan. Kapan kau akan pulang?

Sepi mulai datang tak tahu diri. Ia menyapa bagai teman lama yang baru kembali berjumpa. Saya larut dalam cerita yang ia bawa. Pada akhirnya saya digiring pada sebuah kenyamanan yang tak biasa. Apa kau tahu bahwa sepi itu candu? Ketika kau mampu mengakrabi segala sepi, disitulah kau akan menjadi pecandu. Loneliness is addicted. Biar saya beritahu, kesepian itu berbahaya.

Sesekali saya mencoba meraih permukaan ketika sosokmu hadir dalam ingatan. Sepi tak pernah saya bayangkan sedalam ini. Bahkan ratusan kali jumlah palung terdalam di dunia pun tak akan pernah sanggup menandinginya. Kau tak mati di dalamnya, itulah kenapa banyak orang yang lebih memilih mengakhiri hidupnya. Tak ada yang lebih kosong dari hampa. Kau tak akan merasakan apa-apa.

Pernahkah kau mencari saya di sela-sela istirahat perjalanan? Menoleh sejenak ke belakang, melihat ke masa dimana kita sering tertawa bersama. Jika kau lakukan dan melihatku tetap berada di sana, apa kau akan membantu untuk setidaknya beranjak dari semua kepahitan ilusi yang saya ciptakan sendiri bahwa saya tengah berbahagia? Mau kah?


Seseorang yang kesepian karena cinta hanya akan dikelilingi ilusi yang ia ciptakan sendiri bahwa ia tengah bahagia. Dan sesekali ia akan menangis tersedu ketika kenyataan menyapanya.


Saya menyambut takdir Tuhan, ketika keadaan tak mampu lagi menopang saya untuk bertahan.

Uluran tangannya begitu dekat ketika maut tak lebih jauh dari kulit dan nadi. Saya bukan hamba yang taat dan kerap kali alpa dalam berbuat. Karenamu saya harus merasa sangat berdosa dihadapan-Nya karena memutuskan untuk mengakhiri semua, hingga kesempatan hidup yang telah Ia anugrahkan hampir saya sia-siakan.

Ditinggalkan olehmu membuat hidup saya berantakan, hingga saya lupa menghadirkan Tuhan dalam waktu-waktu yang saya lewati sendirian. Bersama Tuhan di dalamnya. Pecahan terkecil sekalipun mampu Ia rekatkan untuk kembali utuh bagai insan yang baru dilahirkan. Puji Tuhan, sebaik-baiknya penolong dan tak akan pernah ada tandingan.

Tapi Tuhan tak mau terburu-buru menyembuhkan. Saya kira Ia mencoba mengajari saya tentang sebuah ikhtiar dan sabar. Tentang sebuah keilkhlasan dan perjuangan. Memperkenalkan hubungan unik antara yang dicipta dan Pencipta.

Luka yang kau goreskan perlahan mampu saya redakan rasa sakitnya. Sebagai bekasnya, kuyakinkan diri ini bukti saya pernah mencintai seseorang dengan sungguh, dengan ini pula saya pernah dilukai tanpa permisi”.

Terimakasih atas segala pelajaran. Berkatmu saya lebih bisa menghargai hidup. Berkatmu pula saya sadar bahwa ada Tuhan yang harus saya cintai dengan sungguh sebagaimana Ia mencintai saya dengan segala kesalahan yang ada. Fokus saya sekarang berbeda. Biar kembali saya tekankan dalam diri, “Tuhan dulu, baru kamu".

Dengan segala Maha-Nya yang mampu membolak-balikan hati manusia dan mengatur takdir yang akan terjadi, akan saya bawa Tuhan di kemudian hari untuk mendapatkanmu kembali. Darah yang sempat hampir habis, luka dalam yang pernah kau buat hingga hati terkoyak tak berbentuk lagi, cinta ini tak lantas mati. Karena setia adalah kata kerja yang tak bisa dilakukan seorang diri agar bahagia, denganmu saya harap bisa melakukannya berdua.

Dari saya, sosok yang pernah kau sakiti ini tengah bersama Tuhan menyusun takdir kepulanganmu. Jika Tuhan menyetujui, sosok yang mungkin tengah kau cintai sekarang tak akan ada apa-apanya.