[CERPEN] Berharap Cemas dalam Keterlambatan

Keterlambatan yang sedikit meresahkan ini membuat menunggu menjadi tidak menyenangkan.

Senin pagi ketika menuju ke kantor, aku sudah disuguhkan pemandangan matahari yang mentereng. Posisinya tepat di atas kepala dan membuatku terkejut bahwa tidak nampak sebuah bayangan di sisiku. Aku berjalan di sisi trotoar menunggu ojek online datang menghampiri karena aku baru saja memesannya. Aku berharap sepanjang perjalanan akan disuguhkan dengan semilir angin yang menghempas rasa gerahku. Aku membayangkan bahwa angin berhasil membuat keringat di dahiku kembali masuk kedalam pori–pori.

Advertisement

“Mbak Nata … Mbak Nata ya? Ke gedung Graha ya?” Teriak ojek online yang mendekat dari arah belakangku. Abang ojek online menggunakan motor nampak usang dengan jaket hijau dan helm hitam mengkilap.

Dia pasti tahu bahwa aku adalah Nata. Aku berpesan kepadanya, aku menunggu di dekat trotoar dengan baju putih tulang menggunakan masker. Aku sesekali mengecek plat nomer dan foto bapak ojek online di handphone yang sedang ku genggam.

“Iya, Pak Usman kan ya?” Aku tanya lagi untuk memastikan bahwa aku tidak salah naik ojek online.

Advertisement

“Betul Mbak, ini helmnya,”

Pak Usman menyodorkan helm yang berbeda dengan yang ia pakai. Jika helm pak Usman terlihat mengkilap maka berbeda dengan helm untuk penumpang, sedikit kusam dengan kaca yang kendur dan sulit untuk dinaikkan ke atas.

Advertisement

“Ah … yasudahlah, ada bagusnya juga. Aku jadi tidak terkena sinar matahari langsung,” Aku berbicara pada diriku sendiri.

Aku mengenakan helm dan naik ke motor usang itu.

“Pak, tahan ya,” Aku memegang bahu kiri pak Usman dengan tangan kiri dan berusaha naik motornya.

Sepanjang perjalanan angin berhembus sangat kencang, namun aku tetap merasakan udara yang panas. Mungkin ini karena matahari yang tepat di atas kepala. Sesekali, aku memberikan arahan jalan yang cepat dilewati guna menghindari macet. Aku memilih jalan yang biasa aku lewati. Tidak membutuhkan waktu lama, aku tiba di kantor.

“Ini Pak helmnya, terimakasih ya,” Aku turun dari motor dan memberikan helmnya kepada Pak Usman.

“Sama-sama, Mbak,”

Aku berbalik arah dan masuk kedalam gedung. Pintu gedung otomatis terbuka ketika aku datang. Angin dari AC mulai terasa dan menyelinap masuk ke sela-sela pakaian. Angin yang dingin membuat keringat seakan di tarik kembali kedalam kulit.

“Ahh … akhirnya dapat udara yang benar-benar adem,” Aku berbicara dalam hati dengan mata sedikit tertutup sekan sedang menikmati udara pegunungan padahal hanya ruangan yang ber-AC.

Aku berdiri di depan lift untuk menuju lantai 23. Setelah satu menit aku menunggu, salah satu lift di antara empat lift akhirnya terbuka. Aku masuk dan menekan tombol 23. Aku berkaca menggunakan pintu lift yang sudah tertutup dan merapikan bagian bawah rambutku yang nampak berantakan karena angin selama di ojek tadi. Aku berusaha menyisirnya menggunakan jari tanganku.

“Lantai 23, 23rd floor,” Suara mesin lift berbicara menandakan aku harus menyudahi bercermin dan segera keluar.

Aku keluar dan jalan ke arah kanan lift untuk sampai di kantorku. Aku segera ke mejaku karena pagi ini ada jadwal meeting dengan pak bos.

“Mba Nata, sudah ditunggu pak bos diruangan tuh,” Amel tiba – tiba menghampiriku di meja dengan membawa berkas-berkas dipelukannya.

“Ya ampun, aku sudah ditunggu. Yasudah aku segera kesana. Kamu duluan ya,”

Aku mendadak mencari gincu dan cermin yang ku sempatkan untuk dioleskan ke bibir.

“Ah sudahlah, yang penting lipstikan saja, biar nggak pucet,”

Aku meletakkan kaca dan lipstik di sembarang tempat. Aku berdiri menurunkan rokku menggunakan tangan karena nampak sedikit naik setelah diantar ojek online tadi. Aku berganti sandal jepit ke sepatu yang terletak di bawah kolong mejaku dan berjalan cepat ke ruang meeting.

*****

Tiga jam berlalu, akhirnya aku keluar dari ruangan yang membuatku mengantuk. Duduk di deretan paling belakang, mendengarkan orang berbicara dan mencatat semua poin penting adalah hal yang membosankan bagi seorang sekretaris. Tanpa sadar, meeting tadi ternyata melewati batas jam makan siang. Cacing di perut seakan sudah berteriak dan menggerutu hingga tanpa sadar aku sesekali memegang perutku karena perih. Ketika aku melihat jam di dinding, ternyata ini sudah jam 13.30.

“HAHHH … SUDAH JAM SEGINI … MEETING MACAM APA INI …” aku menggerutu kesal dan tidak menyadari bahwa alisku sedikit naik. Aku melihat penampakkan wajah kesalku di cermin bekas tadi pagi di mejaku yang masih kokoh karena sanggahan di bekakangnya.

“Nata … sudah makan? Makan yuk, aku baru selesai membuat laporan, jadi belum sempat makan,” Amel datang menghampiriku dengan dompet berbentuk sapi yang ada di tangannya.

“NAH … KEBETULAN! aku juga belom makan. Eh, tapi aku juga belom solat. Kamu sudah ya?”

“Aku lagi dapet, nggak solat jadinya,”

“Lah … kok kamu sudah dapet? Biasanya aku dulu baru kamu kan?”

“Oh, masa iya? Aku nggak memperhatikan sih, Nat. Yauda, jadinya kamu mau makan apa solat dulu?”

“Yauda deh. Yuk, makan dulu,”

Aku berusaha mengingat tentang kapan terakhir kali aku menstruasi, kapan tepatnya aku menstruasi. Aku membuka handphone-ku dan mengecek kalender. Aku baru sadar, ternyata aku sudah telat seminggu. Tapi, kenapa?

“Nat, kenapa sih? Makan apa kita?” Amel menanyakan menu yang akan di makan ketika kami sudah sampai di kantin belakang.

“Aku ikut kamu aja deh,”

“Yauda, nasi manado ya,”

Aku tidak menjawab iya dan juga tidak menjawab tidak. Aku hanya berjalan mengikuti Amel ketempat nasi manado seperti anak yang tidak ingin jauh dari ibunya. Pikiranku tidak fokus, aku terus memikirkan keterlambatan menstruasi itu.

*****

“Akhirnya, setelah kerja seharian, aku bisa rebahan dan bermanin handphone sepuasanya,” Aku berbicara pada diriku sendiri yang berbaring di tempat tidur namun belum berganti pakaian.

Hidup di kota besar dan tinggal sendiri adalah anugrah bagiku. Setelah bekerja keras, pulang dan sendiri di ruangan sepetak adalah me time. Sendirian, tidak berisik, dan tidak ada yang mengganggu. Aku juga bisa menghias dan menata ruangan satu-satunya menjadi seperti yang aku inginkan.

Aku menggenggam handphone dan membuka kuncinya dengan jempol besarku yang ku scan di tombol utama.

“Tring …” Notifikasi pesan masuk.

Aku mendapat pesan dari pria yang saat ini sedang dekat denganku. Dia adalah Adam. Sama seperti pria pada umumnya, mereka datang untuk menggoda atau sekedar basa-basi menanyakan sedang apa dan bagaimana kabarnya. Aku pun menjawab seadanya.

Satu jam berlalu aku chatting dengan Adam, aku lupa diri bahwa aku belum mandi. Sebelum mengakhiri chat dengan Adam, aku merasa celanaku basah.

“Sepertinya aku menstruasi,” Aku berbicara pada diriku sendiri.

Aku bergegas ke kamar mandi dan meletakkan handphone-ku. Aku bersemangat membuka celana. Ternyata aku salah, aku hanya keputihan.

*** Satu minggu berlalu ***

Minggu malas, seperti biasa, aku hanya tiduran di kamar. Aku menolak malam mingguan semalam karena aku merasa sedang bad mood. Sudah dua hari ini, dahiku tumbuh jerawat besar-besar. Tanganku selalu gatal, maka aku pencet jerawat itu hingga cairan putih keluar. Kemudian, setelahnya aku menyesal. Dahiku jadi hitam karena jerawat meninggalkan bekas.

“Biasanya, kalau habis jerawatan, tandanya aku mau menstruasi. Mungkin sebentar lagi,” Aku berharap.

Sesekali aku ngaca menggunakan layar hitam di handphone-ku untuk memastikan bahwa tidak ada lagi jerawat yang tersisa.

Aku lantas membuka instagram dengan wajah kusam karena belum beranjak dari tempat tidur. Sebelum kunci dibuka, layar handphone yang hitam membuatku bisa berkaca bahwa mukaku kusut karena belum cuci muka. Nampak garis-garis di pipi seperti bekas lipatan guling di wajah. Aku melanjutkan posisi menyamping dan memeluk guling. Aku buka kunci handphone menekan icon instagram. Seperti wanita pada umumnya, aku mulai terus scroll kebawah. Jari nakalku membawaku ke postingan instagram dari akun majalah dewasa. Aku scroll hingga kebawah. Mataku yang semula mengantuk mendadak membelalak melihat postingan-postingan minim busana. Pria dan wanita ada. Semua memamerkan kulit licinnya dengan kain yang hanya sehelai.

Aku memperhatikan selama tiga puluh menit dan tidak berpindah ke akun lain. Aku merasa celanku basah lagi.

“Ah … jangan-jangan seperti kemarin. Bukan menstruasi melainkan hanya cairan putih,” Aku meyakinkan diriku dan tetap memeluk guling dengan posisi yang sama.

Sepuluh menit berlalu, aku merasa cairan yang keluar semakin deras seperti tidak berhenti. Jika keputihan, maka rasanya tidak akan sederas ini. Aku menyikap selimut, aku duduk. Aku tengok celanaku menunduk.

“Tapi kok tidak ada warna merah di celana?” Aku bingung.

Aku sentuh bagian celana belakangku, rasanya basah tapi tidak meninggalkan kemerahan.

“Mungkin celanaku terlalu tebal sehingga sulit ditembus,”

Aku berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Aku berjalan dengan langkah lebih besar karena tidak nyaman dengan celana basah ini. Aku bergegas masuk kamar mandi. Aku buru-buru menutup pintunya kemudian membuka celana.

“Ah … kenapa masih belum dapet juga. Cairan putih lagi,” — Aku duduk di toilet dan mulai berfikir. — “Apakah ini tanda buruk atau bukan?”

***Rabu pagi di jam makan siang***

“Nat udah solat? Solat yuk?”

Amel menghampiriku dari belakang dengan membawa mukena pink dan menggunakan sandal jepit bercorak bunga ungu.

“Kamu sudah selesai dapetnya?”

“Sudahlah, sudah lama juga, sudah bersih, ayo solat nggak?”

“Duluan deh, nanti aku menyusul,”

Aku sudah tertinggal jauh sejak tanggal menstruasiku dibalap. Sampai detik ini, aku masih belum juga menstruasi. Sesekali aku melihat dan memegang perutku untuk meyakinkan diri.

“Ahh … masa iya? sama Adam? sepertinya terlihat aman waktu itu,”

***Minggu Pagi***

“Tring …” Notifikasiku berbunyi di jam 9 pagi.

Dengan mata sedikit terbuka, aku membaca notifikasi itu. Pesan dari Adam rupanya. Aku memutuskan untuk tidak membalas.

“Kring … kring …” Suara handphone berdering tak berhenti karena Adam terus menelpon.

Aku mengangkat handphone yang terbalik di atas kasur dan berusaha membuka mata melihat layar.

“Adam calling” begitu tulisannya.

Aku menekan tombol hijau dengan setengah hati karena tak kuasa mendengar dering handphone.

“Ya, Dam?”

“Nat sudah beberapa minggu kamu nggak balas pesanku, kenapa? Aku ngajak kamu jalan nggak pernah dibalas,”

“Lagi pengen dirumah Dam, maaf ya,”

“Kamu sakit?”

“Enggak, Dam,”

“Cerita dong Nat kalau ada apa – apa. Aku kerumah kamu ya hari ini?”

“Nggak perlu Dam, ngapain sih?!”

“Loh … kenapa?”

“Yasudah, terserah deh Dam,” Aku mematikan panggilan itu dan kembali tidur.

Namun setelah panggilan itu, tidurku seperti tidur ayam. Tidak nyenyak, tidak enak dan mulai berpikir macam – macam.

“Apa sebaiknya aku ceritakan ke Adam? Masa iya?” Aku telentang menatap langit-langit kamar dan menunggu datang bulan itu segara datang. Aku berharap ada sesuatu yang rembes di celanaku sekarang juga.

“Mungkin hanya telat, barangkali. Ah sudahlah, aku mandi saja,”

Aku beranjak dari tempat tidur dan mengambil handuk di balkon. Mataku silau ketika disapa matahari. Aku menyipitkan mata dan menarik cepat handuk. Aku tarik gorden kesamping untuk mencegah sinar matahari masuk dan segera ke kamar mandi. Aku tutup pintu kamar mandi dan tidak menguncinya. Aku sangkutkan handuk di paku yang menancap di dinding. Aku mulai melepaskan pakaianku. Terakhir, aku membuka celanaku. Aku terpejam membuka mataku perlahan berharap ada percikan berwarna merah yang sudah lama aku nantikan.

Ternyata aku salah lagi, hanya ada warna celana merah muda dan bersih. Tidak ada percikan merah ataupun cairan putih. Mandi kali ini tidak seperti biasanya, aku tidak bersemangat. Aku merasa kecewa dan sedikit ketakutan.

“Tok … tok … Nat, kamu didalam? Ini aku Adam. Buka pintunya Nat,”

Ketika sedang membilas, aku mendengar suara Adam mengetuk pintu. Aku guyur seluruh badanku seadanya. Aku gunakan handuk yang menyerupai baju itu dengan cepat, aku ikat talinya kedepan. Aku beranjak dari kamar mandi ke pintu depan. Aku buka sedikit pintunya dan melongok keluar.

“Masuk Dam, aku baru mandi,”

“Kamu dari tadi aku telepon baru mandi? Jorok ya kamu,”

“Duduk deh, Dam. Aku pakai baju dulu,”

Aku memutuskan mengganti baju dengan cepat, hanya menggunakan kaos dan celana legging. Aku tidak terbiasa ditunggu oleh orang lain. Rambut basahku membuat kaos abu-abu terlihat hitam karena tetesan air. Aku menghampiri Adam dan duduk disebelahnya.

“Ngapin kamu, Dam?”

“Aku mau ngecek kamu aja, sudah dua minggu nggak mau di ajak keluar, kenapa?”

Setiap pertanyaan keluar dari mulut Adam, Adam selalu menatapku. Aku menatapnya sesekali kemudian berpikir dan menunduk untuk memutuskan apakah sebaiknya aku cerita atau tidak terkait kekhawatiran yang sedang ku hadapi saat ini.

“Nggak, Dam,”

Adam memegang bahu kanan ku dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menepuk kecil pahaku.

“Nat, cerita deh. Kamu nggak biasanya tertutup,”

Aku menghela nafas dalam – dalam.

“Aku telat datang bulan, Dam. Sudah mau sebulan tapi belum juga. Sudah pernah keputihan dan jerawatan tapi tidak juga datang bulan. Ini sudah mau satu bulan lebih semenjak kamu terakhir kali datang dan berkunjung kesini,”

“Masa iya? Nggak percaya aku nat. Kamu liat kan aku aman? Mana mungkin? Coba saja ditunggu lagi lebih lama, barangkali hanya telat, Nat,”

“Ya, mungkin. Aku juga berpikir demikian. Mungkin sebentar lagi,”

Siang itu kami berbincang-bincang dan menonton film di ruangan sepetak, tempat tinggalku. Waktu berlalu dengan cepat sampai kami tak sadar bahwa hari sudah sore. Setidaknya sudah hampir lima jam kami berbincang. Langit mulai gelap. Ini hari minggu, kebiasaanku di hari minggu adalah tidak tidur terlalu larut.

“Dam, mau pulang jam berapa? Besokkan kerja,”

“Jam 7, mungkin. Kamu nggak mau sesuatu Nat?”

“Apa? Sesuatu apa maksudnya? — Aku yakin yang ditawarkan oleh Adam adalah bersenggama. — “Kamu kan tahu, aku belum datang bulan loh,”

“Ya, mungkin saja telat. Justru karena belum datang bulan. Kenapa nggak di nikmati?”

Adam menatapku lebih dekat. Bibirnya berusaha menyentuh bibirku. Aku terlena, tidak bilang iya namun tidak juga menolak. Aku merasakan tangan kanannya mulai menyentuh leggingku.

Adam menyudahi ciuman itu dan menatapku dengan aneh.

“Nat, kok basah?”

Aku dan Adam spontan melihat kebawah celana bersamaan. Kami melihat bercak merah disana.

“DAM … AKU DATANG BULAN DAM … AKU MENSTRUASI … AKHIRNYA DAM …”

Tanpa sadar, aku memeluk Adam kegirangan malam itu.

“Yah … gagal deh …” Adam menghela nafas sedikit kecewa.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE