Seberapa jauh melangkah, rumah dan keluarga adalah tempat ternyaman untuk kembali. Ada pepatah mengatakan “Merantaulah, maka kau akan tau arti rumah”. Satu hal penting yang aku dapatkan dari merantau adalah menyadari betapa pentingnya keluarga. Keluarga yang akan selalu menerima kekurangan maupun kelebihan kita dan tetap ada untuk mendukung dan menuntun saat luput dari kesalahan. Salah satunya Ibu, sosok malaikat tanpa sayap yang mencintai buah hatinya tanpa syarat.

Semakin dewasa dan memutuskan untuk merantau membuatku semakin menyadari dari masa ke masa, semakin sedikit waktu yang kupunya bersama ibu dan bapak. Dan semakin bertambah usia, maka semakin menua pula kedua orang tua. Aku rindu masa kecilku. Rindu menghabiskan waktu bersama ibu, melakukan hal sederhana seperti hal nya memasak, menonton maupun membersihkan rumah. Bahagia itu simple, asalkan bersama ibu.

Advertisement

Ketika merantau, aku paham ada hal yang memang harus dikorbankan agar menjadi pribadi yang mengalami kemajuan. Salah satunya intensitas waktu bersama keluarga pun berkurang. Harusnya aku rutin berkabar, namun seringkali mengabaikan. Aku menikmati dunia perantauanku. Aku asyik bersama orang orang baru yang hadir di keseharianku. Aku tak sempat bahkan terkadang lupa ntuk sekedar menanyakan “sedang apa bu?” Pertanyaan simple namun mungkin bisa membuat ibu senang.

Semester demi semester membuat agendaku semakin padat, semakin tak ada waktu untuk berpikir mengabari ibu. Aku semakin sibuk dengan urusan akademik dan organisasi. Memberi kabar kadang, pulangpun jarang. Aku terlalu terlena dengan dunia perantauan dan menganggap itu adalah duniaku dan aku bahagia dengan diriku sekarang.

Hingga tiba saat aku kembali ke rumah, secara tersirat ibu mengatakan “kok jarang sms atau telepon pas di sana, agendanya sibuk banget ya”. Aku belum menyadari arti dari perkataan ibu, dan membanggakan diri dengan menceritakan kesibukanku. Tibalah masa memasuki semester akhir, kesibukanku mulai berkurang, hal itu berarti waktuku lebih lama berada tanah kelahiran.

Advertisement

Setiap kali bersantai bersama ibu, ibu selalu menceritakan hal atau kejadian yang aku lewatkan. Rasa kesal, lelah, amarah, maupun permasalahan semua ditumpahkan padaku. Lambat laun aku mulai menyadari jika aku sibuk dengan duniaku, sedangkan aku masih punya ibu, bapak dan keluarga yang seharusnya masuk dalam fokus duniaku. Aku egois.

Beruntung tamparan keras itu menyadarkanku. Aku merasa bersalah, kesal dengan diriku sendiri. Seharusnya aku ada ketika ibu butuh tempat untuk berbagi, seharusnya aku rajin berkabar dengan ibu untuk menuntaskan rasa rindu yang terselip ketika ibu seringkali menanyakan kepulanganku. Mungkin saat ibu menghubungi ku terlebih dahulu, ibu membutuhkanku untuk mendengarkan serba-serbi ceritanya, namun aku mengatakan jika aku sedang rapat, mengerjakan tugas, dan hal egois lainnya yang tak seberapa jika dibandingkan dengan kesibukan ibu mengasuhku sejak kecil hingga kini.

Sejak detik itu aku berjanji pada diriku untuk memprioritaskan dan memberi waktu lebih untuk berkabar dan berbagi kisah dengan ibu, apapun itu. Tentang keseharianku, keluhanku, kisah kasih kuliah, masa depan dan tentang jodoh. Ya, jodoh dan karir adalah topik hangat untuk dibahas menjelang masa dewasa awal. Ya, ibu harus tahu proses tumbuhku. Aku ingin terus berusaha membahagiakan dan membanggakan ibu, bapak dan keluarga. Karena keluarga tempat ternyaman untuk kembali.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya