Pada suatu pagi hari, aku hanya tiduran di kamar, dengan sebuah earphone di kuping dan handphone di tangan, aku melalui hari seperti biasa. Tetapi pada hari ini sedikit berbeda. Hatiku sedikit kacau. Aku telah kalah di final kompetisi bulu tangkis kemarin. Bukan karena kekurangan kemampuan, tetapi karena pasangan bulu tangkisku, Panji teman baikku tidak datang.

Pendukung-pendukung tim kami terlihat kesal. Aku mendengar mereka memaki-maki Panji karena dia tidak datang. Tidak seperti yang lain, aku tidak merasa marah kepadanya, karena aku tahu Panji pasti punya alasan untuk tidak datang.

Advertisement

Dan benar saja, Ibunya Panji jatuh sakit. Semenjak Bapaknya meninggal, Panji menjadi tulang punggung keluarganya. Ini membuat Panji memprioritaskan keluarga diatas apapun. Jadi jelas saja dia kemarin tidak datang. Jujur, aku kesal harus kalah di final kompetisi seperti itu, tetapi aku tidak bisa menyalahkannya, karena itulah sifatnya Panji.

Saat Aku sedang berpkir mengenai kejadian kemarin, suara yang lembut namun tegas terdengar memanggilku secara tiba-tiba.

"Andi, ayo turun"

Advertisement

Itu suara Ibuku memanggilku untuk cepat turun. Hari ini kami berencana untuk menjenguk Ibunya Panji. Bagaimanapun juga, Panji hanyalah seorang murid. Dia tidak mungkin bisa merawat Ibunya sendiri. Oleh karena itu, Aku dan Ibuku memutuskan untuk membantu Panji dalam merawat Ibunya. Aku berharap Ibunya Panji cepat sembuh.

Panji biasanya panik saat keluaganya terkena masalah. Aku tidak bisa menyalahkannya, Dia sudah kehilangan Bapaknya, Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia juga kehilangan Ibunya.

Aku berjalan ke rumah sakit sambil berpikir. Kalau dipikirkan, aku sangat mengetahui Panji. Dari sifatnya, kebiasaannya, makanan favoritnya, hingga apa yang dia takuti. Sejak kapan ya? Sejak kapan Aku menjadi dekat dengan Panji? Dari SMP? Sepertinya tidak mungkin. SD? Itu tidak terasa benar. Saat memikirkan tentang itu, tiba-tiba aku melihat sebuah taman. Taman itu terlihat sangat indah. Penuh dengan kehijauan.

Tempat yang penuh dengan tempat permainan. Dari ayunan sampai perosotan. Lapangan bulu tangkis pun ada. Hah? Lapangan bulu tangkis? Hmm… Sepertinya aku pernah melihat tempat ini. Kapan ya? Aku merasa tempat ini sangat penting untuk diri ku. Hmm, kapan ya aku melihat tempat ini?

“Membuatmu merasa nostalgia ya?” Kata Ibuku tiba-tiba .

“Hah nostalgia?”

“Iya. inikan tempat dimana kamu dan Panji bertemu.”

Aku berhenti sejenak. Oh iya, bagaimana aku bisa lupa? Tempat ini adalah tempat dimana kami berdua bertemu. Ahh, kenangan-kenangan tentang masa itu mengalir di benakku. Kenangan-kenangan tentang saat kami bertemu. Kenangan dimana Aku dan Panji menjadi teman.

10 tahun yang lalu

Aku dulu adalah anak yang sangat pendiam. Bukannya karena sombong ataupun tidak suka berbicara, aku hanya tidak tahu caranya. Di sekolah, Aku sama sekali tidak memiliki teman untuk diajak berbicara sama sekali. Mungkin aku terlihat sombong karena tidak pernah berbicara ataupun karena memang tidak ada yang peduli, tidak ada orang yang pernah mengajakku berkenalan ataupun main bersama.

Aku menghabiskan waktu sendiri saat di sekolah. Aku merasa sangat sedih, karena sebenarnya aku sangat ingin mengobrol, bermain, dan melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan oleh anak-anak seumurku. Waktuku di sekolah terus berjalan seperti itu, sampai suatu hari, aku mendapatkan teman pertamaku.

Hari itu sekolah sedang diliburkan, karena ruangan-ruangan sekolah sedang direnovasi. Karena liburnya mendadak, aku tidak membuat rencana untuk menghabiskan waktu saat itu. Merasa sangat bosan, aku akhirnya memutuskan untuk jalan keluar rumah. Sedikit aku tahu, keputusan itu akan mengubah hidupku. Aku sangat bersyukur dengan keputusanku waktu itu. Jika aku tidak memutuskan untuk pergi, aku tidak tahu akan seperti apa hidupku sekarang.

Aku terus berjalan dan berjalan, hingga akhirnya aku melihat taman itu. Pada saat itu itu aku berpikir bahwa taman itu sangatlah bagus, sayangnya, aku tidak memiliki teman untuk bermain di taman itu. Setelah beberapa lama mengamati taman itu, aku memutuskan untuk terus berjalan. Pada waktu yang sama saat aku memutuskan untuk lanjut berjalan, tiba-tiba ada suara seseorang berteriak dengan suara yang sangat cempreng. Dengan cepat aku langsung menggerakkan kepalaku untuk melihat sumber suaranya.

Yang aku lihat saat menggerakkan kepalaku adalah seorang anak, seumuran denganku dengan orang dewasa. Anak itu sedang tiduran di tanah karena jatuh sambil memegang raket bulu tangkis di tangannya. Pada saat ini, aku belum suka ataupun tahu apa itu bulu tangkis. Jadi, aku sangat bingung apa yang anak itu lakukan. Aku merasa tertarik untuk tahu apa yang anak itu sedang lakukan. Hingga aku tidak jadi pulang karena terus menonton anak itu bermain.

Di sepanjang waktu Aku menonton anak itu, dia terus terjatuh dan terlihat kewalahan oleh servis-servis yang dibuat oleh orang dewasa yang bermain dengannya. Walaupun baju dan celananya dipenuhi oleh tanah, dan keringat yang terus mengalir dari tubuhnya, dia masih terlihat bersemangat untuk bermain. Tawa keluar dari bibirku. Aku tidak bisa menolongnya, melihat anak ini bermain dengan sekuat tenaga walaupun telihat sangat kewalahan. Karena tawaku yang kencang, suaraku pun terdengar anak itu. Bukannya marah melihat usahanya ditertawakan, dia malah juga ikut tertawa. Setelah selesai tertawa, dia pun datang menghampiri diriku.

“Aku Panji, namamu siapa?” Tanya anak itu sambil mengulurkan tangannya

Dengan tersenyum aku mengambil tangannya dan mengatakan

“Namaku Andi.”

Sejak saat itu, Panji dan Aku menjadi teman baik. Dialah teman pertama hidupku. Aku senang sekali. Dia mengajarkanku cara bermain bulu tangkis. Pertama-tama, aku sangat tidak kompeten bermain. Waktu pemukulanku selalu salah, aku tidak berani jatuh, dan lain-lain. Namun, hal-hal ini tidak membuat Panji menyerah mengajarkanku bermain.

Dengan sabar, dia melatihku supaya bisa bermain bulu tangkis. Karena merasa tidak mau membuang-buang waktu temanku ini, aku selalu memberikan seratus persen saat latihan. Sampai sekarang, kami sudah menjadi dua pemain bulu tangkis terbaik disekolah kami.

Sampai-sampai kami dipilih sebagai wakil pemain bulu tangkis di semua kompetisi. Kami memenangkan hampir semua kompetisi, hanya kompetisi terakhir saja kami kalah, dan itu juga bukan karena kemampuan (kalian taulah kenapa). Tidak hanya dalam bulu tangkis, Panji juga mengajari cara menjalankan hidup, seperti cara mencari teman, cara berbicara, dan lain-lain.

Tak hanya itu, dia juga mengenalkanku dengan teman-temannya (ternyata selama ini kami satu sekolahan). Bertemu dengannya telah mengubahku dalam banyak hal. Aku sekarang memiliki banyak teman, lebih percaya diri, dan lebih atletis. Semua dikarenakan pertemuanku dengan Panji.

Setelah selesai berpikir tentang masa lalu, kami sudah sampai di depan rumahnya Panji. Memang benar kata orang, jika benak kita sibuk, waktu akan terasa berjalan dengan sangat cepat. Kami menekan bell rumah Panji untuk memanggilnya. Saat Panji membuka pintu, aku tercengang. Panji terlihat sangat kacau. Matanya memiliki kantung mata yang besar, baju yang kucel, dan rambut yang sangat berantakan.

“Panji, apakah kamu baik-baik saja?” Tanya Ibuku

“I-Iya tante, Aku gapapa kok.” Jawab Panji

“Udah Panji, kamu istirahat saja. Kami akan merawat Ibumu.”

“Enggak apa-apa kok tante. Aku masih kuat.”

Panji mencoba sebaik-baiknya untuk memperlihatkan bahwa dia masih kuat untuk merawat Ibunya. Aku dan Ibuku tersenyum melihat tingkahnya itu. Kami memutuskan untuk membiarkannya untuk membantu. Toh, merawat Ibunya adalah pilihannya Panji.

Saat merawat Ibunya Panji, aku menyadari bahwa Panji terlihat segan untuk melihatku. Dia selalu berpaling saat aku mencoba untuk melihatnya. Panji sangat lucu ya. Dia pasti merasa bersalah karena tidak datang ke pertandingan bulu tangkis kemarin. Sepertinya Aku harus meyakinkannya bahwa aku tidak keberatan dia tidak datang. Jika tidak, Panji sepertinya tidak akan memaafkan dirinya sendiri

“Aku tidak marah kok kamu tidak main kemarin” Kataku

“Tetapi Aku-“

Aku memukul punggungnya (tentu saja secara bermain-main) sebelum di selesai ngomong.

“ Kan Aku sudah bilang tidak apa-apa. Lagipula jika kamu datang, Aku malah akan marah. Masa Ibu sedang sakit kamu malah main bulu tangkis”

Mendengar aku berbicara seperti itu, Panji mulai tersenyum. Dia pun bertingkah seperti biasa lagi. Memang, Panji adalah orang yang aneh, namun dialah teman terbaikku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya