Aku percaya bahwa cinta adalah fitrah (suci). Kepada siapa, di mana, dan kapan? Tak ada satu hal pun yang dapat memaksa ataupun mencegahnya. Termasuk apa yang aku rasakan saat ini. Beberapa orang menganggapku bodoh, sebagian menganggapku jahat, sebagiannya lagi membiarkanku begitu saja, dan sisanya tak ada yang tau karena dunia ini terlalu luas untuk semua orang tahu.

Bagaimana rasanya mencintai apa yang sudah lebih dulu dimiliki orang lain? Bagaimana rasanya rindu tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan sekedar mengungkapkannya pun dianggap tak bisa? Itu semua aku rasakan selama kurang lebih tiga tahun ini. Ketika aku merasa telah menemukan seseorang yang kuanggap tepat, secara bersamaan realita menamparku seakan berteriak tak tau malu. Kekasih yang sudah lebih dulu menggenggamnya, membuat aku bertanya-tanya tentang teori relativitas, apakah bisa digunakan? Rasanya, aku ingin kembali ke masalalu dan menemukannya lebih dulu.

Advertisement

Baiklah, kali ini biarkan egoku yang bercerita tentang dia, tentang apa yang terlanjur ia tanam di dalam dada, sehingga semesta tau bahwa rasaku tidaklah sederhana.

Sebagai seseorang yang hidup se-lingkungan dengannya, mungkin aku terbilang acuh sehingga terlambat tahu bahwa selama hampir dua tahun ini  kami berada di lingkungan yang sama. Sampai suatu hari ia memperkenalkan diri dan dari situlah kisah ini berawal.

Tak banyak yang tahu bahwa kami saling mengenal, dan kupikir hal ini memang patut dirahasiakan. Sedih, tapi aku merasa lebih menghargai hubungannya. Hubungan yang lebih nyata, yang lebih patut semua orang mengetahuinya. Dan aku? Mungkin tak begitu penting dunia tahu bahwa aku teman terdekatnya. Terlebih, dia laki-laki yang cukup dikenal di lingkungan kami. Semua orang tau siapa kekasihnya, dan akan terdengar aneh jika aku yang selama ini tak mengetahui tentangnya, dalam hitungan minggu bisa menjadi teman berbaginya.

Advertisement

Jujur, menjadi temannya tidaklah mudah. Beberapa kali aku mencoba membuka sedikit pada dunia tentang 'aku yang menjadi temannya', selalu berakhir pada peringatan bahwa aku harus berhati-hati karena ia telah dimiliki. Dan semua menjadi lebih rumit ketika aku mulai jatuh cinta padanya. Seakan keadaan menuntutku berjalan di tempat dan duduk di pojok terbelakang. Sejak saat itu, tak ada yang bisa aku lakukan, selain menikmati rasaku sendiri sambil berharap ia datang dengan perasaan yang berbeda.

Ketika pertemanan dan perasaan yang tumbuh ini menginjak satu tahun, akhirnya kami berada di universitas yang sama. Tentang hal itu, sebagai seseorang yang jatuh cinta, aku bahagia bisa berada di lingkungan yang sama dengannya. Setiap kali aku memperhatikan keadaan sekitar, aku seperti melihatnya dimana-mana. Kadang suka tersenyum sendiri saat melewati gerbang kampus. Aku selalu membayangkan ketika dia melewatinya juga. Begitupun ketika aku ke perpustakaan, ke kantin, aku seperti sedang bersama-sama dengan dia.

Harus dipahami juga bahwa dia sulit sekali ditemukan. Aku tidak tau bagaimana mungkin lingkungan kampus yang tidak begitu luas, tidak mampu mempertemukanku dengan dia. Kadang jengkel sendiri saat sudah rindu tapi tak  kunjung temu. Namun, bukan berarti temu itu tidak pernah ada. Harus aku ceritakan bahwa terkadang ia mengajakku walau hanya sekedar makan.

Untuk hal itu, percayalah, aku bahagia. Aku sangat menikmati setiap detik bersamanya. Bahkan, hanya sekedar duduk-duduk tanpa ada kata pun aku selalu merasa bersyukur karena masih bisa menghirup udara yang sama.

Aku tidak tau tentang benar atau tidaknya perasaan ini. Terlebih aku tau bahwa ia telah dimiliki. Aku hanya merasa bahwa aku berhak atas rasaku. Seperti kataku, bahwa cinta bukanlah sesuatu yang dapat dipaksa atau dicegah keberadaanya. Sejauh ini tak ada sekalipun pikiran kotor untuk berusaha merebutnya, semua yang aku lakukan hanya upaya memberitahu dia bahwa aku juga menyayanginya.

Dan pada suatu hari, aku pun hilang kendali. Kupikir aku sudah punya banyak bukti untuk meyakinkan diriku bahwa ia mencintaiku. Tentang kebersamaan, canda tawa, bahkan kebiasaan kami saling memberi kabar satu sama lain. Akan menjadi sangat lucu ketika tiba-tiba dia bilang bahwa kami hanya sekedar "teman". Dan hal itu benar-benar dia katakan. Beberapa menit setelah rasaku ku ungkapkan.

Setelah menangis, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan selain tertawa kemudian untuk meyakinkan diri sendiri bahwa menjadi temannya pun tak begitu buruk, asalkan masih tetap  dengannya.

Sejak saat itu sampai detik aku menulis ini, aku memilih jalanku untuk tetap berada di sisinya sebagai apa yang ia sebut dengan ‘teman’. Ingin tau kenapa? Karena rasaku jauh lebih hebat dari sekedar patah hati karena tak terbalas.

Dengan kata, kuabadikan perasaanku. Dan semesta, semoga engkau tahu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya